Recording Academy Hapus Video BTS di Grammy Buntut Aksi Boikot
Recording Academy menuai kecaman luas dari publik usai menghapus video penampilan BTS dari situs web resmi Grammys. Langkah itu dilakukan setelah superstar BTS memutuskan boikot ajang penghargaan musik tersebut.
Berdasarkan pantauan, rekaman video penampilan panggung langsung saat BTS membawakan lagu Dynamite pada 2021 dan Butter pada 2022 mendadak hilang dan tak lagi dapat diakses di portal resmi Recording Academy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski klip tersebut masih tersedia di saluran resmi milik grup, aksi penghapusan di situs Grammys memicu amarah penggemar global.
Pihak Recording Academy, seperti diberitakan Korea Times pada Minggu (2/8), belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan penghapusan tersebut.
Penghapusan video menyusul pernyataan bersama ketujuh member BTS pada 29 Juli yang mengonfirmasi tidak akan mendaftarkan satu pun karya musik untuk ajang 69th Grammy Awards yang rencananya digelar 7 Februari 2027.
"Kami memutuskan tidak mengajukan karya kami untuk Grammy Awards mendatang," bunyi pernyataan resmi BTS. "Kami berharap musik dapat diapresiasi dan dicintai apa adanya, tanpa disekat oleh batasan wilayah maupun bahasa."
Aksi boikot BTS dipicu kemunculan kategori baru garapan Recording Academy, yakni Best Asian Pop Music Performance.
Kategori yang diumumkan hanya dua bulan sebelum batas akhir pendaftaran pada 28 Agustus tersebut mewajibkan lagu yang didaftarkan memiliki setidaknya satu elemen bahasa Asia.
Aturan ini dinilai merugikan BTS lantaran album studio terbaru mereka, ARIRANG, mayoritas menggunakan lirik bahasa Inggris.
Para kritikus menilai kebijakan anyar ini sengaja dirancang untuk mengotak-kotakkan musisi Asia agar tidak menembus kategori utama seperti Song of the Year.
Langkah tegas BTS mendapat dukungan penuh dari berbagai tokoh di Korea Selatan, salah satunya CEO Hyundai Card, Ted Chung. Sosok penggagas konser musisi global di Seoul itu mempertanyakan logika di balik pembatasan kategori berbasis bahasa tersebut.
"Apakah keliru jika melihat kebijakan ini sebagai bentuk pengisolasian musisi Asia ke dalam kotaknya sendiri?" tulis Chung di media sosial.
"Dengan logika ini, apakah Bad Bunny atau Ricky Martin juga harus dipisahkan dan hanya diberi penghargaan musik Latin? Sebagian besar lagu BTS menggunakan bahasa Inggris, lantas bagaimana itu bisa masuk? Saya tidak pernah mendengar musik dibagi berdasarkan bahasa."
Menanggapi gejolak tersebut, CEO Recording Academy Harvey Mason Jr. berupaya meredam kontroversi dengan menyatakan penghormatannya atas keputusan BTS, seraya membela kategori baru tersebut sebagai bentuk perluasan pengakuan bagi musisi Asia.
"Saya sedih mendengar BTS memilih untuk tidak berpartisipasi dalam proses Grammy Awards tahun ini, tetapi sebagai sesama pencipta musik, saya memahami dan menghormati keputusan mereka," kata Mason dalam pernyataan resminya.
Sejumlah pengamat industri musik menyoroti dampak negatif dari pembentukan kategori berbasis regional, yang dinilai justru berisiko mengurung musisi luar Amerika Serikat dalam batasan tertentu.
Mereka menilai hal itu sebagai diskriminasi terselubung dan dikhawatirkan dapat menghalangi para artis non-Barat untuk mendapatkan pengakuan secara utuh di panggung global.
Menyikapi hilangnya video aksi panggung idola mereka di situs Grammys, para penggemar BTS di seluruh dunia merespons dengan kompak mengunggah ulang klip-klip tersebut di berbagai platform media sosial.
Mereka menegaskan bahwa menghapus video dari sebuah situs web sama sekali tidak akan menghapus rekam jejak dan pencapaian bersejarah yang pernah diukir BTS di panggung Grammy.
(chri)
