Kim Yong Woon
Bekerja di Kedutaan Besar Republik Korea pada tahun 2013~2016, dan pada bulan April 2020 ditugaskan kembali ke Indonesia sebagai Direktur Korean Cultural Center Indonesia. Ia adalah penggemar berat Liga Bisbol Korea.

'Annyeonghaseyo', Nasi Goreng dan Masa Depan Indonesia-Korea

Kim Yong Woon | CNN Indonesia
Senin, 05 Sep 2022 09:00 WIB
Generasi muda dan pebisnis asal Korea Selatan menilai bahasa Indonesia menjadi penting untuk mengenal budaya Nuasantara hingga berbisnis di Tanah Air.
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah hampir 18 tahun saya belajar bahasa Indonesia. Saya masih ingat waktu pertama kali mendapati buku pelajaran bahasa Indonesia pada musim panas pada 2004. Buku pelajaran yang diletakkan di rak buku bahasa asing di sebuah toko buku di Seoul tersebut menjadi jendela dunia baru bagi saya.

Dari beberapa kosakata yang saya hafal pada awal pembelajaran bahasa Indonesia, yang paling menarik adalah 'orang utan.' Hewan yang sering saya tonton di acara televisi bertemakan satwa itu ternyata sebutannya diambil dari bahasa Indonesia. Penampakan hewan tersebut memang seperti 'orang' dan tinggal di 'hutan'.

Pembentukan kata 'orang hutan' sungguh menarik.

Pengucapan 'bapak', 'kakak' juga awalnya asing di telinga saya. Bentuk jamak seperti 'anak-anak', 'buku-buku' atau kata ulang seperti 'gara-gara', 'cepat-cepat', 'kupu-kupu' terdengar lucu dan menjadi menarik setelah saya mempelajari artinya. Tidak hanya menarik dari segi linguistik, bahasa Indonesia juga merupakan bahasa pemersatu negara kepulauan dengan jumlah penduduk 280 juta jiwa.

Ketertarikan saya terhadap bahasa Indonesia begitu besar.

Waktu saya baru mulai belajar bahasa Indonesia, berbahasa Indonesia bagi seorang aparat sipil negara Korea Selatan adalah suatu hal yang sangat langka. Nyaris tidak memiliki kompetitor, saya memperoleh kesempatan mulia untuk ditugaskan ke Indonesia, tidak hanya sekali namun dua kali.

Penugasan pertama, yaitu pada 2013-2016, saya bekerja di Kedutaan Besar Republik Korea untuk Indonesia. Setelah itu, pada 2020 sampai sekarang, saya mengemban tugas sebagai Direktur Korean Cultural Center Indonesia di Jakarta. Atas dua mandat tersebut, saya dapat bekerja menjembatani kegiatan pertukaran antara Korea dan Indonesia. Bahasa Indonesia membantu saya untuk menggapai dunia baru.

Kpop TVXQ menghibur pentonton di Trans Studio Cibubur, Jumat, 21 Februari 2020.Gelombang KPop di Tanah Air. (Foto: CNN Indonesia/ Christie Stefanie)

Bukan hanya saya yang mendapat keuntungan dari belajar bahasa Indonesia, banyak tamatan jurusan bahasa Indonesia di beberapa universitas di Korea mendapat kesempatan untuk bekerja di berbagai bidang yang berkaitan dengan Indonesia termasuk dunia bisnis.

Para pelaku usaha asal Korea yang berniat memasuki pasar Indonesia pun memandang, penting sekali untuk belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu sebelum berbisnis di Indonesia.

Pintu Gerbang Indonesia-Korea

Bahasa Indonesia menjadi media penting dalam melakukan kegiatan pertukaran antarwarga Korea dan Indonesia. Belajar bahasa Indonesia ibarat 'pintu gerbang' bagi orang Korea untuk lebih memahami dan mendalami masyarakat dan kebudayaan Indonesia.

Semakin banyak orang Korea yang bisa berbahasa Indonesia, semakin dalam pemahaman masyarakat Korea terhadap Indonesia termasuk kebudayaannya.

Nasi goreng, makanan khas di negara ini, pun tidak asing lagi di Korea. Nasi goreng sudah sering dapat ditemukan di restoran di Korea. Saat ini banyak orang Korea yang menggemari budaya Indonesia, seperti batik dan tarian kecak, serta ingin melancong ke Indonesia.

Sementara itu, banyak juga orang Indonesia yang tertarik untuk belajar bahasa Korea. Fenomena tersebut sejalan dengan kian populernya budaya Korea di Indonesia.

Saya sering disapa dengan ucapan annyeonghaseyo oleh orang-orang Indonesia yang sering saya temui sehari-hari. Bahkan banyak orang Indonesia yang bisa mengucapkan kosakata populer seperti mukbang dan daebak.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak sekali penggemar Hallyu yang belajar bahasa Korea secara otodidak sembari menonton drakor alias drama Korea. Ada pula generasi muda Indonesia yang bersemangat untuk belajar bahasa Korea secara sistematis melalui program studi jurusan bahasa Korea di universitas atau King Sejong Institute di Indonesia.

Keuntungan bagi pembelajar bahasa Korea adalah, tidak sebatas bisa menghayati lirik lagu K-pop yang digandrunginya dan memahami adegan-adegan drakor tanpa teks saja, tetapi juga bisa mendapat pekerjaan di perusahaan Korea di Indonesia maupun di Korea.

Bahasa Korea dan bahasa Indonesia menjadi penghubung yang sangat baik bagi kedua masyarakat dalam menjaga persahabatan yang saling memahami dan menguntungkan. Saya mengajak generasi muda dari Korea dan Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia dan Korea. Sekarang, giliran generasi muda yang menguasai bahasa Korea dan bahasa Indonesia untuk menggapai dunia baru.

(asa/asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER