Review Film: Kung Fu Soccer

Christie Stefanie | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 20:00 WIB
Review film: Kung Fu Soccer tetap jadi paket nostalgia dan surat cinta yang menyenangkan meski terganjal efek visual. (MaoYan Movie/Shenzhen Film Studio/Star Overseas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Stephen Chow kembali membuktikan kepiawaiannya mengolah komedi absurd dan aksi beladiri khasnya melalui Kung Fu Soccer yang hadir untuk mengobati kerinduan penggemar.

Ia kini membawa ide cukup segar menceritakan sekelompok perempuan berusia 30-an yang dianggap sudah 'kedaluwarsa' untuk dunia olahraga, berjuang membuktikan kapasitas mereka lewat solidaritas dan kesempatan kedua.

Sejak menit pertama, Chow yang merangkap sutradara sekaligus penulis naskah ogah membuang waktu untuk basa-basi.

Ia langsung melempar penonton ke tengah arena, menyaksikan perjuangan klub sepak bola putri yang tak diunggulkan dalam turnamen besar.

Sayangnya, keputusan tancap gas sejak awal ini justru membuat paruh pertama film terasa agak ngos-ngosan untuk diikuti.

Penonton dipaksa menerima luapan emosi dan dinamika internal pemainnya begitu saja, tanpa dibekali fondasi cerita, latar belakang, atau motivasi yang jelas di balik amarah mereka.

Fokus penceritaan terletak pada Shuangshuang, kapten sekaligus pelatih tim sepak bola Emei yang diperankan Zhang Xiaofei.

Xiaofei tampil total dengan ekspresi maniak dan emosi yang meledak-ledak. Gaya aktingnya seolah jadi cermin versi perempuan dari karakter master brother yang ikonis di film-film Chow sebelumnya.

Pilihan penokohan dari Xiaofei membuatnya berada di garis tipis antara karakter yang menyebalkan dan juga protagonis yang perlu diberi simpati.

Ia kemudian dibenturkan dengan Dilraba Dilmurat yang memerankan karakter Yu Long, mantan sahabat yang pernah terpisah dan kini bersikap cuek.

Dilraba tampil total, melepas beban citra aktris jelita demi menceburkan diri secara profesional ke dalam peran yang santai tapi karismatik.

Review Kung Fu Soccer: Dilraba Dilmurat dan Zhang Xiaofei mampu mendalami karakter bertolak belakang yang bergesekan satu dengan lain.  (MaoYan Movie/Shenzhen Film Studio/Star Overseas)

Gesekan kepribadian Shuangshuang dan Yu Long sebetulnya punya modal kuat untuk digali lebih dalam, terutama dengan karakter lainnya. Sayangnya, eksekusi terasa dangkal sehingga kilas balik mereka seperti formalitas penambal lubang naskah.

Pendekatan ini bertolak belakang dari Shaolin Soccer yang begitu royal membagikan porsi tumbuh bagi karakter pendukung seperti Zhao Wei atau mendiang Ng Man-Tat.

Dalam 106 menit durasinya, Kung Fu Soccer menghabiskan begitu banyak waktu hanya fokus pada luapan amarah pemeran utama. Alhasil, karakter di luar mereka cuma berakhir jadi figuran tanpa jiwa.

Secara garis besar, ceritanya dibagi dalam tiga babak yang diselingi enam laga turnamen. Seperti biasa, Chow mengandalkan komedi slapstick bertubi-tubi dengan karikatur tim lawan yang tak kalah konyol.

Meski tak sebanyak pendahulunya, slapstick tersebut masih sangat sukses mengundang gelak tawa penonton, tapi ada juga yang terasa dipaksakan.

Emosi dan komedi dalam penceritaan seperti baru menemukan ritme yang pas masuk pertengahan film. Rekonsiliasi Shuangshuang dan Yu Long menjadi titik balik yang bikin penonton akhirnya sedikit paham alasan di balik gesekan di awal.

Babak semifinal di fase ini bahkan jadi sekuens terbaik di sepanjang film karena pacing yang rapi, humornya cair, diikuti efek yang smooth, jauh lebih memuaskan ketimbang laga puncaknya sendiri.

Kalau urusan bola dan slapstick di lapangan jadi jatah para aktris, ruang komedi di luar lapangan hampir sepenuhnya ditopang kuat oleh penampilan Lay Zhang (Zhang Yixing).

Momen salah paham antara karakternya, Xu Feng, dan Xiaofei melahirkan adegan paling mengocok perut di dalam bioskop.

Yixing jelas tampil tanpa beban dan menikmati setiap adegannya. Member EXO ini melepas habis status dan imej sebagai idola, menjadikannya penggerak plot yang vital.

Review Kung Fu Soccer: Zhang Yixing sukses menjadi tulang punggung komedi film ini saat berada di luar lapangan hijau. (MaoYan Movie/Shenzhen Film Studio/Star Overseas)

Review Kung Fu Soccer: Sisley Choi menjadi kejutan terbesar dalam film ini. (MaoYan Movie/Shenzhen Film Studio/Star Overseas)

Namun, kejutan terbesar justru datang dari Sisley Choi sebagai Ziba (88). Ia layak disebut sebagai scene stealer dalam film ini.

Dengan porsi tampilnya yang irit, ekspresi lempeng dan pembawaan santainya justru paling berhasil menghidupkan kembali ruh komedi klasik era keemasan Stephen Chow, sampai sukses panen tepuk tangan penonton di babak akhir.

Catatan mengganjal film ini justru datang dari departemen efek visual (VFX). Estetika komik absurd yang diusung Chow seperti tidak didukung pengerjaan CGI yang matang.

Beberapa adegan sederhana yang sebetulnya tak butuh efek heboh malah kelihatan janggal karena transisi gambar yang mendadak lambat dan terkesan glitchy.

Keterikatan emosi penonton pun sulit imbas adegan pertandingan lebih banyak diambil di depan green screen ketimbang lapangan sungguhan, menyisakan visual yang kaku dan hampa.

Memasuki babak akhir, kolaborasi Chow bersama editor Yeung Kai-wing dan tim efek seakan keteteran. Visual di laga final tampak begitu mentah dan dibiarkan lolos begitu saja, alhasil mengganggu rasa hanyut penonton.

Pada akhirnya, Kung Fu Soccer jelas bukan tontonan bagi mereka yang berburu naskah serius atau drama berbobot berat. Kekuatan utama film ini memang ada pada ketidaklogisan dan kegilaan komedinya sendiri.

Rasa cinta Stephen Chow pada filosofi kung fu masih terpancar kuat di sepanjang alur, diikat oleh dialog "Be water, my friend" yang diperdebatkan para karakternya dari awal sampai usai.

Bagi penggemar lama yang rindu humor absurd khas Chow dan penasaran melihat bagaimana gaya penceritaannya bergerak sekarang, film ini tetaplah sebuah paket nostalgia dan surat cinta yang menyenangkan untuk dinikmati.

(chri/chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK