Pandji Pragiwaksono Beber Alasan Tak Bahas Anies Baswedan di Mens Rea

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 13:10 WIB
Pandji Pragiwaksono memberikan penjelasan tidak menyertakan Anies Baswedan sebagai materi dalam pertunjukan stand-up comedy Mens Rea yang tayang di Netflix. (Dok. Pandji Pragiwaksono Management)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandji Pragiwaksono memberikan penjelasan tidak menyertakan Anies Baswedan sebagai materi dalam pertunjukan stand-up comedy Mens Rea yang tayang di Netflix.

Melalui video di kanal YouTube pribadi yang diunggah pada Sabtu (10/1), Pandji menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan karena rasa takut atau keberpihakan politik.

Ia mengatakan keputusannya didasarkan pada kritik komedi yang diarahkan kepada mereka yang merupakan pemegang kekuasaan saat ini, atau dengan kata lain adalah pejabat aktif.

"Selain tidak ngebahas Anies, gue enggak ngebahas Ahok, Ganjar, Mahfud, dan masih banyak lagi. Kenapa? Karena mereka tidak menjabat apa-apa," kata Pandji Pragiwaksono.

"Yang lain ngapain dibahas? Enggak menjabat. Mereka enggak ambil duit pajak kita. Mungkin dulu pernah. Tapi saat itu [saat Mens Rea dibuat] mereka tidak menjabat apa-apa," tambahnya. "Semua yang kita sebut itu selama masih dalam jabatan, kita berhak untuk mengkritik."

CNNIndonesia.com sudah meminta izin kepada Pandji untuk mengutip video tersebut.

Atas dasar itulah, nama-nama seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, hingga Fadli Zon masuk ke dalam materi Mens Rea karena status mereka sebagai pejabat publik aktif.

Pandji menilai tidak ada urgensi untuk membahas pihak yang tidak lagi mengambil keputusan atas nama negara atau menggunakan anggaran pajak.

Meski fokus pada pejabat aktif, Pandji memberikan beberapa pengecualian, seperti tetap membahas Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Baginya, posisi Presiden memiliki kedudukan spesial di mana setiap kebijakan dan ucapannya akan selalu layak dibahas sebagai bagian dari sejarah.

"Pak Jokowi dibahas karena beliau Presiden ke-7, jabatan spesial membutuhkan kebijakan-kebijakan spesial. Bukan cuma Pak Jokowi, Soekarno dan Soeharto juga masih disebut sampai sekarang karena apa pun yang diucapkan Presiden itu layak dibahas terus sebagai sejarah," kata Pandji.

Selain itu, ia juga memasukkan kasus spesifik seperti Irjen Teddy Minahasa dan Dharma Pongrekun dalam materinya. Teddy Minahasa dibahas karena skala kejahatannya dianggap sebagai informasi penting yang harus diketahui publik, sementara Dharma Pongrekun dipilih karena alasan subjektif.

"Pak Dharma itu special case karena menurut keyakinan saya, beliau terlalu lucu untuk tidak dibahas di stand-up comedy," ujar Pandji.

Menepis tuduhan dirinya pendukung fanatik Anies Baswedan, Pandji mengingatkan publik akan rekam jejaknya sebagai YouTuber yang terus mengkritik Anies selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pandji pernah membuat video ulasan mendalam berdurasi lebih dari dua jam yang memberi skor rendah dua dari lima bintang untuk kinerja Anies.

Berbagai isu sensitif seperti program DP 0%, Formula E, hingga ketidakkonsistenan sikap Anies telah beberapa kali ia jadikan materi dalam pertunjukan stand up sebelumnya.

"Jadi kalau dibilang, Panji enggak pernah ngebecandain Anis, itu faktanya berlawanan. Enggak ada satupun komika yang lebih sering daripada Panji dalam ngebahas Anies sebagai bahan materi stand up," ucap Pandji.

(gis/end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK