Review Film: Obsession

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 20:20 WIB
Review Obsession: Film ini membuktikan anggaran rendah bukan alasan untuk melahirkan horor yang murahan. (Blumhouse Productions)
Jakarta, CNN Indonesia --

Obsession menjadi pembuktian Curry Barker bahwa ide yang sederhana bisa cukup jadi modal membuat tragedi horor yang kelam dan solid.

Sebagai penulis naskah dan sutradara, Barker sukses menggodok pesan klasik mengenai konsekuensi dari suatu keinginan menjadi teror. Ia juga menyelipkan isu sensitif yang kerap luput dalam hubungan modern, yakni penolakan dan consent.

Totalitas yang solid di depan dan belakang kamera berhasil menjadikan Obsession sebagai tontonan horor yang tidak hanya menarik dari segi cerita, tapi juga kuat secara visual dan akting.

Semua tim tampak sangat sadar bahwa sedang menggarap cerita horor dengan pendekatan sedikit berbeda. Mereka memilih terjun langsung ke kegilaan plot, tanpa menyisakan waktu untuk menjelaskan latar belakang.

Rasa cemas dan stres diulur perlahan sejak menit pertama. Barker ogah memakai formula murahan lewat jump scare yang instan. Ia membangun suasana perlahan tapi pasti, dan makin lama terasa semakin menyimpang.

Detail cerita pun dijaga ketat. Ia merajut semua elemen cerita yang diberikan sejak awal secara konsisten, tanpa membiarkan ada yang menggantung atau terabaikan di akhir.

Pujian juga patut diberikan kepada Taylor Clemons selaku sinematografer. Ia sering kali menahan bidikan sedikit lebih lama pada wajah aktor untuk memanen suasana canggung.

Trik ini efektif memunculkan gestur mencurigakan, terutama bagi Nikki yang figurnya sering disembunyikan di balik bayang-bayang gelap.

Visual garapan Clemons dijahit pas dengan ritme penyuntingan gambar dari Barker, diperkuat tata suara racikan Rock Burwell yang konstan supaya menjaga ketakutan penonton tetap stabil.

Namun, pesona paling mengerikan dalam Obsession mutlak berada di pundak Inde Navarrette. Lakonnya sebagai Nikki pantas disebut sebagai salah satu penampilan paling menghantui tahun ini.

Ia dengan mulus mengantarkan perubahan karakter dari perempuan rentan yang memicu iba, menjadi sosok predator manipulatif yang meneror batin.

Kengerian itu juga dibangun perlahan dan memuncak saat Nikki tak sekadar terobsesi untuk 'menempel' dengan Bear, tapi juga menyerap dan meniru informasi hal-hal yang disukai pria itu demi bisa menirunya secara presisi.

Puncaknya kegilaannya meledak saat perang internal antara Nikki yang asli dengan entitas Wish Nikki dengan brutal memperebutkan tubuh perempuan tersebut.

Review Obsession: Penampilan Inde Navarrette sebagai Nikki jelas menjadi magnet utama film ini. (Blumhouse Productions)

Di sisi lain, Michael Johnston juga memberikan penampilan solid sebagai Bear. Naskah film ini juga patut dipuji karena menolak membersihkan dosa Bear atas petaka yang ia sulut sendiri.

Situasi itu yang tampaknya membuat sebagian penonton melupakan akar masalah dari seluruh tragedi dan telanjur menaruh simpati pada Bear karena pembawaannya yang malang.

Padahal, Bear adalah poros antagonis yang subtil. Ia punya sekian banyak momentum untuk tidak memulai atau mengakhiri kegilaan.

Ironisnya, ia malah memilih memelihara nestapa demi menyuapi ego dan keputusasaannya sendiri.

Johnston memahami cara menerjemahkan sosok pria pasif nan pengecut, sehingga ia tampil begitu menjengkelkan saat hanya duduk mematung, menonton Nikki yang asli mencoba merebut kembali kesadarannya dari Wish Nikki.

Keputusan Bear mempertahankan ilusi cinta instan menegaskan bahwa seluruh malapetaka merupakan akibat timbunan kepengecutannya sendiri.

Review Obsessionl: Michael Johnston paham cara menampilkan sosok pecundang yang begitu menjengkelkan. (Blumhouse Productions) Foto: (Blumhouse Productions)

Namun, pemain kunci dari lingkaran setan ini adalah Ian (Cooper Tomlinson). Ia contoh nyata dari sahabat toksik tingkat akut yang memanipulasi keadaan dari balik layar.

Tomlinson piawai memainkan topeng humoris karakternya untuk menyembunyikan isi kepala yang jahat. Ian bermain bidak catur sendirian, memanfaatkan kenaifan Bear untuk menelan semua dampak buruk dari saran dan hal-hal buruk yang ia bisikkan sepanjang waktu.

Catatan impresif juga ditinggalkan Megan Lawless sebagai Sarah. Meski jatah layarnya terhitung minim, Lawless mampu memanen simpati penuh penonton, terutama sekuens emosional yang begitu raw dalam mobil.

Review Obsession: Tomlinson mampu menghidupkan karakter Ian yang merepresentasikan teman toksik dalam kehidupan. Foto: (Blumhouse Productions)
Review Obsession: Meski jatah layarnya terhitung minim, Lawless mampu membuat tiap penampilan Sarah berkesan. Foto: (Blumhouse Productions)

Lewat nasib tragis Sarah dan Nikki, Barker dengan berani melempar kritik tajam tentang keputusan egois dari pengecut dan pecundang bisa menghancurkan hidup orang-orang di sekitarnya.

Pada akhirnya, Obsession menjadi bukti konkret bahwa anggaran rendah bukan alasan melahirkan tontonan yang kedodoran.

Mereka mampu eksekusi kisah mimpi indah berakhir petaka dengan atmosfer cemas yang konstan, dan performa akting jempolan, terutama dari Inde Navarrete.

(chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK