Review Film: 402 Rumah Sakit Angker Korea
Keputusan untuk mengadaptasi film sepopuler Gonjiam: Haunted Asylum (2018) seperti yang dilakukan oleh 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026) adalah sebuah pertaruhan berisiko tinggi.
Gonjiam (2018), termasuk film yang memukau banyak penggemar horor pada delapan tahun lalu. Film garapan Jung Bum-shik itu bahkan dianggap salah satu film horor found footage terbaik setelah era The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2007).
Maka wajar ada skeptisme yang muncul saat mengetahui Anggy Umbara berani mengambil posisi kursi sutradara, ditemani Lele Laila dari balik meja penulis untuk proyek ini. Apalagi setelah tahu mereka memperpanjang kisahnya hingga 20 menit dari cerita asli.
Namun setelah melihat sendiri, 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026) seperti hidangan ramyun yang dicampur dengan bumbu mi instan rasa soto. Ada yang akan cocok-cocok saja dengan makanan 'fusion' itu, tapi ada yang merasa hal itu perpaduan yang aneh.
Untuk mereka yang 'kenyang' dengan gaya film sutradara Siksa Neraka (2023) dan penulis saga Danur tersebut, film 402 ini sebenarnya adalah perkembangan positif. Film ini punya visi yang jelas, dan terlihat coba dituturkan dengan cara yang lebih kreatif untuk kelas film Indonesia yang diproduksi oleh studio mainstream.
Dari sudut pandang produksi dan sinematografi, film 402 terbilang dibuat dengan niat. Desain set yang dibuat semeyakinkan mungkin sebagai sebuah rumah sakit terbengkalai, dengan segala benda-benda dan efek poltergeist di dalamnya, patut menjadi kredit untuk tim desain produksi.
Kalau dibandingkan dengan film horor lokal yang demen gelap-gelapan, film 402 juga memiliki gambar yang jernih. Anggy terlihat menyesuaikan dengan perkembangan kualitas konten YouTube yang sudah pasti berbeda antara era 2018 dan 2024 sebagai latar cerita film 402.
Selain itu, film ini juga tidak berisik dengan scoring seperti kebiasaan film horor lokal lainnya. Scoring hanya ditampilkan pada adegan-adegan penting dan terbilang efisien dalam mempertebal suasana cerita.
Namun hal lain yang patut diapresiasi adalah usaha film ini untuk tetap setia dengan cerita asli Gonjiam (2018). Lele sebagian besar masih mereka ulang adegan yang ditulis Jung Bum-shik dan bisa dianggap sebagai penghormatan untuk film itu.
Sayangnya, bagian paling mengganjal dalam film ini justru datang dari aspek ke-Indonesiaannya.
Niat tim kreatif untuk membawa unsur mistik Indonesia seperti jelangkung, lengkap dengan batok kelapa dan kain gembel serta mantra yang 'diadaptasi' dengan bahasa Korea, justru terasa cringe.
Narasi itu sungguh aneh, karena terasa memaksakan diri untuk nasionalis dan cinta 'budaya Indonesia' dalam film adaptasi asing yang mana latar ceritanya juga di luar negeri. Padahal, dengan menampilkan anak muda Indonesia ditambah orang Korea yang berbahasa Indonesia dengan aksen Jawa yang medok, sudah cukup untuk meng-Indonesia-kan cerita impor ini.
Kalau pun Anggy dan Lele ngebet banget memasukkan unsur mistik tradisional di film ini, mestinya mereka bisa memodifikasi jelangkungnya dengan lebih logis untuk bisa lolos keamanan bandara, atau bisa ditemukan di lokasi cerita.
Selain itu, aspek pengembangan cerita film 402 dengan segala twist di dalamnya kurang direncanakan dengan matang. Keputusan untuk mengangkat fenomena kultus sesat yang sempat ramai di Korea Selatan memang hal yang positif, tapi masih terasa ganjil dengan keseluruhan cerita.
Dalam Gonjiam (2018), isunya terbilang sederhana dan tetap dibiarkan sebagai misteri untuk menjaga tensi horor juga kemisteriusan ceritanya. Namun Lele mungkin mempertimbangkan keinginan penonton Indonesia yang lebih suka pada hal yang gamblang sehingga memutuskan memberikan cerita lebih.
Hal itu tidak salah, dan sebagian penonton memang lebih suka metode tersebut. Akan tetapi bila kembali direnungkan, cerita tambahan itu justru akan memunculkan pertanyaan yang lebih besar, salah satunya adalah apakah berarti rumah sakit itu kini dihuni monster?
Aspek kekerasan dan thriller yang dimasukkan dalam cerita ini juga jadi catatan tersendiri. Kembali lagi, mengingat film ini adalah adaptasi, sebenarnya sah-sah saja memberikan bumbu atau materi tambahan dari komposisi aslinya. Hanya saja, bagaimana geng kreator menemukan akhir nasibnya terasa berlebihan dan memudarkan aspek mistis dan horor kisah aslinya.
Catatan lainnya adalah terkait bagaimana Anggy dan tim editing menampilkan gaya found footage yang terasa begitu 'rapi' dan clean untuk film yang mestinya 'raw', termasuk penggunaan filter efek yang justru membuat film 402 ini seperti produk editing komputer.
Bahkan kalau dibandingkan dengan konten perburuan hantu yang beredar di YouTube pun, film 402 masih lebih terasa sebagai film drama horor yang dibuat di dalam studio. Padahal found footage dikenal dengan rasa mentahnya supaya memaksimalkan kesan "sungguhan" dalam benak penonton.
Catatan di atas belum termasuk dengan pertunjukan ketujuh aktor film 402, yang tidak banyak membantu meningkatkan suasana kengerian dari rumah sakit tersebut selain daripada mengucap sumpah serapah.
Meski ada banyak catatan atas 402 Rumah Sakit Angker Korea (2026), film ini sebenarnya membantu mengenalkan kisah Gonjiam: Haunted Asylum (2018) kepada mereka yang belum pernah menyaksikannya, mengingat film itu jarang ditemukan di layanan streaming.
Kalau pun ada di layanan streaming, percayalah horor Gonjiam: Haunted Asylum (2018) akan benar-benar hidup di layar lebar dan menjelaskan mengapa film itu akan sulit ditandingi juga diadaptasi, setidaknya hingga saat ini.