Kronologi Kontroversi Mindfulness Maudy Ayunda Berujung Minta Maaf

CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 16:00 WIB
Berikut kronologi video 'Mindfulness' Maudy Ayunda picu kontroversi hingga berujung sang aktris minta maaf. (Asep Syaifullah/ Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maudy Ayunda menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah konten videonya mengenai penerapan konsep mindfulness di tengah maraknya rentetan kabar buruk di Indonesia memicu gelombang kritik dari warganet.

Gelombang kontroversi ini bermula tatkala Maudy mengunggah video opini berjudul mindfulness in the age of bad news pada 21 Agustus 2026.

Dalam unggahan itu, ia membagikan pengalamannya kewalahan secara emosional menyikapi berbagai kabar duka di Indonesia, mulai dari isu kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tepat sasaran.

Guna menjaga kesehatan mentalnya yang sensitif, Maudy memilih menerapkan "diet" berita dengan membatasi asupan informasi harian.

"Jadi aku enggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat itu bisa bener-bener bikin disfungsional," kata Maudy dalam video tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Namun, saran untuk menyaring dan menjauhi paparan berita buruk tersebut justru menuai reaksi keras dari publik. Banyak warganet menilai pandangan Maudy sangat tidak peka (tone-deaf) terhadap masyarakat terdampak.

Publik menyoroti bagi banyak orang, rentetan kejadian itu bukan sekadar 'informasi negatif' yang bisa diabaikan begitu saja, melainkan realitas pahit yang menghantam kehidupan, hingga keselamatan mereka secara langsung.

Apalagi, banyak netizen menilai bahwa mereka tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi karena merekalah yang merasakan dampak sesungguhnya di lapangan, salah satunya adalah karhutla.

"For many of us, it's not just a news. It's our REALITY... can't ignore it...." kata netizen di kolom komentar.

"bad news kamu adalah bad reality dari orang-orang tau, info aja," kata yang lain.

"tone deaf final boss," timpal yang lain.

"Ini kayak nasehat untuk sesama orang kaya," kata yang lain.

"Imagine describing someone else's suffering as 'negativity' you've chosen to remove from your life. The tone deaf Olympics have a new frontrunner." kata yang lain.

"Sakit hati banget ngeliat dia sarapan sehat enak senyum2 sementara org lain banyak kesusahan dan dia "ga nyaman" dengan berita org lain kesusahan. Gila lu modi," kata yang lain.

"Aku sedang membayangkan ketika mayoritas kaum terpelajar di Indonesia menerapkan pola ini, maka mereka akan sibuk menjaga mentalnya dibandingkan memberikan upaya solutif bagi saudara2nya yang terdampak bad reality."

Menanggapi arus kritik yang tak kunjung surut, Maudy akhirnya melayangkan klarifikasi sekaligus permohonan maaf melalui komentar yang disematkan pada unggahan videonya, Minggu (13/9).

Ia menyadari ada sudut pandang krusial yang luput ia refleksikan saat pertama kali menyusun opini tersebut.

"Bisa melangkah jauh dari berita itu sendiri adalah sebuah privilese. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya," tulis Maudy.

"Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," tulis Maudy.

Maudy meluruskan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk lepas tangan, bersikap acuh tak acuh, atau berpura-pura seolah situasi sedang baik-baik saja.

Sebaliknya, ia bermaksud bagai pemantik agar seseorang tetap tangguh dan peka tanpa harus kehilangan kewarasan diri. Maudy pun menyatakan bersedia mendengarkan seluruh masukan publik sebagai bahan pembelajaran ke depan.

(chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK