Ini Kata Penonton Awal Film Kung Fu Soccer

CNN Indonesia
Selasa, 14 Jul 2026 21:00 WIB
Para penonton awal film Kung Fu Soccer Stephen Chow memiliki pandangan yang terbelah antara kualitas dan momen nostalgia. (MaoYan Movie/Shenzhen Film Studio/Star Overseas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film terbaru Stephen Chow, Kung Fu Soccer, menuai ulasan yang begitu kontras di kalangan penonton awal. Film tersebut premiere 11 Juli di China. Ada yang memuji karena bisa bernostalgia, tapi banyak pula yang mengaku kecewa dengan film itu.

Perbedaan kontras penilaian itu hadir meski Kung Fu Soccer sukses besar dari segi komersial dengan meraup pendapatan fantastis lebih dari 455 yuan atau setara Rp1,2 triliun dalam dua hari pertama penayangannya di China.

Global Times pada Minggu (12/7) memberitakan sinyal keterbelahan penonton ini terlihat jelas dari rating awal yang bertengger di angka 6,6 dari 10 pada platform ulasan populer China, Douban.

Angka yang terhitung moderat tersebut mencerminkan perdebatan sengit mengenai kualitas cerita, gaya humor, hingga teknis produksi dari film yang digadang-gadang sebagai penerus mahakarya klasik Shaolin Soccer (2001).

Di satu sisi, kelompok penonton yang kecewa menilai film yang dibintangi Zhang Xiaofei, Dilraba, dan Lay Zhang ini terlalu malas karena mendaur ulang formula lama dari Shaolin Soccer.

Alurnya dinilai repetitif dan kualitas efek visualnya dianggap ketinggalan zaman.

Salah satu penonton pada hari pertama pemutaran, Lin Xiao, bahkan blak-blakan mengaku tidak puas selepas keluar dari studio bioskop karena merasa visualnya mengecewakan, ceritanya berantakan, dan ia hampir tidak tertawa sepanjang film.

Kritik terhadap aspek visual ini tergolong ironis mengingat laporan industri dari ThePaper.cn menyebut proyek ini digarap dengan skala produksi masif. Kung Fu Soccer mengintegrasikan lebih dari 1.200 bidikan efek visual dan memanfaatkan teknologi mutakhir, seperti motion-capture hingga AI-rendering.

Namun bagi sebagian penonton, kecanggihan teknologi tersebut dinilai gagal memberikan sentuhan magis yang orisinal.

Sebaliknya, barisan penonton yang menyukai film ini memberikan pembelaan dengan memuji keberanian Stephen Chow dalam menggeser fokus narasi.

Alih-alih mengulang formula usang tentang pahlawan pria, Kung Fu Soccer dinilai menyegarkan karena mengangkat tema solidaritas dan pertumbuhan karakter perempuan di lapangan hijau.

Penggemar setia juga menyambut hangat kembalinya humor absurd serta adegan aksi teatrikal khas Chow yang dinilai berhasil membangkitkan kembali memori masa muda mereka.

Pengaruh kuat nostalgia ini bahkan membuat sebagian penggemar menyatakan tetap akan kembali membeli tiket untuk memberikan dukungan moral terlepas dari banyaknya ulasan miring yang beredar.

Melihat fenomena ini, peneliti dari School of Cultural Industries Management di Communication University of China, Bu Xiting, menilai respons yang terbelah ini merupakan refleksi dari pergeseran standar ekspektasi penonton di era modern.

Menurutnya, di era pemanfaatan AI yang kian masif seperti sekarang, penonton menuntut kualitas produksi yang jauh lebih tinggi sehingga jualan modal nostalgia saja tidak lagi cukup untuk memenangkan hati publik secara utuh.

Meski ulasan penonton terpecah secara ekstrem, film yang turut menampilkan kameo dari Carina Lau dan aktor Jepang Takeru Satoh ini tetap menjadi magnet utama yang merajai bioskop musim panas.

Mengandalkan momentum demam olahraga global menyambut siklus Piala Dunia 2026, film berkonsep multibahasa ini menguasai 48,2 persen slot penayangan nasional pada hari perdananya.

Performa komersial yang masif ini membuktikan bahwa nama besar Stephen Chow masih memiliki daya tawar yang luar biasa, meskipun keberlanjutan momentum box office film ini ke depan sangat ditentukan kekuatan testimoni dari mulut ke mulut ketimbang sekadar jualan nama besar sang sutradara.

Kung Fu Soccer baru akan tayang 12 Agustus di bioskop Indonesia.

(chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK