Review Film: Spider-Man Brand New Day

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Jumat, 31 Jul 2026 20:17 WIB
Review film: Spider-Man Brand New Day menunjukkan babak baru bukan berarti melupakan yang lalu, tetapi melangkah dengan formula baru yang lebih dewasa. (Columbia Pictures/Marvel Studios/Pascal Pictures/Sony Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika Spider-Man: No Way Home dirilis pada 2021, ada berbagai aspek yang membuatnya menjadi kisah Spider-Man versi Tom Holland terbaik. Hingga kemudian, Spider-Man: Brand New Day datang pada 2026.

Spider-Man: Brand New Day membuka pandangan baru akan perjalanan Spider-Man versi Tom Holland, setelah berbagai kekacauan multiverse dan box office di Marvel Cinematic Universe (MCU) pasca-Endgame.

Dengan saga keempat, serial Spider-Man ini bisa dibilang masih menjadi film MCU yang tidak seribet 'saudara-saudaranya', meski masih perlu konteks lebih banyak untuk penonton awam. Namun bagi pengikut Marvel sejak awal, Brand New Day jadi transisi halus yang cukup memberikan gambaran mau ngapain Marvel ke depannya.

Terlepas dari rencana ambisius Marvel yang sudah menyiapkan segudang proyek hingga 2042, Brand New Day adalah sebuah pijakan kecil yang tidak membebani penonton untuk semakin dalam masuk ke fase MCU selanjutnya.

Seperti judul film ini, Marvel Studios juga memberikan babak baru bagi Peter Parker versi Tom Holland. Memang meja penulis skenario masih diisi oleh Chris McKenna dan Erik Sommers, tapi isinya jauh berbeda dengan tiga naskah film sebelumnya.

Dengan Destin Daniel Cretton yang menggantikan Jon Watts di kursi nakhoda sutradara, atmosfer dan rasa Spider-Man: Brand New Day memang sangat berbeda dibandingkan tiga prekuelnya yang kental akan jiwa dan kehidupan remaja.

Brand New Day adalah film Spider-Man versi Tom Holland yang paling dewasa, realistis, humanis, dan emosional tanpa kehilangan sentuhan pesona keperkasaan khas film superhero.

McKenna dan Sommers berhasil meracik formula baru yang bisa menyesuaikan kisah superhero ramah itu dengan dilematika manusiawi seseorang yang kehilangan orang-orang penting dalam hidupnya, quarter-life crisis seorang pemuda, dan kerumitan cerita tipikal Marvel.

Naskah itu kemudian diwujudkan dengan mulus oleh Cretton. Pengalamannya dalam Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) tampaknya ikut memengaruhi caranya mengarahkan Brand New Day.

Review film: Dengan Destin Daniel Cretton yang menggantikan Jon Watts di kursi nakhoda sutradara, atmosfer dan rasa Spider-Man: Brand New Day memang sangat berbeda dibandingkan tiga prekuelnya yang kental akan jiwa dan kehidupan remaja. (Sony Pictures) Foto: (Sony Pictures)

Alon-alon asal kelakon, Cretton tidak terburu-buru dalam membimbing penonton untuk memahami alur Brand New Day. Pelan tapi pasti penonton diberikan dua sudut pandang, yakni dari mata Peter Parker dan mata Spider-Man.

Memang sebagai imbasnya, durasi Brand New Day terasa lebih lama dibanding No Way Home (2021). Meski faktanya film ini tiga menit lebih singkat dibanding No Way Home, rasa 'perlahan' itu terbayar dengan pemahaman humanis yang lebih kompleks dan realistis, dibanding No Way Home (2021) yang lebih memanjakan ego dan fantasi penggemar.

Apalagi racikan ini dieksekusi secara total oleh Tom Holland dalam penampilannya. Brand New Day jadi pembuktian bahwa Tom Holland memang terlahir untuk jadi Peter Parker, bahkan mampu menciptakan standarnya sendiri.

Aksi totalitas Holland, baik menjadi Parker maupun Spider-Man --ditambah film ini yang mengikuti kematangan fisik dan psikologis Holland sebagai seorang manusia dan terlihat dari air mukanya-- membuat Brand New Day menjadi panggung sempurna melihat hasil dari kombinasi faktor-faktor tersebut.

Seperti ketika Daniel Craig yang terlalu jauh meninggalkan kesan sebagai James Bond, memang ada kekhawatiran terlintas saat melihat Tom Holland di film ini, sampai kapankah ia menjadi Peter Parker? Apakah akan ada 'Tom Holland' lainnya yang mampu membuat standar sendiri sebagai Peter Parker tanpa harus menghapus jejak pemeran sebelumnya? Namun biarlah itu semua menjadi kepusingan Kevin Feige dan Amy Pascal.

Review Film Spider-Man: Brand New Day (2026): Peter bersama Frank dan Jean bisa menjadi bentuk trio lainnya yang seru nan menegangkan, selain formasi Peter-MJ-Ned yang saat ini terhenti. (Sony Pictures) Foto: (Sony Pictures)

Selain Holland, Sadie Sink adalah bintang dalam Spider-Man: Brand New Day. Meski jadi pendatang baru dan masih berusia 24 tahun, akting Sadie Sink terbilang menonjol bila dibandingkan dengan rekan-rekan pemain Marvel lainnya.

Pengalaman di panggung teater jelas mengasah Sadie Sink untuk mengolah rasa, sehingga mampu menampilkan aksi yang bukan cuma menunjukkan kekuatan luar biasa sebagai mutan, tetapi juga sentuhan humanis di dalam sorotan matanya.

Sadie Sink sebagai Jean Grey adalah salah satu keputusan terbaik Kevin Feige untuk menyelamatkan semesta MCU yang nyaris ambrol ini. Sink membuat rencana MCU yang mungkin akan berfokus pada manusia-manusia mutan di fase berikutnya menjadi lebih menarik dan menjanjikan.

Penampilan Jon Bernthal sebagai Frank Castle alias Punisher untuk pertama kalinya di layar lebar dan memasukkannya di kisah Spider-Man juga langkah yang sangat tepat dan logis, mengingat cerita latar belakang Peter Parker yang ruwet.

Hubungan Parker dengan Frank yang terbangun dan berkembang dengan jelas khas abang-adik jelas patut dipertahankan di saga-saga berikutnya. Peter bersama Frank dan Jean bisa menjadi bentuk trio lainnya yang seru nan menegangkan, selain formasi Peter-MJ-Ned yang saat ini terhenti.

Terlepas dari probabilitas yang mungkin muncul dalam cerita Marvel selanjutnya, Spider-Man: Brand New Day mengajarkan satu hal: perubahan untuk sebuah babak baru tidak melulu harus mengganti keseluruhan aspek, cukup mencari formula baru yang cocok tanpa meninggalkan fondasi yang sudah dibangun dengan sangat baik.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK