Film ketiga Ant-Man itu memperkenalkan motivasi Kang the Conqueror sebagai villain utama The Multiverse Saga dengan baik.
Sayang sekali, film Quantumania ini secara keseluruhan sangat biasa saja. Padahal, film ini mengemban tanggung jawab untuk menjelaskan motivasi villain utama dari The Multiverse Saga.
Quantumania mesti berterima kasih kepada Jonathan Majors karena telah menyelamatkan film itu dari dinobatkan sebagai film MCU yang flop. Majors menguasai film itu dibanding dengan aktor yang seharusnya menjadi superhero yang menyelamatkan Quantumania.
Jonathan Majors yang berperan sebagai Kang the Conqueror membuktikan bahwa ia bisa menunjukkan wajah yang bervariasi.
Ketika muncul sebagai puncak plot dari serial Loki, ia diperkenalkan sebagai He Who Remains yang memiliki kepribadian flamboyan dan "omong melulu". Tapi, Majors berubah 180 derajat ketika ia memasang topeng Kang the Conqueror. Sang penakluk itu menjadi sosok yang depresif dan mengukur segala gerak-geriknya.
Jonathan Majors memberikan performa luar biasa sebagai Kang the Conqueror. (Marvel/Jay Maidment)
Baik Jonathan Majors dan Kahtryn Newton sama-sama menjadi pendatang baru dalam MCU, meskipun Majors muncul duluan di Loki. Namun, Majors lebih mencolok daripada Newton yang diperkenalkan sebagai Cassie, anak tunggal Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd.
Di situlah letak salah satu kekurangan Ant-Man and the Wasp: Quantumania. Dengan berat hati saya mesti mengatakan Newton tidak berhasil memiliki chemistry dengan Paul Rudd.
Hubungan Scott dengan Cassie dalam film-film MCU sebelumnya sangat manis sehingga saya punya ekspektasi akan mendapatkan rasa yang sama dalam Quantumania. Namun, saya tidak menemukan apa yang saya cari sepanjang film.
Meski sudah memiliki daftar film dan serial yang pernah dibintangi, akting Newton dalam film tersebut masih terbilang kaku. Beberapa dialognya dalam film itu pun cringe dan berceceran.
Lanjut ke sebelah...
Sama saja dengan yang terjadi dengan dialog-dialog yang diucapkan Hope van Dyne alias Wasp yang diperankan Evangeline Lilly. Tidak hanya dialognya, tapi keseluruhan peran Hope dalam Quantumania.
Wasp nyatanya tidak memiliki peran yang krusial sepanjang film, padahal namanya tersemat dalam judul Ant-Man and the Wasp: Quantumania. Ia hanya sekadar menjadi penyelamat Scott yang sedang dalam keadaan terpojok dan membantu ibunya, Janet van Dyne (Michelle Pfeiffer), yang terlibat dalam pusat konflik film tersebut.
Di samping karakter dan dialog yang cacat di sana-sini, setidaknya saya menikmati peradaban di dalam Quantum Realm. Dunia di dalam sana tampak mirip dengan dunia yang biasa ditemui Star Wars; peradaban yang asing, transportasi yang canggih, makhluk dengan segala bentuk-bahkan ada makhluk dengan kepala brokoli, hingga bahasa yang sama sekali baru.
Di luar itu, tidak ada yang istimewa dari Quantumania selain, lagi-lagi, performa Jonathan Majors sebagai Kang the Conqueror yang bisa dinikmati.
Percayalah, penonton mesti menonton ulang film-film MCU yang berhubungan setelah menonton Quantumania. Karena, fase kelima MCU ini semakin ke sini semakin memusingkan karena plot ceritanya semakin bercabang dan panjang.
Juga, jangan lupa untuk tetap setia duduk di kursi hingga credit benar-benar habis. Dari film berdurasi 2 jam 5 menit ini, plot yang paling penting malah ditaruh benar-benar di paling akhir. Tepatnya di dua post-credits scene.
Ant-Man and the Wasp: Quantumania sebenarnya bisa dipangkas menjadi sesingkat-singkat dan sepadat-padatnya, serta bisa langsung ke inti permasalahannya tanpa mengulur-ulur dialog demi memperpanjang durasi.
Karena, motivasi dan konflik utama yang dinantikan malah bukan berada di dalam konflik utama film itu.
Film ketiga Ant-Man itu memperkenalkan motivasi Kang the Conqueror sebagai villain utama The Multiverse Saga dengan baik.
Sayang sekali, film Quantumania ini secara keseluruhan sangat biasa saja. Padahal, film ini mengemban tanggung jawab untuk menjelaskan motivasi villain utama dari The Multiverse Saga.
Quantumania mesti berterima kasih kepada Jonathan Majors karena telah menyelamatkan film itu dari dinobatkan sebagai film MCU yang flop. Majors menguasai film itu dibanding dengan aktor yang seharusnya menjadi superhero yang menyelamatkan Quantumania.
Jonathan Majors yang berperan sebagai Kang the Conqueror membuktikan bahwa ia bisa menunjukkan wajah yang bervariasi.
Ketika muncul sebagai puncak plot dari serial Loki, ia diperkenalkan sebagai He Who Remains yang memiliki kepribadian flamboyan dan "omong melulu". Tapi, Majors berubah 180 derajat ketika ia memasang topeng Kang the Conqueror. Sang penakluk itu menjadi sosok yang depresif dan mengukur segala gerak-geriknya.
Jonathan Majors memberikan performa luar biasa sebagai Kang the Conqueror. (Marvel/Jay Maidment)
Baik Jonathan Majors dan Kahtryn Newton sama-sama menjadi pendatang baru dalam MCU, meskipun Majors muncul duluan di Loki. Namun, Majors lebih mencolok daripada Newton yang diperkenalkan sebagai Cassie, anak tunggal Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd.
Di situlah letak salah satu kekurangan Ant-Man and the Wasp: Quantumania. Dengan berat hati saya mesti mengatakan Newton tidak berhasil memiliki chemistry dengan Paul Rudd.
Hubungan Scott dengan Cassie dalam film-film MCU sebelumnya sangat manis sehingga saya punya ekspektasi akan mendapatkan rasa yang sama dalam Quantumania. Namun, saya tidak menemukan apa yang saya cari sepanjang film.
Meski sudah memiliki daftar film dan serial yang pernah dibintangi, akting Newton dalam film tersebut masih terbilang kaku. Beberapa dialognya dalam film itu pun cringe dan berceceran.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Ant-Man and the Wasp: Quantumania
Ant-Man and the Wasp: Quantumania mesti berterima kasih kepada Jonathan Majors karena telah menyelamatkan film itu. (Courtesy of Marvel Studios/Marvel Studios)
Sama saja dengan yang terjadi dengan dialog-dialog yang diucapkan Hope van Dyne alias Wasp yang diperankan Evangeline Lilly. Tidak hanya dialognya, tapi keseluruhan peran Hope dalam Quantumania.
Wasp nyatanya tidak memiliki peran yang krusial sepanjang film, padahal namanya tersemat dalam judul Ant-Man and the Wasp: Quantumania. Ia hanya sekadar menjadi penyelamat Scott yang sedang dalam keadaan terpojok dan membantu ibunya, Janet van Dyne (Michelle Pfeiffer), yang terlibat dalam pusat konflik film tersebut.
Di samping karakter dan dialog yang cacat di sana-sini, setidaknya saya menikmati peradaban di dalam Quantum Realm. Dunia di dalam sana tampak mirip dengan dunia yang biasa ditemui Star Wars; peradaban yang asing, transportasi yang canggih, makhluk dengan segala bentuk-bahkan ada makhluk dengan kepala brokoli, hingga bahasa yang sama sekali baru.
Di luar itu, tidak ada yang istimewa dari Quantumania selain, lagi-lagi, performa Jonathan Majors sebagai Kang the Conqueror yang bisa dinikmati.
Percayalah, penonton mesti menonton ulang film-film MCU yang berhubungan setelah menonton Quantumania. Karena, fase kelima MCU ini semakin ke sini semakin memusingkan karena plot ceritanya semakin bercabang dan panjang.
Juga, jangan lupa untuk tetap setia duduk di kursi hingga credit benar-benar habis. Dari film berdurasi 2 jam 5 menit ini, plot yang paling penting malah ditaruh benar-benar di paling akhir. Tepatnya di dua post-credits scene.
Ant-Man and the Wasp: Quantumania sebenarnya bisa dipangkas menjadi sesingkat-singkat dan sepadat-padatnya, serta bisa langsung ke inti permasalahannya tanpa mengulur-ulur dialog demi memperpanjang durasi.
Karena, motivasi dan konflik utama yang dinantikan malah bukan berada di dalam konflik utama film itu.