Review Film: Crocodile Tears
Persiapan yang tergolong panjang untuk sebuah film memang tak menjamin film itu tak meninggalkan berbagai kejanggalan saat ditonton, seperti yang terjadi dengan Crocodile Tears.
Niat Tumpal Tampubolon untuk mengangkat kisah soal hubungan ibu dan anak yang berbalut dengan atmosfer intens dan thrilling, konflik psikologis, hingga mitologi soal buaya memang terasa menjanjikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi film ini sudah dikembangkan sejak 2022 dan muter di berbagai festival film internasional yang membuat ekspektasi agak meninggi. Namun eksekusi yang dilakukan Tumpal untuk film ini terbilang niche dan mungkin akan sulit terhubung untuk banyak penonton awam.
Misalnya adalah dengan penggambaran karakter Mama yang dibawakan oleh Marissa Anita. Lagi-lagi, Anita memerankan karakter yang menunjukkan berbagai gejala gangguan kesehatan mental.
Kali ini, Tumpal menggambarkan Mama sebagai sosok ibu yang berbeda dari kebanyakan citra seorang ibu di Indonesia. Kikuk, over protektif, dan menunjukkan berbagai gelagat aneh yang cenderung membuat suasana tak nyaman.
Ditambah dengan delusi yang dialami Mama, sebenarnya cukup membuat karakter yang dibawakan dengan apik oleh Marissa tersebut memiliki andil besar dalam menentukan atmosfer suasana dan adegannya.
Apalagi, Tumpal secara metaforis meracik cerita soal cinta yang posesif, manipulatif, dan tak biasa ditemukan dalam cerita cinta yang awam. Belum lagi dengan penampilan Yusuf Mahardika yang menjadi lawan Marissa.
Yusuf yang memerankan anak dari Mama, Johan, yang terpikat cinta seorang LC (Lady Companion) bernama Arumi yang dibawakan Zulfa Maharani, bisa ikut mempertebal kisah hubungan toksik antara ibu dan anak hingga menyesakkan.
Namun sayangnya gaya alur slow burn yang dipilih Tumpal berjalan begitu lambat dan mudah ditebak. Belum lagi dengan Tumpal yang memilih untuk membuka penafsiran penonton secara lapang yang membuat film ini semakin terasa ambigu.
Review Film Indonesia Crocodile Tears (2024): eksekusi yang dilakukan Tumpal untuk film ini terbilang niche dan mungkin akan sulit terhubung untuk banyak penonton awam. (Talamedia) |
Ditambah dengan sejumlah konflik cerita yang terasa kurang tegas dan menggigit, cerita Crocodile Tears bagai buaya yang berenang tapi tak berniat mengincar mangsa, hanya melirik mengintai di balik tenangnya air.
Beruntungnya penampilan Marissa dan Yusuf yang cukup menyedot perhatian dari masalah naskah itu juga terbantu dengan aksi Zulfa Maharani sebagai Arumi. Karakter pendukung yang ia bawakan terbilang sesuai porsi tapi tetap bisa menggigit kala memantik konflik.
Selain itu, meski memiliki imajinasi cerita ala Ratu Buaya Putih (1988) yang mampu membuat kedua alis saling sapa, atmosfer dalam film ini memang terbilang sesuai dengan niat dari ceritanya. Apalagi memutuskan untuk syuting di Taman Buaya sungguhan, rasanya ada sedikit penyegaran untuk koleksi film drama lokal.
Jafar sebagai Production Designer juga mengambil keputusan yang pintar dengan bertekad membangun rumah Mama dan Johan di dalam Taman Buaya.
Rumah yang dibangun di dalam area tersebut menciptakan kesan pengap, sempit, dan terisolasi, sekaligus merepresentasikan hubungan keduanya yang penuh tekanan. Lingkungan di luar Taman Buaya yang sepi juga memperkuat kesan keterasingan dari dunia luar.
Sementara itu, Hagai Pakan dan Ihsiana Magriza di balik wardrobe serta Agustin Puji dan Cherry Wirawan di balik meja rias berhasil mempertegas rasa sesak yang ingin disampaikan lewat tampilan para karakter di dalam cerita ini.
Meski punya cerita yang meninggalkan banyak tanya, Crocodile Tears sebenarnya bukan cuma soal relasi ibu dan anak. Film ini menyoroti cerita perjuangan ibu tunggal kala menghadapi tekanan hidup di usia muda dan dalam kondisi yang terisolasi.
Karakter Mama digambarkan berdiri sendiri tanpa sosok pendukung selain anaknya, sebuah refleksi yang relevan dengan banyak kasus di masyarakat Indonesia.
Sayangnya memang beberapa elemen cerita terasa mubazir karena dieksekusi secara tanggung. Padahal pendalaman karakter, khususnya terkait kondisi psikologis Mama, bisa dieksplorasi lebih jauh untuk memperkuat konflik.
Terlepas dari berbagai catatannya, Crocodile Tears tetap memberikan pengalaman yang berharga. Film ini setidaknya menawarkan ruang refleksi tentang makna hubungan, tekanan emosional, serta realitas sosial yang jarang diangkat secara eksplisit.
(end) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

Review Film Indonesia Crocodile Tears (2024): eksekusi yang dilakukan Tumpal untuk film ini terbilang niche dan mungkin akan sulit terhubung untuk banyak penonton awam. (Talamedia)