Drayang Kijang Kencana, Sajian Wayang yang Relevan dan Kekinian
Sajian seni tradisional tidak harus kaku dan kuno. Lewat pertunjukan drama wayang (drayang) bertajuk Kijang Kencana, sanggar tari Swargaloka ingin menunjukkan bahwa seni tradisional wayang mampu tampil relevan dan kekinian.
Dalam epos Ramayana diceritakan seekor kijang 'jadi-jadian' berhasil memancing Rama dan adiknya, Laksmana sehingga Shinta pun diculik Rahwana. Namun dalam drayang Kijang Kencana, penonton diajak menyelami kisah si kijang yang merupakan jelmaan raksasa bernama Kalamarica alias Cakil.
Bertempat di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, pertunjukan dimulai dengan siluet Gunungan dan beberapa tokoh wayang diiringi tetabuhan. Latar panggung serasa kelir (layar kain putih) dengan bayang-bayang wayang kulit.
"Jika wayang kau sapa dengan kata kuno, maka berkacalah pada Rahwana yang cintanya terus menunggu tak peduli zaman berganti," ujar sang narator seiring kemunculan bayangan tokoh Semar.
Perlahan ansambel pepohonan muncul, menari-nari mengiringi kehadiran Kalamarica. Kalamarica menjalani hidup seolah tanpa beban. Buat Kalamarica, selama ada ibunda, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Akan tetapi, semua itu berubah setelah ibunya yang mendadak berpulang. Kalamarica menangisi sang ibu yang terluka akibat panah. Tanpa ia ketahui, panah itu milik seorang ksatria bernama Rama yang sempat ia kagumi.
Meninggalkan tangis Kalamarica, penonton diajak menyusur muasal pembuangan Rama dan Shinta serta Laksmana ke hutan Dandaka. Di bagian ini, kemasannya memadukan siluet tokoh wayang Prabu Dasarata (ayahanda Rama) dan Dewi Kekayi (ibu tiri Rama) yang berdebat disaksikan Rama, Shinta, dan Laksmana yang hadir di panggung.
Pada akhirnya, Rama dan Shinta diikuti Laksmana mengasingkan diri ke hutan Dandaka.
Sementara itu, Kalamarica disambut para raksasa di Alengka dan dijanjikan hidup lebih baik oleh Rahwana. Adik Rahwana, Sarpakenaka, pun menyambut Kalamarica yang kemudian jadi salah satu anak buah kepercayaan Rahwana.
"Dunia akan berpihak pada mereka yang tidak diam. Bara akan menyala untuk cinta yang berkuasa," kata Rahwana meyakinkan Kalamarica.
Dari yang sedang tren sampai candaan 'pinggir jurang'
Semua orang tahu pada akhirnya Rahwana berhasil menculik Shinta. Kalamarica menjelma jadi kijang kencana dan mampu mengalihkan perhatian Rama dan Laksmana.
Akan tetapi, rasanya ini bukan soal bagaimana 'ending-nya' melainkan soal bentuk sajian dan perjalanan kisahnya.
Drayang mengandalkan live music dengan memadukan gamelan dan instrumen modern. Di momen-momen tertentu, pukul drum membuat suasana terasa lebih 'dar-der-dor'. Kemasan berupa drama musikal menuntut para pemainnya menyanyi dan menari.
Tarian tak sebatas gerak tari Jawa yang halus atau gerak tari modern yang enerjik. Salah satu yang menarik perhatian adalah gerakan dansa yang diperagakan Laksmama dan Sarpakenaka.
Pementasan drama musikal yang penuh nyanyian tak serta merta membuat pertunjukan membosankan. Dialog antarpemain tidak hanya mengantar penonton pada cerita tapi juga terselip bahasan yang sedang tren di kalangan muda.
Mulai dari Sarpakenaka yang menyanyikan lagu My Mine Gueh milik Naykilla, tawa 'ang-ang-ang' Shinta, lalu penyampaian ringkasan cerita yang diawali dengan "Pemirsa Insert, melaporkan langsung dari tempat peristiwa".
Kemudian jokes atau candaan 'pinggir jurang' yang mengkritik sikap pemerintah.
"Kamu jadi wakil tapi beneran kerja lho," ujar salah satu anggota pasukan raksasa di kerajaan Alengka yang disambut tawa penonton.
Di sela-sela penampilan para pemain di atas panggung, pertunjukan tetap menghadirkan wayang seperti yang dipahami masyarakat luas. Wayang kulit yang dimainkan dalang tidak berdiri sendiri tetapi jadi bagian dari cerita.
Kehadiran wayang kulit ini seolah mengingatkan bahwa drayang memang kembangan dari pertunjukan wayang kulit. Pun beberapa unsur pertunjukan wayang kulit dihadirkan di drayang.
Pertunjukan dimulai dengan Gunungan atau Kayon, ada adegan di keraton Ayodya, lalu banyolan kelompok raksasa yang mengingatkan orang akan bagian Gara-gara atau kemunculan Punakawan. Kemudian terdapat bagian pertarungan saat Rama dan Laksmana tahu bahwa sosok kijang sebenarnya adalah raksasa utusan Rahwana.
Mungkin yang perlu jadi perhatian ada beberapa dialog yang kurang jelas artikulasinya. Kalamarica saat mengenakan topeng khas Cakil membuat dia kesulitan menyampaikan dialog.
Selain itu, narator yang menyampaikan pengantar di awal pertunjukan mungkin lebih menarik jika disatukan dengan narasi dalang bersama wayang kulitnya.
Kendati demikian, drayang mampu memberikan suguhan yang bisa dinikmati dari awal sampai akhir nyaris tanpa rasa bosan. Padahal pentas berjalan cukup panjang dari pukul 15.00 sampai sekitar pukul 18.00 diselingi istirahat 15 menit.
(end)