Labuhan Merapi yang Sederhana dan Sepi di Masa Pandemi

CNN Indonesia | Selasa, 16/03/2021 00:53 WIB
Untuk kali kedua di masa pandemi Covid-19, upacara Labuhan Merapi tak lagi dihadiri masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Para abdi dalem Keraton Yogyakarta dipimpin Juru Kunci Merapi Mas Wedono Suraksohargo Asihono atau akrab disapa Mas Asih mengantarkan ubarampe untuk prosesi Labuhan Merapi, Senin (15/3). (CNNIndonesia/Tunggul Damarjati)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sederhana dan khidmat, ungkapan yang melukiskan suasana prosesi upacara adat Labuhan Merapi tahun ini, di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Rabu (15/3) pagi.

Upacara adat sebagai bagian dari peringatan Jumenengan Dalem. Upacara naik takhta Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-32 ini terselenggara tanpa melibatkan banyak abdi dalem keraton maupun masyarakat.

Pandemi Covid-19 dan status Siaga (level III) Gunung Merapi adalah dua hal yang melatarbelakanginya. Namun, langkah para abdi dalem tak surut demi terselenggaranya upacara yang memiliki makna mempersembahkan doa kepada Tuhan serta penghormatan bagi leluhur Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Juru Kunci Merapi Mas Wedono Suraksohargo Asihono atau akrab disapa Mas Asih menjelaskan, hanya ada 30 orang termasuk abdi dalem keraton dan beberapa pendamping dari regu SAR yang dilibatkan dalam upacara Labuhan Merapi tahun ini.

"Jadi masa pandemi ini dibatasi karena juga kondisi merapi Siaga (Level III). Jadi, yang bisa naik dan diwajibkan naik hanya 30 orang. Selain itu tidak boleh naik," ungkap Mas Asih sebelum prosesi Labuhan Merapi di Pendopo Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, Umbulharjo, Sleman, Senin (15/3).

Mereka yang diperkenankan naik wajib memenuhi persyaratan sehat jasmani dan rohani. Ditambah bermental tangguh.

"Mental harus kuat karena mungkin di atas nanti ada suara guguran lava dan lain sebagainya, jangan nanti sudah sampai di sana, bingung. Nanti takut dan lain sebagainya, itu nggak malah nanti mengganggu labuhan," beber Mas Asih.

Mas Asih pun mengungkap Labuhan Merapi kali ini tak ubahnya seperti prosesi tahun lalu yang terpaksa mengalah karena pandemi Covid-19. Digelar tanpa pementasan wayang kulit semalam suntuk dan tahlilan dengan jumlah peserta terbatas.

Mbah Asih pun meminta seluruh pihak bersabar, menahan diri serta menaati kebijakan yang telah ditentukan.

"Sekali lagi kami mohon pengertiannya, karena demi keselamatan bersama," ia melanjutkan.

Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta membawa uba rampe menuju Bangsal Sri Manganti, Gunung Merapi, saat prosesi Labuhan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta, Rabu (20/5). Upacara adat tahunan Keraton Ngayogyakarta itu menjadi bentuk syukur kepada Tuhan  atas segala kelimpahan dan keselamatan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/Rei/Spt/15.Sejumlah abdi dalem Keraton Ngayogyakarta membawa uba rampe menuju Bangsal Sri Manganti, Gunung Merapi, saat prosesi Labuhan Gunung Merapi di Sleman tahun lalu. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Prosesi ini sendiri dimulai sejak Minggu (14/3). Diawali agenda serah terima ubarampe atau sesaji Labuhan Merapi dari Keraton Yogyakarta kepada Juru Kunci Merapi.

Acara penyerahan mengambil tempat di Kantor Kecamatan Depok, Sleman sebelum diantar ke Kantor Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Uba rampe termaksud, meliputi kain yakni sinjang cangkring, sinjang kawung kemplang, semekan gadhung, semekan gadhung melati, semekan banguntulak, kampuh poleng ciut, dhestar daramuluk, paningset udaraga, dan arta tindih. Masing-masing jenis sebanyak satu lembar.

Prosesi Labuhan Merapi tahun ini termasuk labuhan alit, lantaran tak berberangan dengan tahun Dal. Sehingga ubarampe kambil wacangan yang menyerupai pelana kuda ini tak diikutsertakan.

Iring-iringan para abdi dalem keraton terpantau mulai bergerak menuju lokasi labuhan di Bangsal Sri Manganti yang terletak di Pos 1 Merapi pukul 06.40 WIB. Di tempat itulah ubarampe yang diletakkan ke dalam peti berwarna merah berukuran 30x15 sentimeter, dilabuh usai semalaman disemayamkan di Kinahrejo.

Untuk prosesi tahun ini, peserta yang diperkenankan hanya boleh mengikuti sampai Pertigaan Tugu Rudal. Sementara para abdi dalem melanjutkan langkahnya hingga Sri Manganti untuk melalukan doa bersama dipimpin oleh Juru Kunci Merapi.

Labuhan Merapi dalam sejarahnya digelar selaku syarat penepatan janji antara Sultan Hamengku Buwono I kepada Eyang Sapu Jagad. Diyakini dahulu kala tercipta sebuah perjanjian antara keduanya agar tiap tahun digelar Labuhan Merapi hingga turun-temurun.

Labuhan Merapi sebelum erupsi Gunung Merapi tahun 2010 digelar di pos II atau pos rudal. Namun, buntut erupsi kala itu jalur pendakian menuju pos rudal rusak hingga sukar dilalui.

Sejak saat itu, lokasi Labuhan dipindah ke Bangsal Sri Manganti yang memiliki jarak kurang lebih tiga kilometer dari petilasan Mbah Marijan.

(kum/bac)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK