Hamdan Ballal Ungkap Keluarga Jadi Korban Serangan Pemukim Israel
Hamdan Ballal, sutradara film dokumenter pemenang Oscar No Other Land, memberikan peringatan keras setelah keluarganya kembali diserang oleh kelompok pemukim Israel baru-baru ini.
Dalam unggahan di media sosial, ia menyatakan penyerangnya adalah kelompok pemukim Israel yang sama dengan yang menargetkannya tak lama setelah kemenangan Oscar pada Maret 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan terbaru itu mengakibatkan salah satu saudara laki-lakinya dilarikan ke rumah sakit, sementara empat anggota keluarga lainnya ditangkap.
"Dua minggu lalu, kami berhasil mendapatkan keputusan dari pengadilan Israel yang menyatakan area sekitar rumah saya tertutup bagi warga non-residen," kata Ballal seperti diberitakan Variety pada Senin (16/2).
"Namun, para pemukim melanggar perintah itu dan terus datang hampir setiap hari," tulisnya.
Ia menambahkan bahwa pihak kepolisian dan tentara tidak melakukan tindakan apa pun saat dihubungi.
"Hari ini, Shem Tov Lusky, pemukim yang menyerang saya di rumah sesaat setelah saya menang Oscar tahun lalu, datang lagi. Kakak saya memanggil polisi, namun tentara datang lebih dulu dan langsung menggerebek rumah kami serta menyerang semua orang di dalamnya."
Kejadian tersebut merupakan pengulangan dari insiden kekerasan yang dialami Ballal beberapa minggu setelah No Other Land memenangkan Oscar Dokumenter Terbaik pada 2 Maret 2025.
Saat itu, Ballal diserang di desa Susiya, Tepi Barat, lalu dibawa paksa dari ambulans oleh tentara Israel. Ia mengaku diikat dan ditutup matanya selama 24 jam di pangkalan militer sebelum akhirnya dibebaskan.
Pihak Academy of Motion Picture Arts and Sciences sempat menuai kritik karena awalnya tidak memberikan dukungan publik kepada Ballal, meski akhirnya mereka mengeluarkan surat resmi yang meminta maaf dan menyebutkan namanya secara eksplisit.
Film No Other Land digarap tim kolaborasi Israel-Palestina yang terdiri dari Yuval Abraham, Hamdan Ballal, Basel Adra, dan Rachel Szor.
Film tersebut mendokumentasikan perjuangan komunitas Palestina di Tepi Barat yang menghadapi penggusuran oleh pasukan Israel.
Meskipun meraih sukses besar di festival internasional seperti Berlin Film Festival, film itu dirilis secara mandiri di Amerika Serikat setelah banyak distributor menolak untuk mengambilnya.
(chri)
