Review Film: Khadam

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Jumat, 18 Sep 2026 20:00 WIB
Khadam adalah film horor Malaysia tahun 2026 yang disutradarai oleh Shamyl Othman, dengan skenario karya Fariza Azlina Isahak.
Review Khadam: film ini bisa jadi film horor yang seru andai tidak kelamaan main teror-teroran dengan dedemit. (dok. Red Communications Sdn Bhd/Komet Productions/Sil-Metropole Organisation/Magma Entertainment/Applause Entertainment Ltd./Visual Media Studio (VMS)/Golden Screen Cinemas/Primeworks Studios via YouTube)
3
Aghniny Haque layak mendapat pujian dalam film ini.
Jakarta, CNN Indonesia --

Khadam sebenarnya bisa jadi film horor yang seru seandainya film Malaysia ini tidak ngotot menghasilkan suasana menakutkan, dan kelewat fokus pada bagian cerita tertentu.

Fariza Azlina sudah membuka kisah Khadam dengan menegangkan, bahkan visual yang diatur sedemikian rupa oleh sutradara Shamyl Othman juga sudah mendukung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalaman Fariza jadi aktris dekade 90-an dan sutradara film terlihat dari bagaimana ia menyusun kepingan cerita, yang memberikan ruang untuk para aktor dan Shamyl untuk berkreasi. Namun sayangnya ia terlalu kepingin bikin teror dedemit yang menegangkan dari seluruh penjuru rumah tanpa tetangga di tengah hutan tersebut.

Hal itu mungkin jadi salah satu alasan intensitas Khadam yang dimulai dengan sangat tinggi di awal, langsung jatuh dan kemudian berjalan begitu lambat hanya untuk mencapai titik klimaks yang setara dengan sebelumnya.

Seandainya Fariza tidak memilih mengulur waktu, durasi 118 menit film ini bisa jadi 90 menit bahkan kurang. Apalagi Khadam sudah memenuhi berbagai unsur film horor yang sangat efisien: pemain sangat sedikit, lokasi terisolir, dan ceritanya yang dekat dengan masyarakat Malaysia juga Indonesia.

Meski masih bisa dibikin lebih efisien, bukan berarti cerita feminisme, pesan melawan budaya patriarki, serta inklusifitas lewat pemakaian bahasa isyarat yang dibawa Fariza layak kena pemangkasan.

Komponen-komponen itu sudah kuat dan bahkan terbilang unik, mengingat Fariza menulis pesan itu dengan latar waktu 1957 atau tahun ketika Malaysia 'lahir'.

Khadam adalah film horor Malaysia tahun 2026 yang disutradarai oleh Shamyl Othman, dengan skenario karya Fariza Azlina Isahak.Review Khadam: Apalagi para pemain dalam film ini, terutama Aghniny Haque dan Remy Ishak, menjadi center point yang maksimal. Chemistry keduanya, baik dalam spektrum cinta hingga benci, terjalin apik. Foto: (dok. Red Communications Sdn Bhd/Komet Productions/Sil-Metropole Organisation/Magma Entertainment/Applause Entertainment Ltd./Visual Media Studio (VMS)/Golden Screen Cinemas/Primeworks Studios via YouTube)

Memasukkan unsur-unsur perlawanan perempuan terhadap kekerasan domestik, apalagi dilakukan oleh 'khadam' yang dibisukan oleh pihak otoritarian, di tengah situasi dan fasilitas yang terbatas, adalah gagasan menjanjikan.

Bahkan gagasan itu sudah bisa menjadi sebuah film 'horor' tersendiri, alih-alih memaksakan jadi film setan ala film horor Indonesia di dekade 80'an ketika semuanya beres dengan bacaan ayat suci, yang justru baru dilakukan saat sudah ada korban.

Apalagi, ruang 'playground' yang dibuat Fariza ternyata memabukkan bagi Shamyl saat mengarahkannya. Shamyl malah benar-benar membangun semua yang ditulis Fariza semaksimal mungkin tanpa tebang pilih.

Hasilnya, Khadam seperti ceramah profesor yang kepanjangan dan malah bikin mahasiswanya mengantuk tak bisa menerima banjir bandang informasi yang diterima. Padahal gambar yang diambil Harris Hue Abdullah, set desain produksi, kostum, tata rias yang disajikan sudah apik.

Satu hal lainnya yang bisa dibuang dari Khadam adalah penggunaan color grading yang terlalu gelap dan kuning, seolah-olah ngebet banget menampilkan cerita ini dari masa lalu, sementara sejatinya itu sudah diwakilkan dari tata rias, kostum, set lokasi, hingga beberapa properti yang jelas-jelas menunjukkan latar waktu.

Terbayang bila Shamyl lebih fokus menampilkan gambar yang senatural mungkin, dan hanya meminta editor dan visual efek untuk banyak bermain dalam efek-efek tertentu, mungkin Khadam yang juga ceritanya dipadatkan akan jauh lebih menarik.

Apalagi para pemain dalam film ini, terutama Aghniny Haque dan Remy Ishak, menjadi center point yang maksimal. Chemistry keduanya, baik dalam spektrum cinta hingga benci, terjalin apik.

Khadam adalah film horor Malaysia tahun 2026 yang disutradarai oleh Shamyl Othman, dengan skenario karya Fariza Azlina Isahak.Review Khadam: Khadam juga sebenarnya membuka perspektif baru bagi kolaborasi perfilman sesama negara Asia Tenggara yang tampaknya cukup menjanjikan mengingat kemiripan sejumlah budaya dan sejarahnya.. Foto: (dok. Red Communications Sdn Bhd/Komet Productions/Sil-Metropole Organisation/Magma Entertainment/Applause Entertainment Ltd./Visual Media Studio (VMS)/Golden Screen Cinemas/Primeworks Studios via YouTube)

Pujian khusus untuk Aghniny yang tampil berani dalam film ini, bukan hanya berperan kerasukan, tetapi membisu dan berbicara dengan bahasa isyarat, sampai main parang sambil berkeliling di atas tanah tanpa alas kaki.

Khadam jadi pembuktian proses kerja keras dan belajar Aghniny menjadi seorang aktris sejak debut pada 2018 dari sebelumnya beraksi di dunia taekwondo.

Meski filmografinya didominasi horor, perempuan 29 tahun itu punya peluang besar untuk terus melakukan tendangan yang tinggi di dunia akting selama masih mau mempelajari jurus dan arena baru.

Tak banyak aktris Indonesia yang memiliki jangkauan luas, mulai dari drama hingga laga dan horor, dan Aghniny jelas punya potensi itu.

Terlepas dari itu, Khadam juga sebenarnya membuka perspektif baru bagi kolaborasi perfilman sesama negara Asia Tenggara yang tampaknya cukup menjanjikan mengingat kemiripan sejumlah budaya dan sejarahnya.

Ya dibanding sekadar mengadaptasi atau menggarap ulang film dari negara sesama Asia Tenggara, rasanya berkolaborasi lebih terasa orisinal dan menguntungkan untuk sesama SEAblings.

[Gambas:Youtube]

(end)
placeholder