Review Film: Pelangi di Mars

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Jumat, 27 Mar 2026 20:15 WIB
Review film Pelangi di Mars: gagasan dan ambisi besar untuk sebuah film tidaklah cukup, perlu eksekusi yang realistis dan relevan. (Mahakarya Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelangi di Mars sebenarnya membuktikan bahwa kreator lokal Indonesia memiliki cita-cita dan ambisi hingga ke Mars dan luar angkasa.

Tentu ambisi dan cita-cita setinggi langit itu adalah hal yang sangat positif. Hanya saja memang bayi begitu lahir tidak akan bisa langsung berlari, ia akan merangkak sebagai cara paling realistis dalam menggapai mimpi itu.

Sama seperti Pelangi di Mars. Mimpi yang ditulis Upie Guava dan Alim Sudio dalam gagasan cerita film ini bisa dibilang sangat ambisius untuk industri animasi Indonesia yang baru digebrak Jumbo pada 2025 lalu.

Usaha lima tahun yang dibuat dalam Pelangi di Mars yang digarap Upie Guava pun sebenarnya tidak buruk, bahkan cenderung cukup mengejutkan untuk sutradara yang lebih banyak berkarier membuat video klip musik.

Upie jelas paham bagaimana membuat sinematografi yang enak dipandang penonton secara awam. Termasuk bila film ini akan ditampilkan dalam berbagai media, mulai dari layar lebar hingga digital bila nanti dirilis di streaming.

Upie memang terlihat cukup ambisius dalam proyek yang menjadi film animasi sekaligus hybrid live-action pertamanya ini. Saking ambisiusnya, selain sutradara dan penulis, ia memegang kursi sinematografer dan eksekutif produser, ikut juga dalam penyuntingan, serta desain produksi.

Namun film memang bukan hanya soal semangat dan ambisi atau gagasan cemerlang. Ada faktor yang menjadikan sebuah film bisa relevan atau mengena di lebih banyak penonton alih-alih sekadar tampilan yang 'meyakinkan', yakni cerita.

Review Film Pelangi di Mars (2026): Upie jelas paham bagaimana membuat sinematografi yang enak dipandang penonton secara awam. Termasuk bila film ini akan ditampilkan dalam berbagai media, mulai dari layar lebar hingga digital bila nanti dirilis di streaming. (Mahakarya Pictures)

Ambisi dan semangat Upie dalam menghadirkan film ini sangat terlihat dalam naskahnya. Ia memasukkan begitu banyak materi dalam naskah hingga durasinya memanjang sampai nyaris dua jam.

Akan tetapi, materi yang begitu banyak dijejalkan oleh Upie dan Alim ini sayangnya sebagian besar hampa dan kurang berbobot untuk ukuran sebuah film yang menyasar masyarakat secara luas, dan sebagai film berbujet grande.

Selama satu jam 58 menit, mungkin bisa dibilang 80 persennya berisi yapping berisik lima robot rongsokan. Entah memang Upie dan Alim mengincar penonton sosial media atau mencoba keras untuk ikut tren, semua jokes media sosial ada dalam naskah.

Belum lagi kelima robot tersebut memiliki naskah yang mengikuti pola kalimat AI seperti ChatGPT dan Gemini. Jadi seolah-olah lima robot tersebut adalah ChatGPT dan Gemini yang hidup dan main film.

Tak usah dibayangkan tampilan fiksi ilmiah dan robot pintar akan seperti J.A.R.V.I.S. milik Iron Man, tidak, itu ketinggian. Walaupun bentuk dari robot-robot ini tampak seperti terinspirasi dari robot-robot Marvel dan karya Disney.

Upie dan Alim tampak terlalu sibuk memasukkan seluruh gagasan percakapan yang ada di dalam otak mereka sehingga luput untuk merajutnya menjadi film yang memiliki emosi manusiawi yang mendalam.

Review Film Pelangi di Mars (2026): kelima robot tersebut memiliki naskah yang mengikuti pola kalimat AI seperti ChatGPT dan Gemini. Jadi seolah-olah lima robot tersebut adalah ChatGPT dan Gemini yang hidup dan main film. (Mahakarya Pictures)

Padahal film ini memiliki potensi besar di bagian itu. Soal bagaimana perjuangan Pratiwi membesarkan anaknya sendiri di Mars --walaupun tak masuk logika--, atau bagaimana hubungan Pelangi dan kelima robot aneh itu bisa humanis.

Tidak sedikit film animasi yang memanusiakan benda mati, apalagi Disney dan Pixar. Kisah-kisah mereka jarang memiliki misi besar untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi sanggup menampilkan 'nyawa' dan rasa manusiawi di ceritanya.

Kedalaman itulah yang luput dicari dalam misi Upie dan Alim lewat Pelangi di Mars, sehingga film ini terasa seperti film yang naskahnya dirancang oleh mesin. Pertunjukan emosional memang ada, poin-poin cerita manusiawi juga ada, tapi jiwanya tidak terasa.

Meski begitu, ada beberapa gimik komedi dalam film ini yang membuat sebagian penonton tertawa, terutama anak-anak. Jadi kalau memang Pelangi di Mars dibuat untuk anak-anak dan bukan penggemar film yang kritis, ya bisa jadi misi itu accomplished.

Selain urusan naskah yang sebenarnya adalah jiwa dari film ini, akting para pemerannya adalah masalah lain yang membuat napas berhela panjang. Ditambah tata rias yang terlihat seadanya dan kurang menyesuaikan dengan perjalanan cerita, cukup untuk membuat pertanyaan "kok Pelangi enggak juga terlihat gembel jalan sejauh itu?" berkecamuk.

Di sisi lain, keberadaan sejumlah lagu dalam film ini adalah kejutan. Meski berlirik sederhana, beberapa lagu bisa dibilang cukup menyenangkan untuk didengar dalam tataran lagu untuk anak-anak.

Review Film Pelangi di Mars (2026): Dengan segala sajian dalam Pelangi di Mars, bila bisa memberikan saran, mungkin akan lebih baik jika ceritanya dipangkas sehingga berdurasi 75 hingga 90 menit, diperdalam pada aspek humanis, dan ditampilkan dalam animasi 2D bergaya komik atau sketsa. (Mahakarya Pictures)

Setidaknya, komposisi lagu-lagu yang dipimpin Eunike Tanzil ini terlihat lebih proper walaupun tidak semua pengadeganannya berkata demikian, dan jomplang bila dibandingkan dengan scoringnya yang terlalu aktif sepanjang film.

Dengan segala sajian dalam Pelangi di Mars, bila bisa memberikan saran, mungkin akan lebih baik jika ceritanya dipangkas sehingga berdurasi 75 hingga 90 menit, diperdalam pada aspek humanis, dan ditampilkan dalam animasi 2D bergaya komik atau sketsa.

Gagasan soal animasi 2D itu muncul setelah kredit menampilkan berbagai sketsa animasi dari karakter dan adegan dalam film ini, dan ternyata terlihat lebih estetik dan apik.

Apalagi dalam gaya komik, berbagai efek bisa ditampilkan dengan lebih imajinatif dan mengundang minat lebih besar. Upie tidak perlu repot-repot memboyong teknologi XR dan segala macamnya hanya untuk menyajikan cerita pencarian batu bertuah itu.

Pelangi di Mars sudah membuktikan bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta animator. Mereka sangat berbakat, bahkan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan studio-studio animasi besar di luar sana.

Hanya saja, butuh cara paling realistis yang memungkinkan bakat ratusan animator yang terlibat ini tersaji dengan baik, dan sepadan dengan segala usaha dan perjuangan mereka menghabiskan ribuan jam bekerja di balik komputer.

Namun yang lebih penting adalah, bagaimana proyek Pelangi di Mars bukan hanya sekadar ambisi segolongan orang untuk unjuk gigi, tetapi juga jadi misi bersama dari seluruh seniman untuk membuktikan Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang kreatif.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK