Taylor Swift Sebut 'Sampah' Kala Bahas Kanye West dan Scooter Braun
CNN Indonesia
Kamis, 07 Des 2023 19:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Taylor Swift belajar banyak dari perseteruannya dengan Kanye West dan Scooter Braun yang diketahui secara luas. (Getty Images via AFP/Mike Coppola)
Jakarta, CNN Indonesia --
Taylor Swiftbelajar banyak dari perseteruannya dengan Kanye West dan Scooter Braun yang berlangsung sejak lama. Dari dua pria itu, ia merasa karier dan musik sempat direnggut darinya.
Dalam wawancara dengan majalah TIME untuk edisi Person of the Year 2023, yang rilis pada Rabu (6/12), Taylor Swift menyebut dirinya kini tak mau ambil pusing dengan orang-orang tersebut.
"Tidak ada yang abadi," kata Taylor soal perseteruannya dengan West. "Jadi saya sangat berhati-hati untuk bersyukur setiap detik bahwa saya bisa melakukan ini, dengan level ini, karena saya pernah kehilangan semuanya sebelumnya,"
"Ada satu hal yang saya pelajari: respons saya kepada segalanya yang terjadi, baik ataupun buruk, adalah tetap berkarya. Tetap membuat karya seni," kata Swift.
"Namun saya juga belajar bahwasanya tak ada gunanya secara aktif mencoba beradu mengalahkan musuhmu. Sampah akan terbuang dengan sendirinya," lanjutnya.
Taylor Swift sudah berkonflik dengan Kanye West sejak 2009, ketika rapper itu secara terbuka merendahkan Taylor Swift saat memenangkan MTV VMA tahun itu.
Perseteruan mereka berlanjut pada 2016, ketika West dan Kim Kardashian mengklaim Swift sudah menyetujui lirik mengandung kata "b**ch" untuk Taylor Swift dalam lagu Famous.
Namun Swift menolak klaim tersebut yang kemudian dibalas Kim Kardashian dengan sebuah video yang menggambarkan seolah Swift memang menyetujui dan membuat Taylor dihujat netizen.
Keterpurukan Swift kemudian ia coba angkat menjadi karya seni dalam bentuk album reputation (2017). Hingga pada beberapa tahun lalu, sebuah video utuh percakapan Kanye West dan Taylor Swift bocor dan membenarkan ucapan Swift.
Sementara itu, Scooter Braun adalah orang yang membeli label lama Swift, Big Machine Records, bersama dengan seluruh katalog musiknya pada 2018 dengan harga US$300 juta.
Lanjut ke sebelah...
Swift yang saat itu sudah keluar dari Big Machine mengklaim bahwa ia tidak pernah diizinkan untuk membeli master lagunya sendiri. Ia pun marah ketika musiknya justru dibeli oleh Braun, sosok yang ia anggap sebagai dalang seluruh perundungan yang ia terima.
"Terkait Scooter, master-master saya dijual ke seseorang yang secara aktif menginginkan itu untuk alasan yang jahat, menurut saya," kata Swift. "[Kala itu] saya merasa, 'Oh, mereka membuat saya kalah sekarang. Inilah. Saya tidak tahu harus berbuat apa',"
Hingga kemudian, ia memilih untuk terus berkarya dengan merilis sejumlah album baru, yakni Lover (2019), folklore (2020), dan evermore (2020). Namun ia juga bergerak untuk mengambil kembali haknya atas musik-musik yang dijual ke Scooter Braun.
Swift pada 2019 mengumumkan rencana merekam ulang enam album yang dijual ke Scooter Braun oleh Big Machine.
Album rekam ulang yang diberi label "Taylor's Version" itu sejauh ini sudah ada empat, yakni Fearless Taylor's Version (2021), Red Taylor's Version (2021), Speak Now Taylor's Version (2023), dan 1989 Taylor's Version (2023).
Swift mengakui mengerjakan album rekam ulang tidaklah mudah, selain daripada menghadapi perubahan vokalnya dibanding pada masa lalu, ia juga dihadapkan peluang gagal yang terjadi pada proyek-proyek serupa di masa lalu.
Namun ternyata, sejauh ini, keempat album rekam ulang itu mencetak sukses secara komersil dan ulasan kritikus. Keempat album itu sukses mengalahkan angka penjualan dan nilai kritikus dibanding versi aslinya.
"Semuanya tergantung pada caramu menghadapi kehilangan," kata Taylor Swift. "Saya menanggapi rasa sakit yang luar biasa dengan tantangan."
Jakarta, CNN Indonesia --
Taylor Swiftbelajar banyak dari perseteruannya dengan Kanye West dan Scooter Braun yang berlangsung sejak lama. Dari dua pria itu, ia merasa karier dan musik sempat direnggut darinya.
Dalam wawancara dengan majalah TIME untuk edisi Person of the Year 2023, yang rilis pada Rabu (6/12), Taylor Swift menyebut dirinya kini tak mau ambil pusing dengan orang-orang tersebut.
"Tidak ada yang abadi," kata Taylor soal perseteruannya dengan West. "Jadi saya sangat berhati-hati untuk bersyukur setiap detik bahwa saya bisa melakukan ini, dengan level ini, karena saya pernah kehilangan semuanya sebelumnya,"
"Ada satu hal yang saya pelajari: respons saya kepada segalanya yang terjadi, baik ataupun buruk, adalah tetap berkarya. Tetap membuat karya seni," kata Swift.
"Namun saya juga belajar bahwasanya tak ada gunanya secara aktif mencoba beradu mengalahkan musuhmu. Sampah akan terbuang dengan sendirinya," lanjutnya.
Taylor Swift sudah berkonflik dengan Kanye West sejak 2009, ketika rapper itu secara terbuka merendahkan Taylor Swift saat memenangkan MTV VMA tahun itu.
Perseteruan mereka berlanjut pada 2016, ketika West dan Kim Kardashian mengklaim Swift sudah menyetujui lirik mengandung kata "b**ch" untuk Taylor Swift dalam lagu Famous.
Namun Swift menolak klaim tersebut yang kemudian dibalas Kim Kardashian dengan sebuah video yang menggambarkan seolah Swift memang menyetujui dan membuat Taylor dihujat netizen.
Keterpurukan Swift kemudian ia coba angkat menjadi karya seni dalam bentuk album reputation (2017). Hingga pada beberapa tahun lalu, sebuah video utuh percakapan Kanye West dan Taylor Swift bocor dan membenarkan ucapan Swift.
Sementara itu, Scooter Braun adalah orang yang membeli label lama Swift, Big Machine Records, bersama dengan seluruh katalog musiknya pada 2018 dengan harga US$300 juta.
Lanjut ke sebelah...
Taylor Swift Sebut Scooter Braun Berniat Jahat
Taylor Swift belajar banyak dari perseteruannya dengan Kanye West dan Scooter Braun yang diketahui secara luas. (Getty Images via AFP/MIKE COPPOLA)
Swift yang saat itu sudah keluar dari Big Machine mengklaim bahwa ia tidak pernah diizinkan untuk membeli master lagunya sendiri. Ia pun marah ketika musiknya justru dibeli oleh Braun, sosok yang ia anggap sebagai dalang seluruh perundungan yang ia terima.
"Terkait Scooter, master-master saya dijual ke seseorang yang secara aktif menginginkan itu untuk alasan yang jahat, menurut saya," kata Swift. "[Kala itu] saya merasa, 'Oh, mereka membuat saya kalah sekarang. Inilah. Saya tidak tahu harus berbuat apa',"
Hingga kemudian, ia memilih untuk terus berkarya dengan merilis sejumlah album baru, yakni Lover (2019), folklore (2020), dan evermore (2020). Namun ia juga bergerak untuk mengambil kembali haknya atas musik-musik yang dijual ke Scooter Braun.
Swift pada 2019 mengumumkan rencana merekam ulang enam album yang dijual ke Scooter Braun oleh Big Machine.
Album rekam ulang yang diberi label "Taylor's Version" itu sejauh ini sudah ada empat, yakni Fearless Taylor's Version (2021), Red Taylor's Version (2021), Speak Now Taylor's Version (2023), dan 1989 Taylor's Version (2023).
Swift mengakui mengerjakan album rekam ulang tidaklah mudah, selain daripada menghadapi perubahan vokalnya dibanding pada masa lalu, ia juga dihadapkan peluang gagal yang terjadi pada proyek-proyek serupa di masa lalu.
Namun ternyata, sejauh ini, keempat album rekam ulang itu mencetak sukses secara komersil dan ulasan kritikus. Keempat album itu sukses mengalahkan angka penjualan dan nilai kritikus dibanding versi aslinya.
"Semuanya tergantung pada caramu menghadapi kehilangan," kata Taylor Swift. "Saya menanggapi rasa sakit yang luar biasa dengan tantangan."