Review Film: All Wishes Come True!

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 20:00 WIB
Film Animasi All Wishes Come True! (2026)
Review film: Dengan visual, cerita, dan aspek lain yang ditampilkan, mudah menilai All Wishes Come True sebagai salah satu film terbaik 2026. (CMC Pictures/Pearl Studio)
img-title Christie Stefanie
5
Review film: Dengan visual, cerita, dan aspek lain yang ditampilkan, mudah menilai All Wishes Come True sebagai salah satu film terbaik 2026.
Jakarta, CNN Indonesia --

Sutradara sekaligus penulis naskah Mu Zhengyang layak mendapatkan pujian tertinggi. Ia sanggup membuktikan proyek debut bisa langsung menjadi karya besar lewat All Wishes Come True.

Debut penyutradaraan ini juga bisa dibilang langkah nekat Mu Zhengyang. Ia meracik ulang mitologi klasik soal Eight Immortals atau Delapan Dewa dalam balutan aksi petualangan komedi dan bernuansa heist.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia pun cukup berani menyajikan kisah itu dalam 144 menit, durasi yang sesungguhnya cukup panjang untuk animasi.

Namun, kegeniusan Mu Zhengyang dalam membungkus itu semua membuat pertaruhan dibayar tuntas.

All Wishes Come True sukses besar mendominasi box office Tiongkok sekaligus kebanjiran pujian dari penonton hingga kritikus.

Kesuksesan itu hadir berkat banyak aspek. Salah satu keputusan paling cerdas dari Mu Zhengyang terletak pada sudut pandang penceritaannya.

Saat meramu ulang kisah klasik The Eight Immortals Cross the Sea, alih-alih langsung fokus pada satu dewa, ia memilih membukanya dari kacamata manusia biasa yang hidupnya terdampak dari hilangnya Lentera Yu Xu.

Pilihan ini terasa tepat karena memberikan bobot emosional yang pas pada sekelompok tokoh utama yang sejak awal justru diposisikan layaknya manusia biasa, bahkan pencuri kelas teri.

[Gambas:Video CNN]

Selain pemilihan fondasi cerita, kekuatan utama film ini juga terletak pada aspek visualnya.

Penonton dibuat terpukau sejak diajak masuk ke Penglai, utopia megah berselimut awan tempat dewa dan manusia hidup berdampingan, yang dieksekusi begitu cantik sehingga amat memanjakan mata dari sudut mana pun.

Teknologi mutakhir, seperti perahu melayang hingga sistem transportasi magis, yang disisipkan dalam Penglai pun tak terasa janggal, melainkan mempertegas aura kedewaan penghuninya.

Desain karakter Delapan Dewa bersama barang-barang pusakanya juga digarap begitu teliti berpatokan pada deskripsi teks tradisional.

Gestur, raut wajah, hingga sorot mata tiap tokoh, khususnya Zhongli Quan dan Lu Dongbin, terasa amat hidup hingga bisa mengutarakan emosi dan perasaannya hanya dari tatapan mata.

Film Animasi All Wishes Come True (2026)Review All Wishes Come True: Setiap karakternya terutama Zhongli Quan terlihat begitu hidup dan ekspresif. (CMC Pictures/Pearl Studio)
Film Animasi All Wishes Come True (2026)Review All Wishes Come True: Pijakan utama emosional cerita terletak pada dinamika hubungan Lu Dongbin dan Zhongli Quan yang begitu dalam hingga akhir. Foto: (CMC Pictures/Pearl Studio)

Salah satu pencapaian visual paling memukau juga terlihat pada figur Yang Jian. Dengan screen time yang cenderung singkat, pesona Yang Jian terpancar begitu agung benar-benar melampaui manusia biasa.

Di bawah arahan koreografer aksi Su Hang, setiap pergerakan karakter tampil dengan luwes dan memikat. Adegan tarungnya pun didukung latar tempat yang megah tanpa mengabaikan detail-detail kecil pemanis suasana.

Sehingga, kolaborasi studio Huameng Chengzhen dan Pearl Studio di sini benar-benar menghasilkan estetika animasi yang begitu mulus dan memesona.

Urusan humor pun dieksekusi dengan ritme dan timing yang presisi. Zhongli Quan jelas menjadi mesin komedi utama yang mengocok perut, didorong situasi absurd yang terus menimpa para dewa palsu tersebut.

Penyamaran mereka bahkan sedikit mengingatkan pada kekonyolan film Extreme Job, di mana misi penyamaran gila justru membuahkan keberhasilan tak terduga yang mendatangkan keuntungan besar.

Dalam aspek penokohan, All Wishes Come True menariknya enggan mematok garis tegas antara hitam dan putih.

Semua karakternya bergerak di area abu-abu, antara keinginan pribadi yang kemudian berubah menjadi pengorbanan, menelusuri penyesalan dan cacat moral yang dipaparkan lewat kilas balik di babak penutup.

Pijakan emosional cerita ini juga sangat jelas bertumpu pada hubungan Lu Dongbin (Li Shaozhe) dan Zhongli Quan (Chen Hao).

Dinamika mereka bukan sekadar gimik emosional murah untuk mengisi jeda antaraksi dan sekuens, melainkan sarana utama film ini untuk membedah tema penebusan dosa, loyalitas, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Untuk film yang skalanya mendadak jadi raksasa, menjaga hubungan intim nan emosional di tengah riuhnya adegan terbukti menjadi jangkar cerita yang sangat dibutuhkan.

Mu Zhengyang bahkan serius mendedikasikan 30 menit terakhir film untuk semakin memperdalam dinamika dan latar hubungan Lu Dongbin dan Zhongli Quan, membuatnya bisa langsung melesat ke bagian terbaik dari keseluruhan film.

Film Animasi All Wishes Come True (2026)Review All Wishes Come True: Mu Zhengyang berhati-hati dalam meracik ulang Eight Immortals bersama barang pusakanya. Foto: (CMC Pictures/Pearl Studio)

Meski komedi, perjalanan, dan pertarungannya digarap dengan asik bahkan menyenangkan, film ini seperti menolak untuk mendangkalkan elemen mitologinya demi sekadar memanjakan penonton global.

All Wishes Come True justru menantang penonton masuk dan menikmati dunianya sesuai aturan main yang ada, bahkan memperkenalkan mitologi klasiknya bagi yang benar-benar awam.

Kekhasan budaya China ini lah yang menjadi kekuatan terbesarnya.

Mu Zhengyang juga masih menyisipkan perenungan mendalam tentang kemanusiaan, takdir, identitas, dan bagaimana manusia bersikap terhadap tradisi leluhur.

Mitologi dan kisah klasik di sini bukan sekadar hiasan latar, melainkan menyatu rapat dengan tema besar cerita.

Namun, bisa diakui ambisi besar Mu Zhengyang terlihat jelas dalam film ini. Ia begitu bersemangat menuangkan begitu banyak ide kreatif yang dimiliki.

Sehingga, All Wishes Come True terasa terlampau ramai. Begitu banyak karakter, titik konflik, dan konsep mitologi yang dicekokkan dalam satu ruang tayang.

Meski demikian, ramainya narasi tersebut sama sekali tak merusak kenikmatan menonton secara keseluruhan. All Wishes Come True tetap menjadi pencapaian yang bagus, lucu, kaya budaya, dan penuh imajinasi.

Pada akhirnya, memang sangat mudah untuk menempatkan All Wishes Come True sebagai salah satu animasi bahkan tontonan terbaik tahun ini.

[Gambas:Youtube]

(chri/chri/chri)