Netizen Asia Tenggara Bersatu Promosi Musik dari ASEAN, SEApop

CNN Indonesia
Minggu, 15 Feb 2026 17:42 WIB
Sebagian 'pasukan' SEAblings memanfaatkan perang mereka dengan Knetz dengan promosi musik pop asal Asia Tenggara alias SEApop.
Grup no na menjadi salah satu grup yang namanya disebut dalam kampanye SEApopRise oleh netizen Asia Tenggara.: (88rising)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang antara netizen Asia Tenggara dengan Korea Selatan masih berlangsung di media sosial hampir sepekan terakhir. Bahkan, melibatkan berbagai netizen negara lain dan lintas platform.

Seiring dengan 'perang' tersebut, 'pasukan' netizen Asia Tenggara yang didominasi gabungan dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam alias SEAblings menyuarakan hal lain dalam melawan netizen Korea Selatan: musik dari Asia Tenggara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini dilakukan mengingat oknum netizen Korea Selatan atau Knetz sangat mengagungkan musik asal negara tersebut yang mendunia, K-pop, dengan segala budaya yang menyertainya.

Selain itu, sebagian netizen SEAblings juga menilai dengan menggemakan dan mempopulerkan musik asal Asia Tenggara, maka bisa mengangkat industri regional sendiri dan 'menghukum' pihak lawan.

Maka dari itu, istilah SEApop yang sudah digunakan sebelumnya oleh penggemar musik Asia Tenggara itupun makin bermunculan di media sosial selama war netizen ini berlangsung. Kata-kata "SEApop Rise" atau #SEAPOP pun bertebaran di media sosial.

Sebagian pihak kubu SEAblings juga mempromosikan sejumlah grup musik atau lagu dari Asia Tenggara yang bisa menjadi ikon dari gelombang SEApop Rise ini.

Beberapa grup dan solois yang mendapat promosi SEAblings adalah no na dan UN1TY dari Indonesia; Dolla, MIMIFLY, dan ALPHA dari Malaysia; Alamat, SB19, VXON, BUS, dan BINI dari Filipina; serta 4EVE dan PROXIE dari Thailand.

Bahkan di sejumlah layanan streaming, sudah tersedia beberapa daftar putar atau playlist yang mengumpulkan musik-musik dari musisi Asia Tenggara. Ada playlist yang sudah tersedia sebelumnya kemudian diperbaharui seiring keberadaan 'perang' ini, tapi ada juga playlist yang muncul saat 'perang' ini berlangsung.



Perang netizen Asia Tenggara melawan Korea Selatan awalnya disebabkan dari beberapa orang Korsel yang melanggar aturan konser di Malaysia. Hal itu diperdebatkan di media sosial hingga berujung pada pernyataan rasial.

Konflik ini bermula dari konser DAY6 yang digelar 31 Januari 2026 di Axiata Arena, Kuala Lumpur. Seorang fansite master asal Korea Selatan nekat membawa peralatan kamera profesional dengan lensa panjang ke area konser.

Padahal, hal itu sudah jadi larangan konser di banyak negara. Tindakan itu juga pelanggaran berat terhadap aturan penyelenggara yang melarang penggunaan kamera profesional demi kenyamanan penonton dan hak cipta.

Ketegangan meningkat setelah penonton lokal Malaysia merekam aksi pelanggaran tersebut dan menyebarkannya di media sosial X hingga menjadi viral.

[Gambas:Youtube]

Meskipun oknum fansite tersebut dilaporkan telah meminta maaf, situasi justru berbalik menjadi panas ketika sekelompok penggemar asal Korea Selatan lainnya tidak terima dengan larangan tersebut.

Oknum-oknum itu mulai menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Malaysia, salah satunya bahkan menyinggung bahwa idol K-pop hanya boleh dinikmati orang-orang Korea Selatan.

Interaksi di media sosial X kemudian berubah menjadi ajang penghinaan rasial sangat kasar. Sebagian netizen Korea Selatan melontarkan ejekan merendahkan fitur fisik, bahasa, hingga kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara.

Serangan rasis ini memicu gelombang solidaritas di antara netizen Asia Tenggara, yang selama ini dikenal sebagai SEAblings, termasuk dari Indonesia, Filipina, dan Thailand, yang merasa dihina secara kolektif.

[Gambas:Youtube]

(end)


[Gambas:Video CNN]