Kritik dan Review, Bukti Timbal Balik Wacana di Industri Film
CNN Indonesia
Minggu, 29 Agu 2021 11:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Review film atau ulasan adalah bukti bahwa karya dan penilaian terhadapnya adalah hubungan timbal balik yang wajar dalam sebuah ekosistem. (Foto: Istockphoto/EvgeniyShkolenko)
Jakarta, CNN Indonesia --
Namanya juga karya, salah satu muaranya pasti penerima. Sama halnya film, segala upaya, daya, dan biaya yang dikeluarkan tibanya akan di penonton juga.
Film tak menyoal eksakta. Jika sang seniman bebas karya, maka si penerima pun bebas nilai. Interpretasi terhadap karya akan diterima dengan bias individu.
Itu yang rupanya mendasari pengulas film atau reviewers dalam menyampaikan wacana. Kejujuran, jadi kunci bagi Rasyid Baihaqi di kesehariannya mengulas film.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jujur dong," jawab Rasyid pada CNNIndonesia.com, Kamis (26/8) ketika ditanya seberapa jujur ia ketika mengulas sebuah karya.
"Biasanya kalau niat review, sengaja enggak baca, nonton, atau dengar review orang lain dulu. Jadi enggak terpengaruh review-nya. Setelah review, baru deh cari sudut pandang orang lain." ujarnya mengisahkan proses review film.
Mulanya dari sekadar tugas. Namun, kini Rasyid mengaku mulai terbiasa mengulas film. Baginya, giat tersebut seperti naluriah.
Ia bahkan mengaku "geregetan kalau habis nonton film jelek." Ia ingin berbagi perspektif yang ia rasakan terhadap suatu film, kemudian menyalurkannya perspektif tersebut pada pembaca karya ulasannya.
"Kalau filmnya bagus, pengin orang lain merasakan hal yang sama juga. Entah itu senang, sedih, seram, apa punlah."
Sadar bahwa review ataupun kritikan yang ia buat bisa saja disadari keberadaannya oleh sang kreator film, Rasyid mengaku ada kehati-hatian yang ia rasakan. Namun, bukan rasa takut.
"Hati-hati dalam arti lebih cermat lagi kritiknya. Kalau takut sih enggak, toh niatnya bukan menjelek-jelekan." ujar Rasyid, yang beberapa ulasannya pernah sampai ke telinga kreator film yang diulas.
"Supaya dia lebih serius lagi bikin filmnya. Banyak yang bilang hubungan filmmaker dan kritikus itu kayak sparing partner." lanjutnya.
Tak terbayangkan bagi Rasyid, film hidup tanpa testimoni penonton. Baginya, jika dikelola dengan baik, testimoni secara kolektif bisa jadi 'bahan bakar' untuk filmmaker.
"Timbal balik ini menurutku penting untuk jadi bahan bakar filmmaker untuk bikin film lebih baik lagi. Awalnya komentar-komentar santai tapi jika ditulis lebih serius dan fokus pasti akan jadi kritik yang baik."
Simak tanggapan sutradara soal kehadiran review dan kritik film di halaman berikutnya..
Hal serupa pun diamini oleh Andibachtiar Yusuf, sutradara di balik film-film seperti Love For Sale, Romeo & Juliet, Bridezilla, dan banyak lainnya. Baginya, kritik itu tanda sayang.
"Seniman atau filmmaker perlu kritikus untuk tahu dia musti berkembang lagi atau enggak. Dikritik itu tanda disayang, kalo sudah enggak disayang, bakal dicuekin." jawab Andibachtiar Yusuf atau biasa disapa Ucup, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/8).
"Hidup kan dua sisi, Yin dan Yang. Ada watchdog-lah kalau di pers" ucapnya.
Bukan tanpa sakit hati ketika Ucup menerima ulasan negatif terhadap filmnya. Namun, baginya ulasan atau kritik film itu sinyal bahwa filmnya ada dan dinilai beragam oleh penonton.
"Bete sih [terhadap ulasan negatif], tapi seingat gue waktu itu respons seketika gue adalah: 'Syukurlah ada yang enggak suka'," ujarnya, ketika mengisahkan kritik yang ia terima untuk film Romeo & Juliet (2009).
Ia mengaku termasuk sutradara atau filmmaker yang cukup sadar atas kapasitas film yang ia buat. Hal itu membuat dirinya bisa menerima kritik. Ketika filmnya disebut "jelek", ia mengaku tau sebabnya.
Ucup menyebut dirinya cenderung cuek terhadap kritik yang ditujukan atas karya-karyanya. Namun ia menegaskan bukan sosok yang "anti-kritik".
Meski tak begitu hirau, ulasan film ternyata punya peran dalam jalan Ucup berkarya. Dengan adanya review, ia sadar dan paham dengan apa yang dikerjakan.
"Gue suka kok dikritik-kritik gitu, membuat gue merasa ada orang yang memperhatikan apa yg gue buat. Orang care dan sudi meluangkan waktu untuk nonton dan sisihkan waktunya untuk kasih komentar." ujarnya.
Lebih dari itu, baginya review, ulasan, dan kritik adalah alasan atas apa yang ia buat. "Review yang baik bisa membuat gue sadar apa yang sebenarnya gue sedang buat." kata Andibachtiar Yusuf.
Jakarta, CNN Indonesia --
Namanya juga karya, salah satu muaranya pasti penerima. Sama halnya film, segala upaya, daya, dan biaya yang dikeluarkan tibanya akan di penonton juga.
Film tak menyoal eksakta. Jika sang seniman bebas karya, maka si penerima pun bebas nilai. Interpretasi terhadap karya akan diterima dengan bias individu.
Itu yang rupanya mendasari pengulas film atau reviewers dalam menyampaikan wacana. Kejujuran, jadi kunci bagi Rasyid Baihaqi di kesehariannya mengulas film.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jujur dong," jawab Rasyid pada CNNIndonesia.com, Kamis (26/8) ketika ditanya seberapa jujur ia ketika mengulas sebuah karya.
"Biasanya kalau niat review, sengaja enggak baca, nonton, atau dengar review orang lain dulu. Jadi enggak terpengaruh review-nya. Setelah review, baru deh cari sudut pandang orang lain." ujarnya mengisahkan proses review film.
Mulanya dari sekadar tugas. Namun, kini Rasyid mengaku mulai terbiasa mengulas film. Baginya, giat tersebut seperti naluriah.
Ia bahkan mengaku "geregetan kalau habis nonton film jelek." Ia ingin berbagi perspektif yang ia rasakan terhadap suatu film, kemudian menyalurkannya perspektif tersebut pada pembaca karya ulasannya.
"Kalau filmnya bagus, pengin orang lain merasakan hal yang sama juga. Entah itu senang, sedih, seram, apa punlah."
Sadar bahwa review ataupun kritikan yang ia buat bisa saja disadari keberadaannya oleh sang kreator film, Rasyid mengaku ada kehati-hatian yang ia rasakan. Namun, bukan rasa takut.
"Hati-hati dalam arti lebih cermat lagi kritiknya. Kalau takut sih enggak, toh niatnya bukan menjelek-jelekan." ujar Rasyid, yang beberapa ulasannya pernah sampai ke telinga kreator film yang diulas.
"Supaya dia lebih serius lagi bikin filmnya. Banyak yang bilang hubungan filmmaker dan kritikus itu kayak sparing partner." lanjutnya.
Tak terbayangkan bagi Rasyid, film hidup tanpa testimoni penonton. Baginya, jika dikelola dengan baik, testimoni secara kolektif bisa jadi 'bahan bakar' untuk filmmaker.
"Timbal balik ini menurutku penting untuk jadi bahan bakar filmmaker untuk bikin film lebih baik lagi. Awalnya komentar-komentar santai tapi jika ditulis lebih serius dan fokus pasti akan jadi kritik yang baik."
Simak tanggapan sutradara soal kehadiran review dan kritik film di halaman berikutnya..
Kritik Film Jadi Alasan Bahwa Karya itu Ada
Film Love for Sale yang disutradarai Andibachtiar Yusuf (Foto: Dok. Visinema Pictures)
Hal serupa pun diamini oleh Andibachtiar Yusuf, sutradara di balik film-film seperti Love For Sale, Romeo & Juliet, Bridezilla, dan banyak lainnya. Baginya, kritik itu tanda sayang.
"Seniman atau filmmaker perlu kritikus untuk tahu dia musti berkembang lagi atau enggak. Dikritik itu tanda disayang, kalo sudah enggak disayang, bakal dicuekin." jawab Andibachtiar Yusuf atau biasa disapa Ucup, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/8).
"Hidup kan dua sisi, Yin dan Yang. Ada watchdog-lah kalau di pers" ucapnya.
Bukan tanpa sakit hati ketika Ucup menerima ulasan negatif terhadap filmnya. Namun, baginya ulasan atau kritik film itu sinyal bahwa filmnya ada dan dinilai beragam oleh penonton.
"Bete sih [terhadap ulasan negatif], tapi seingat gue waktu itu respons seketika gue adalah: 'Syukurlah ada yang enggak suka'," ujarnya, ketika mengisahkan kritik yang ia terima untuk film Romeo & Juliet (2009).
Ia mengaku termasuk sutradara atau filmmaker yang cukup sadar atas kapasitas film yang ia buat. Hal itu membuat dirinya bisa menerima kritik. Ketika filmnya disebut "jelek", ia mengaku tau sebabnya.
Ucup menyebut dirinya cenderung cuek terhadap kritik yang ditujukan atas karya-karyanya. Namun ia menegaskan bukan sosok yang "anti-kritik".
Meski tak begitu hirau, ulasan film ternyata punya peran dalam jalan Ucup berkarya. Dengan adanya review, ia sadar dan paham dengan apa yang dikerjakan.
"Gue suka kok dikritik-kritik gitu, membuat gue merasa ada orang yang memperhatikan apa yg gue buat. Orang care dan sudi meluangkan waktu untuk nonton dan sisihkan waktunya untuk kasih komentar." ujarnya.
Lebih dari itu, baginya review, ulasan, dan kritik adalah alasan atas apa yang ia buat. "Review yang baik bisa membuat gue sadar apa yang sebenarnya gue sedang buat." kata Andibachtiar Yusuf.