Keluarga Blak-blakan Sutradara Kim Chang-min Tewas Akibat Penganiayaan
Keluarga mendiang sutradara indie Korea Kim Chang-min kembali buka suara. Mereka pada Selasa (31/3) mengklaim Kim Chang-min meninggal dunia akibat penganiayaan pada Oktober 2025.
Pernyataan tersebut berbeda dari hal yang disampaikan keluarga tahun lalu, yakni Kim Chang-min meninggal akibat pendarahan otak di rumah sakit pada 7 November setelah pingsan di restoran pada 20 Oktober.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korea JoongAng Daily memberitakan keluarga buka suara akibat proses hukum yang berjalan terlalu lama, dan hasilnya mengecewakan.
Kim Chang-min disebut meninggal setelah diserang pelanggan lain di restoran tersebut, tetapi pengadilan telah membatalkan surat perintah penangkapan untuk para tersangka penyerangan.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan keluarga, insiden bermula pada dini hari pada 20 Oktober 2025 di restoran 24 jam di Guri.
Kim Chang-min mengunjungi tempat tersebut untuk menuruti keinginan putranya yang memiliki spektrum autisme untuk makan pork cutlet.
Saat makan, terjadi perselisihan fisik dengan pelanggan di meja lain yang dipicu masalah kebisingan. Kim Chang-min kemudian dilaporkan terkena pukulan tinju hingga terjatuh ke lantai dan pingsan.
"Selama makan, terjadi pertengkaran dan perkelahian fisik dengan pelanggan yang duduk di meja lain karena masalah seperti kebisingan, dan Kim dipukul dengan tinju dan jatuh ke lantai," beber keluarga.
"Dia dibawa ke rumah sakit terdekat sekitar satu jam kemudian tetapi akhirnya meninggal," kata anggota keluarga tersebut.
Setelah kejadian tersebut, Kim Chang-min dilarikan ke rumah sakit namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat pendarahan otak pada 7 November.
Sejalan dengan kebaikan hatinya semasa hidup, organ tubuh mendiang didonorkan kepada empat orang yang membutuhkan.
Meski penyebab kematian tampak jelas bagi keluarga, proses hukum yang berjalan justru memicu kemarahan pihak kerabat karena dianggap sangat lamban dan tidak memadai.
Keluarga korban menyatakan kekecewaannya terhadap respons awal kepolisian dan proses investigasi. Polisi sebenarnya telah mengidentifikasi tersangka utama dan mengajukan surat perintah penangkapan atas tuduhan menyebabkan cedera fisik serius.
Namun, jaksa menolak permintaan tersebut dan meminta penyelidikan lebih lanjut, yang membuat proses hukum terulur hingga berbulan-bulan.
Menanggapi desakan keluarga, polisi kemudian kembali mengajukan surat perintah penangkapan untuk dua tersangka dengan tuduhan menyebabkan luka fatal yang berujung kematian.
Sayangnya, Pengadilan Distrik Uijeongbu menolak permohonan tersebut. Pihak pengadilan berargumen bahwa para tersangka memiliki tempat tinggal tetap dan risiko penghilangan barang bukti dianggap rendah.
Keputusan pengadilan ini membuat keluarga Kim Chang-min geram karena hingga lima bulan setelah kejadian, para tersangka masih bebas berkeliaran. Kasus ini akhirnya dilimpahkan ke kejaksaan pekan lalu tanpa penahanan terhadap para pelaku.
Keluarga merasa keadilan bagi Kim, yang semasa hidupnya justru banyak membela hak asasi manusia melalui karyanya, belum terpenuhi.
Sutradara Kim Chang-min memulai debutnya pada 2016 melalui film Someone's Daughter. Sepanjang kariernya, ia konsisten menyutradarai film-film yang mengangkat isu sosial, termasuk Guui Station Exit No. 3.
Kim Chang-min juga pernah menyabet penghargaan Sutradara Terbaik di Festival Film Hak Asasi Manusia Kepolisian 2016.
(chri) Add
as a preferred source on Google

