Pengamat Sebut Konser di Indonesia Abai Kondisi Darurat
CNN Indonesia
Selasa, 07 Feb 2023 20:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengamat musik Wendi Putranto menilai proses penanganan kondisi darurat dan evakuasi luput disorot dalam menggelar konser berskala besar. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Konser Pesta Rakyat 30 Tahun Dewa 19 Berkarya menjadi sorotan banyak pihak buntut membludaknya 70 ribu lebih penonton setelah bubaran konser hingga memenuhi jalan dan melumpuhkan lalu lintas.
Bagi pengamat dan pelaku pertunjukan musik Wendi Putranto, ada persoalan lain yang juga luput disorot dalam menggelar konser berskala besar. Yaitu, proses evakuasi dan penanganan kondisi darurat.
Jika infrastruktur penunjang lokasi acara tidak dibenahi terlebih dahulu, kata Wendi, bakal ada risiko fatal yang bisa terjadi di masa depan. Ia menilai infrastruktur menjadi faktor utama keselamatan penonton jika terjadi keadaan darurat.
"Kalau ada keadaan darurat, seperti rubuh, kebakaran, atau gempa bumi, apakah 75 ribu penonton itu bisa keluar semua dengan aman dalam waktu cepat dan singkat? Ada titik kumpul yang aman enggak di sekitaran stadion untuk segitu banyak orang?" kata Wendi mengkritisi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon.
"Katakanlah kalau ada keadaan darurat, masa puluhan ribu orang ini mau ditaruh di gang-gang, di rumah penduduk? Kan enggak mungkin," lanjutnya sembari berkelakar.
"Kalau yang kayak kemarin [konser Dewa 19] ya itu mendekati bahaya sih. Karena enggak layak itu untuk dihadiri sebegitu banyak orang. Ini enggak ngomongin konsernya ya," tegas Wendi.
Untuk itu, ia mendesak agar setiap venue konser memiliki divisi pertunjukan profesional yang menangani penanganan kondisi darurat dan evakuasi.
Selain itu, divisi tersebut diharapkan mengerti seluk beluk pintu keluar-masuk stadion sehingga dapat membantu percepatan proses evakuasi.
"Jadi mereka tahu kapan harus mengevakuasi penonton ketika terjadi bencana atau insiden, kapan mereka harus mengarahkan, struktur koordinasinya juga," jelas Wendi.
Wendi menyarankan agar pembentukan divisi tersebut dapat diinisiasi oleh badan independen yang memiliki pengalaman di bidang pertunjukan.
"Nah, ini di Indonesia yang belum ada. Kita enggak punya itu venue yang jelas rencana evakuasinya seperti apa. Ini sudah mendesak untuk segera dibentuk," tegas Wendi.
"APMI [Asosiasi Promotor Musik Indonesia] mungkin bisa membentuk badan atau rekanan yang tujuannya untuk membidani lahirnya tim manajemen evakuasi dan emergency untuk konser berpenonton puluhan ribu kayak kemarin," imbaunya.
"Sebenarnya bukan hanya untuk jago crowd control, tapi juga harus mengerti untuk prosedur evakuasi dan penyelamatan," lanjutnya Wendi menekankan.
Imbauan dari Wendi di atas merujuk pada sejumlah keluhan dari penonton yang datang ke konser 30 tahun Dewa 19 di JIS, Jakarta Utara, pada Sabtu (4/2) lalu.
Selain tempat parkir yang terbatas, kebanyakan keluhan penonton mempermasalahkan akses menuju JIS yang sulit dijangkau transportasi umum.
Salah satu netizen Twitter dengan akun @adriansyahyasin, mengkritisi soal akses penonton menuju dan dari JIS. Ia juga membuat utas di Twitter.
"Menyelenggarakan acara besar di JIS ini bencana besar. 75.000 penonton bubaran dari stadion tanpa akses transportasi umum massal, tanpa parkir yang layak, bahkan tanpa akses trotoar yang layak," ujarnya.
"Keluar dari stadion langsung disambut jalan tak bertrotoar, akses bus shuttle yang enggak jelas. Buat apa stadion bagus tapi infrastruktur pendukungnya enggak ada sama sekali," tambahnya.
Utas tersebut pun viral dan menuai banyak tanggapan senada. Bahkan, ada penonton yang mengaku trauma usai menonton Dewa 19 karena ia kelelahan berjalan kaki dan mencari kendaraan untuk pulang dari JIS.
Konser Pesta Rakyat 30 Tahun Dewa 19 Berkarya menjadi sorotan banyak pihak buntut membludaknya 70 ribu lebih penonton setelah bubaran konser hingga memenuhi jalan dan melumpuhkan lalu lintas.
Bagi pengamat dan pelaku pertunjukan musik Wendi Putranto, ada persoalan lain yang juga luput disorot dalam menggelar konser berskala besar. Yaitu, proses evakuasi dan penanganan kondisi darurat.
Jika infrastruktur penunjang lokasi acara tidak dibenahi terlebih dahulu, kata Wendi, bakal ada risiko fatal yang bisa terjadi di masa depan. Ia menilai infrastruktur menjadi faktor utama keselamatan penonton jika terjadi keadaan darurat.
"Kalau ada keadaan darurat, seperti rubuh, kebakaran, atau gempa bumi, apakah 75 ribu penonton itu bisa keluar semua dengan aman dalam waktu cepat dan singkat? Ada titik kumpul yang aman enggak di sekitaran stadion untuk segitu banyak orang?" kata Wendi mengkritisi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon.
"Katakanlah kalau ada keadaan darurat, masa puluhan ribu orang ini mau ditaruh di gang-gang, di rumah penduduk? Kan enggak mungkin," lanjutnya sembari berkelakar.
"Kalau yang kayak kemarin [konser Dewa 19] ya itu mendekati bahaya sih. Karena enggak layak itu untuk dihadiri sebegitu banyak orang. Ini enggak ngomongin konsernya ya," tegas Wendi.
Untuk itu, ia mendesak agar setiap venue konser memiliki divisi pertunjukan profesional yang menangani penanganan kondisi darurat dan evakuasi.
Selain itu, divisi tersebut diharapkan mengerti seluk beluk pintu keluar-masuk stadion sehingga dapat membantu percepatan proses evakuasi.
"Jadi mereka tahu kapan harus mengevakuasi penonton ketika terjadi bencana atau insiden, kapan mereka harus mengarahkan, struktur koordinasinya juga," jelas Wendi.
Pengamat musik Wendi Putranto menilai proses penanganan kondisi darurat dan evakuasi luput disorot dalam menggelar konser berskala besar. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Wendi menyarankan agar pembentukan divisi tersebut dapat diinisiasi oleh badan independen yang memiliki pengalaman di bidang pertunjukan.
"Nah, ini di Indonesia yang belum ada. Kita enggak punya itu venue yang jelas rencana evakuasinya seperti apa. Ini sudah mendesak untuk segera dibentuk," tegas Wendi.
"APMI [Asosiasi Promotor Musik Indonesia] mungkin bisa membentuk badan atau rekanan yang tujuannya untuk membidani lahirnya tim manajemen evakuasi dan emergency untuk konser berpenonton puluhan ribu kayak kemarin," imbaunya.
"Sebenarnya bukan hanya untuk jago crowd control, tapi juga harus mengerti untuk prosedur evakuasi dan penyelamatan," lanjutnya Wendi menekankan.
Imbauan dari Wendi di atas merujuk pada sejumlah keluhan dari penonton yang datang ke konser 30 tahun Dewa 19 di JIS, Jakarta Utara, pada Sabtu (4/2) lalu.
Selain tempat parkir yang terbatas, kebanyakan keluhan penonton mempermasalahkan akses menuju JIS yang sulit dijangkau transportasi umum.
Salah satu netizen Twitter dengan akun @adriansyahyasin, mengkritisi soal akses penonton menuju dan dari JIS. Ia juga membuat utas di Twitter.
"Menyelenggarakan acara besar di JIS ini bencana besar. 75.000 penonton bubaran dari stadion tanpa akses transportasi umum massal, tanpa parkir yang layak, bahkan tanpa akses trotoar yang layak," ujarnya.
"Keluar dari stadion langsung disambut jalan tak bertrotoar, akses bus shuttle yang enggak jelas. Buat apa stadion bagus tapi infrastruktur pendukungnya enggak ada sama sekali," tambahnya.
Utas tersebut pun viral dan menuai banyak tanggapan senada. Bahkan, ada penonton yang mengaku trauma usai menonton Dewa 19 karena ia kelelahan berjalan kaki dan mencari kendaraan untuk pulang dari JIS.