Review Drama: The Art of Sarah
The Art of Sarah adalah drama Korea yang bisa membuat penonton terpaku dan menyelesaikannya dalam sekali duduk. Serial ini bukan sekadar tontonan kriminal biasa, melainkan dekonstruksi psikologis yang tajam, adiktif, dan secara visual memanjakan mata.
Dalam delapan episode, drama ini mengupas banyak layer, mulai dari kasus pembunuhan yang brutal, skema penipuan kelas kakap, hingga pertanyaan inti: siapa sebenarnya sosok Sarah Kim?
Salah satu daya tarik utama drama ini adalah kecerdikan Chu Song-yeon selaku penulis naskah dalam menyisipkan latar belakang setiap keputusan Sarah yang manipulatif, namun tetap mampu menjaga tempo cerita yang stabil di seluruh episodenya.
Setiap bagian diakhiri dengan cliffhanger yang menarik, sehingga penonton akan terus terjebak dalam rasa penasaran. Ceritanya sendiri mencekam seperti puzzle yang dibangun dengan cerdik. Chu Song-Yeon selaku penulis tampak jelas memikirkan cara menyatukan narasi yang kompleks.
Kekuatan sentral serial ini terletak pada performa Shin Hye-sun. Drama tersebut adalah panggung bagi Sarah, dan Shin Hye-sun benar-benar bersinar di setiap adegan.
Ia mampu beralih dengan sangat mulus dari sosok yang penuh percaya diri menjadi pribadi yang rapuh, hingga seorang manipulator.
Memerankan beberapa karakter sekaligus dalam satu proyek memang bukan hal baru bagi Shin Hye-sun. Hal tersebut sudah ia buktikan dalam banyak drama, seperti Dear Hyeri, See You in My 19th Life, termasuk Mr. Queen.
Sebagai salah satu aktris yang aktingnya tak perlu diragukan lagi, tampilan Shin Hye-sun sebagai Sarah Kim lebih berkilau daripada kemewahan koleksi tas "Boudoir" yang sangat ia lindungi sampai akhir.
Hanya melalui tatapan mata, ia sanggup menunjukkan transisi dari sosok elegan di depan publik menjadi jiwa yang hancur, membuktikan kualitas aktingnya yang luar biasa.
Sedari awal, serial ini secara gamblang menunjukkan bahwa identitas "Sarah" hanya fabrikasi belaka. Penonton diajak melihat masa lalu kelam seorang perempuan biasa yang terjebak utang.
Melalui jalinan kebohongan yang rumit, drama ini sukses menyoroti betapa tipisnya batas antara kenyataan dan ilusi dalam dunia yang mengejar gengsi.
Tidak hanya cemerlang saat menjadi Sarah Kim, Shin Hye-sun juga kembali memperlihatkan kehebatannya dalam membangun chemistry dengan seluruh lawan mainnya.
Dalam The Art of Sarah, ia berhasil menciptakan tensi yang tepat dengan semua pemain, mulai dari Lee Jun-hyuk, Kim Jae-won, Jung Jin-young, hingga Park Bo-kyung.
Namun, reuni Shin Hye-sun dan Lee Jun-hyuk jelas jadi daya tarik mewah tersendiri. Chemistry mereka dalam drama ini, yang kedua setelah Stranger, menghadirkan intensitas yang familier bagi penggemar namun dengan dinamika jauh lebih berbahaya serta kompleks.
Adegan interogasi antara Mu-gyeong dan Sarah Kim jelas menjadi sorotan utama drama ini. Permainan kata-kata yang tajam memicu ketegangan yang nyata, terutama saat Sarah membuat Detektif Park terdiam dengan berbagai pertanyaan yang sangat logis dan sulit dilupakan.
Lee Jun-hyuk membawakan peran sebagai detektif dengan baik. Aktingnya solid dan meyakinkan, meskipun ia pernah memerankan karakter yang lebih kuat sebelumnya.
Perpaduan kedua karakter ini sangat kuat, seperti permainan kucing-kucingan untuk saling menjebak dan menjerat satu sama lain dengan sangat brilian.
Keunggulan lain drama ini ada pada aspek visualnya. Di bawah arahan sutradara Kim Jin-min (Extracurricular, My Name), visualisasi drama ini terasa apik dan konsisten.
Dunia kelas atas Seoul dipotret dengan sangat nyata, di mana kemewahan bukan sekadar gaya hidup, melainkan "rekayasa" yang sukses mengaburkan garis antara realitas dan fiksi.
Di balik kemegahan itu, The Art of Sarah menyisipkan kritik sosial terkait ketimpangan kekuasaan.
Momen yang paling membekas adalah saat pihak kepolisian dilarang memasuki pesta eksklusif meski sudah menunjukkan lencana, sementara juniornya bisa melenggang masuk dengan mudah hanya karena statusnya sebagai putra anggota dewan.
Adegan itu menjadi pengingat pahit bahwa di dunia ini, koneksi dan kekayaan sering kali berada di atas hukum.
Demikian pula dengan kritik terhadap obsesi masyarakat modern pada penampilan luar yang sering kali berakhir mengabaikan nilai substansi.
Meski memukau, drama ini bukannya tanpa catatan. Tempo yang terlampau cepat serta tumpukan plot twist membuat alur waktu terkadang terasa kabur dan sulit dipahami secara instan.
Ada pula beberapa bagian cerita yang terasa kurang masuk akal atau dibiarkan menggantung.
Menjelang akhir, narasi mengenai identitas Sarah Kim terasa sedikit terlalu rumit dan "sibuk" demi mengejar dampak dramatis yang besar.
Akibatnya, penonton mungkin menyelesaikan tontonan ini dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban karena banyaknya celah cerita yang tidak ditutup.
Pada akhirnya, drama ini memang sebuah "karya seni" Sarah yang dikurasi dengan sangat hati-hati ini.
Ceritanya berlapis, terencana, dan penuh kejutan. Meski mungkin tidak sempurna, ambisi dan performa luar biasa dari pemeran utamanya menjadikannya sebagai potret yang jelas begitu membekas setelah ditonton.