Review Film: Time to Hunt

CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2020 19:30 WIB
Film Time to Hunt Keindahan serta kecanggihan Korea Selatan yang selama ini dipamerkan dalam sebagian besar drama juga film tak akan terlihat dalam Time to Hunt. (dok. Little Big Pictures/Netflix via HanCinema)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keindahan serta kecanggihan Korea Selatan yang selama ini dipamerkan dalam sebagian besar drama juga film tak akan terlihat dalam Time to Hunt. Film ini menampilkan sisi gelap serta kejatuhan dari negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-12 di dunia itu.

Time to Hunt merupakan film laga thriller yang menceritakan krisis ekonomi global dan amat berdampak ke Korea Selatan serta membuat negara tersebut dipenuhi kemiskinan. Hal tersebut membuat Joon-seok (Lee Je-hoon) menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Keinginan tersebut membuahkan rencana kejahatan besar yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Rencana itu akhirnya terealisasi berkat bantuan ketiga temannya, yakni Ki-hoon (Choi Woo-shik), Jang-ho (Ahn Jae-hong), serta Sang-soo (Park Jung-min).


Alih-alih bahagia, empat sahabat tersebut malah harus menghadapi ancaman yang tak pernah dibayangkan karena tak sengaja mengambil sesuatu yang membahayakan elite pemerintahan.

Jalan cerita seperti itu tampaknya menjadi alasan tampilan awal Time to Hunt tak memiliki nuansa Korea seperti film kebanyakan.

Nuansa Hollywood begitu terlihat dan terdengar di bagian-bagian awal film ini, mulai dari pemilihan musik, kostum, lingkungan, hingga hal-hal yang dilakukan pemain pendukung.

Selain itu, kondisi keruntuhan Korea Selatan seperti perompakan, hancurnya nilai tukar, juga ditonjolkan melalui percakapan para pemeran utama ini.

Oleh sebab itu, sebaiknya para penggemar, terutama kaum Hawa, jangan berharap banyak bisa melihat keempat tokoh utama tampil bersih dan begitu menawan seperti drama atau film lainnya. Mereka akan tampil begitu urakan dalam Time to Hunt.

Review Film: Time to HuntKeindahan serta kecanggihan Korea Selatan yang selama ini dipamerkan dalam sebagian besar drama juga film tak akan terlihat dalam Time to Hunt. (dok. Netflix)
Namun, tampilan dan nuansa gelap seperti itu bukan hal baru bagi Park Jung-min. Ia sebelumnya sudah bermain film bernuansa serupa seperti Tazza: One Eyed Jack dan Start-Up.

Judul Time to Hunt sesungguhnya mendeskripsikan keseluruhan film ini. Perburuan menjadi fokus utama film ini sejak awal hingga akhir mulai dari memburu mimpi, memburu uang, memburu kebahagiaan, hingga memburu lawan.

Ditambah dengan skoring serta sinematografi yang baik, Time to Hunt lebih terasa seperti film horor dibandingkan film laga.

Namun fokus pada perburuan membuat beberapa bagian film terasa kurang, bahkan hilang. Tak sedikit sebab dan akibat kejadian dalam Time to Hunt dibebaskan begitu saja kepada asumsi serta imajinasi penonton. Hal itu menjadi catatan kecil yang mungkin bisa sedikit mengganggu ketika menonton.

[Gambas:Youtube]

Kendati demikian, Time to Hunt juga menyelipkan pesan-pesan mendalam seperti harus tetap bisa bermimpi dan memiliki harapan di tengah kesulitan, nilai keluarga dan orang tua, serta persahabatan di tengah suka dan duka.

Secara garis besar, Time to Hunt menawarkan suatu gambaran baru mengenai Korea Selatan. Apabila ingin melihat Lee Je-hoon, Choi Woo-shik, Ahn Jae-hong, serta Park Jung-min tampil bak berandal, Time to Hunt menjadi film yang tepat untuk ditonton.

Time to Hunt tayang sejak 23 April dan bisa disaksikan di Netflix. Sinopsis Time to Hunt bisa dibaca di sini. (chri/end)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK