Apakah Etis Baim Wong Jual Kemiskinan Demi Konten?
CNN Indonesia
Selasa, 06 Sep 2022 19:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengamat sosial budaya menyorot dampak dan hal yang mesti diperhatikan content creator dalam membuat konten. (Foto: Ismail/detikFoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Baru-baru ini aksi Baim Wong diprotes netizen karena mengungkap identitas seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berkutu di Karanganyar, Jawa Tengah.
Netizen menilai sikap Baim itu tidak memikirkan perasaan sanga anak. Pasalnya, wajah, nama, hingga alamat rumah anak tersebut ditampilkan secara jelas dalam video yang diunggah di YouTube Baim Wong.
Terkait konten Baim tersebut, pengamat sosial budaya Devie Rahmawati mengungkapkan empat hal yang perlu diperhatikan content creator dalam memproduksi konten.
Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah budaya. Menurut Devie, konten juga perlu menyesuaikan budaya setempat.
Konten yang mengeksploitasi kekurangan seseorang, seperti yang dilakukan Baim, perlu ditinjau kembali apakah sesuai dengan budaya Indonesia.
"Apakah mengeksploitasi kekurangan itu merupakan budaya Indonesia? 'Kan itu pertanyaannya," tuturnya.
Ketiga, content creator juga mesti mempertimbangkan keamanan subjek maupun objek yang ditampilkan. Devie berujar konten anak SD berkutu di Jawa Tengah yang viral harus memikirkan efek jangka panjang bagi sang anak.
"Apakah konten tersebut aman buat sang anak? Suatu hari di masa depan?" ujar Devie.
Terakhir adalah soal keterampilan. Content creator, menurut Devie, tidak boleh hanya menguasai keterampilan teknis pembuatan konten. Para kreator juga harus menguasai tiga aspek sebelumnya.
"Karena ada dasar-dasar yang sifatnya universal, tidak peduli bangsanya di mana, tidak peduli sukunya di mana, kita semua punya nilai-nilai yang universal terkait etika, budaya, dan keamanan," papar Devie.
Lanjut ke sebelah...
Devie Rahmawati juga menyoroti para content creator yang gemar merekam momen mereka yang tengah memberikan bantuan kepada orang-orang yang kurang mampu.
Menurutnya, konten jenis itu memiliki beberapa dampak. Pertama, konten tersebut bakal menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat baik.
Sementara, dampak lainnya adalah berisiko mendorong orang yang kurang mampu itu hanya berharap mendapatkan bantuan.
"Dampak yang kedua adalah membuat orang berpikir secara sederhana bahwa untuk keluar dari persoalan tantangan ekonomi, misalnya, cukup dengan menunggu bantuan," kata Devie.
"Harusnya kita memastikan bahwa konten-konten kita itu bisa memberikan dampak positif. Artinya konten tersebut tidak mendorong orang kemudian tidak mau mengubah hidupnya," pungkas dia.
Sebelumnya, seorang anak SD di Karanganyar viral karena memiliki banyak kutu di rambutnya. Video tersebut menarik perhatian publik lantaran guru sekolahnya tampak cekatan dan tak jijik ketika menyisir dan membersihkan kutu dari kepala gadis itu.
Sang guru juga diapresiasi karena menghormati muridnya dengan tidak mengungkap identitas siswi SD yang bersangkutan.
Sikap guru ini berbeda dengan tindakan Baim Wong. Baim dalam kontennya justru menampilkan wajah sang anak, meski dia sudah menyatakan malu disorot kamera.
Alih-alih memalingkan kamera, Baim justru meminta anak tersebut untuk tidak malu menampilkan wajahnya di konten miliknya tersebut.
Baru-baru ini aksi Baim Wong diprotes netizen karena mengungkap identitas seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berkutu di Karanganyar, Jawa Tengah.
Netizen menilai sikap Baim itu tidak memikirkan perasaan sanga anak. Pasalnya, wajah, nama, hingga alamat rumah anak tersebut ditampilkan secara jelas dalam video yang diunggah di YouTube Baim Wong.
Terkait konten Baim tersebut, pengamat sosial budaya Devie Rahmawati mengungkapkan empat hal yang perlu diperhatikan content creator dalam memproduksi konten.
Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah budaya. Menurut Devie, konten juga perlu menyesuaikan budaya setempat.
Konten yang mengeksploitasi kekurangan seseorang, seperti yang dilakukan Baim, perlu ditinjau kembali apakah sesuai dengan budaya Indonesia.
"Apakah mengeksploitasi kekurangan itu merupakan budaya Indonesia? 'Kan itu pertanyaannya," tuturnya.
Ketiga, content creator juga mesti mempertimbangkan keamanan subjek maupun objek yang ditampilkan. Devie berujar konten anak SD berkutu di Jawa Tengah yang viral harus memikirkan efek jangka panjang bagi sang anak.
"Apakah konten tersebut aman buat sang anak? Suatu hari di masa depan?" ujar Devie.
Terakhir adalah soal keterampilan. Content creator, menurut Devie, tidak boleh hanya menguasai keterampilan teknis pembuatan konten. Para kreator juga harus menguasai tiga aspek sebelumnya.
"Karena ada dasar-dasar yang sifatnya universal, tidak peduli bangsanya di mana, tidak peduli sukunya di mana, kita semua punya nilai-nilai yang universal terkait etika, budaya, dan keamanan," papar Devie.
Lanjut ke sebelah...
Dampak Rekam Momen Membantu Orang Lain
Pengamat sosial budaya menyorot dampak dan hal yang mesti diperhatikan content creator dalam membuat konten. (Foto: Ismail/detikFoto)
Devie Rahmawati juga menyoroti para content creator yang gemar merekam momen mereka yang tengah memberikan bantuan kepada orang-orang yang kurang mampu.
Menurutnya, konten jenis itu memiliki beberapa dampak. Pertama, konten tersebut bakal menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat baik.
Sementara, dampak lainnya adalah berisiko mendorong orang yang kurang mampu itu hanya berharap mendapatkan bantuan.
"Dampak yang kedua adalah membuat orang berpikir secara sederhana bahwa untuk keluar dari persoalan tantangan ekonomi, misalnya, cukup dengan menunggu bantuan," kata Devie.
"Harusnya kita memastikan bahwa konten-konten kita itu bisa memberikan dampak positif. Artinya konten tersebut tidak mendorong orang kemudian tidak mau mengubah hidupnya," pungkas dia.
Sebelumnya, seorang anak SD di Karanganyar viral karena memiliki banyak kutu di rambutnya. Video tersebut menarik perhatian publik lantaran guru sekolahnya tampak cekatan dan tak jijik ketika menyisir dan membersihkan kutu dari kepala gadis itu.
Sang guru juga diapresiasi karena menghormati muridnya dengan tidak mengungkap identitas siswi SD yang bersangkutan.
Sikap guru ini berbeda dengan tindakan Baim Wong. Baim dalam kontennya justru menampilkan wajah sang anak, meski dia sudah menyatakan malu disorot kamera.
Alih-alih memalingkan kamera, Baim justru meminta anak tersebut untuk tidak malu menampilkan wajahnya di konten miliknya tersebut.