Review Film: Mudborn

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Rabu, 04 Feb 2026 19:20 WIB
Review film Mudborn: Bagi penonton yang haus akan jumpscare, sajian dalam Mudborn agaknya akan bisa cukup memuaskan dahaga.
Review film Mudborn: Bagi penonton yang haus akan jumpscare, sajian dalam Mudborn agaknya akan bisa cukup memuaskan dahaga. (NVision Technologies Co., Ltd.)
img-title Endro Priherdityo
3
Bagi penonton yang haus akan jumpscare, sajian dalam Mudborn agaknya akan bisa cukup memuaskan dahaga.
Jakarta, CNN Indonesia --

Cerita yang disajikan Mudborn sebenarnya bukan hal baru, yakni soal boneka atau patung yang dirasuki roh jahat atau iblis dan berencana mengincar manusia. Pada dasarnya, banyak kebudayaan juga punya cerita seperti itu.

Namun melihat cerita folklor tersebut dari perspektif budaya lain, dalam hal ini adalah kebudayaan Tionghoa di Taiwan, menjadikan Mudborn punya sensasi tersendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi, untuk film panjang pertama sutradara Meng-Ju Shieh, Mudborn sama sekali bukan film yang buruk. Bahkan terbilang visi Shieh sebagai sutradara film horor terbilang menjanjikan.

Mengawali karier sebagai editor hingga memenangkan berbagai penghargaan ternyata membuat mata Meng-Ju Shieh sangat jeli untuk menghadirkan gambar horor yang sungguh bikin napas tercekat.

Bagi penonton yang haus akan jumpscare atau adegan horor berdarah tanpa harus ada bentuk kekerasan, sajian Shieh dalam Mudborn agaknya akan bisa cukup memuaskan dahaga.

Shieh agak melepaskan diri dari 'pakem' jumpscare horor yang banyak digunakan Barat, yakni membangun ketegangan dari sorot kamera lambat dan diiringi scoring.

Ia sebenarnya masih menggunakan hal tersebut, tapi bila pada film Barat semuanya terasa terukur dan terpola, Mudborn adalah versi serba tak tertebak dan intuitif. Ini seolah Shieh menyajikan jumpscare dengan intrusive thoughts.

Shieh juga dengan berani menggunakan tone warna yang masih terbilang realistis untuk kelas film horor, tanpa penurunan tone yang berlebihan. Memang pada beberapa adegan akan terasa sangat gelap, tapi mungkin itu tujuannya.

Film Taiwan Mudborn (2025). (NVision Technologies Co., Ltd.)Review film Mudborn (2025): Bagi penonton yang haus akan jumpscare atau adegan horor berdarah tanpa harus ada bentuk kekerasan, sajian Shieh dalam Mudborn agaknya akan bisa cukup memuaskan dahaga. (NVision Technologies Co., Ltd.)

Sayangnya penggunaan efek visual dalam Mudborn masih tidak konsisten. Pada sebagian adegan, efek visualnya terasa sangat mendukung cerita yang berlatar pada gim virtual reality ini.

Namun pada bagian yang lain, efek visual itu terasa mengada-ada. Terutama saat berkaitan dengan proses pengusiran setan yang kental akan dramatisasi dan bagai menjadi film fantasi.

Begitu pula dengan tata rias yang digunakan. Pada sebagian penampilan, efek riasan dan segala prostetik yang digunakan terbilang on point. Sementara pada sebagian lainnya, terutama penggambaran sejumlah karakter, terasa ganjil.

Ketidakkonsistenan juga terlihat dari bagaimana cerita dibangun oleh Yu-Chu Chiang, Yen-Chiao Huang, dan Shieh sendiri.

Secara umum, sebenarnya mereka sudah memiliki garis cerita yang jelas dan terkonsep. Namun entah mengapa turunan ceritanya ada yang masih sejalan, tapi ada juga semacam cerita random yang muncul. Apakah itu termasuk intrusive thoughts tim penulis?

Yang juga agak membuat bingung adalah bagian ketika tim penulis seolah menunjukkan bahwa cerita ini adalah bagian kelanjutan dari cerita yang sudah ada sebelumnya.

Entah gagasan itu benar adanya atau itu bentuk lain intrusive thoughts dari tim penulis, yang jelas bagian cerita tersebut sungguh terasa mengganjal dari seluruh bagian cerita Mudborn yang sebenarnya sudah menjanjikan.

Film Taiwan Mudborn (2025). (NVision Technologies Co., Ltd.)Review Film Mudborn (2025): Dengan dasar cerita yang sebenarnya sudah menjanjikan, Mudborn sebenarnya masih mungkin untuk digarap ulang dengan cerita yang lebih fokus, rapi, dan setia pada konsep awalnya. (NVision Technologies Co., Ltd.)

Tak ada banyak komentar soal penampilan para pemainnya. Yo Yang, Cecilia Choi, dan Derek Chang sudah memainkan karakternya sesuai dengan yang tertulis pada naskahnya. Hanya saja, memang tidak ada yang menonjol sendiri dari ketiganya.

Dengan dasar cerita yang sebenarnya sudah menjanjikan, Mudborn sebenarnya masih mungkin untuk digarap ulang dengan cerita yang lebih fokus, rapi, dan setia pada konsep awalnya.

Kalaupun sineas atau kreator baru nanti juga ada intrusive thoughts, saran untuk mereka adalah baiknya mengarahkan energi tersebut pada aspek editing ataupun unsur pendukung lainnya seperti scoring atau tata rias, alih-alih improvisasi cerita di tengah jalan.

Mudborn jadi bukti bahwa visi visual yang kuat dari seorang mantan editor belum tentu mampu menyelamatkan naskah yang kebanyakan improvisasi. Meng-Ju Shieh punya potensi besar dalam horor, selama dirinya bisa mengendalikan intrusive thoughts dalam bercerita.

[Gambas:Youtube]

(end)


[Gambas:Video CNN]