Pro-Palestina Bakal Kepung Konser Ed Sheeran di Stadion Robert Kraft
Konser Ed Sheeran yang digelar di Gillette Stadium, Foxborough, milik pebisnis pro-Israel, Robert Kraft, pada Sabtu (26/9) waktu setempat, bakal didemo oleh kelompok pro-Palestina.
Kelompok Massachusetts Peace Action bersiap melakukan demo di konser yang mendepak Macklemore gegara meneriakkan seruan bela Palestina tersebut.
"Aksi di Foxborough ini juga akan menyoroti kontroversi seputar konser Ed Sheeran di Stadion Gillette," tulis Massachusetts Peace Action dalam situs mereka.
"Pemilik Stadion Gillette, Robert Kraft, telah mengakui perannya dalam menentang penampilan Macklemore di stadion tersebut setelah sang rapper memanfaatkan penampilannya untuk menyuarakan dukungan bagi Palestina," lanjutnya.
"Bagi penyelenggara demonstrasi Foxborough, kontroversi ini memunculkan isu lain yang sangat relevan dengan mobilisasi luas pada 26 September tersebut: semakin besarnya kekuatan para miliarder dan institusi berpengaruh dalam membentuk lanskap politik serta batasan debat publik kita."
Massachusetts Peace Action menyatakan aksi demonstrasi bela Palestina tersebut akan dimulai di sudut tenggara pertemuan Route 1 dan North Street pukul 14.30 waktu setempat, sebelum beranjak ke Gillette Stadium.
"Demonstrasi di Foxborough akan membawa isu-isu tersebut langsung ke lokasi konser Ed Sheeran di Gillette Stadium, bertepatan dengan kedatangan ribuan penonton," tulis Massachusetts Peace Action.
Gelombang penolakan publik ini dipicu langkah tegas pengelola acara yang mencoret Macklemore setelah melontarkan seruan "Free Palestine" di panggung MetLife Stadium awal September 2026.
Keputusan tersebut memicu aksi simpati susulan dari deretan musisi pembuka lain, seperti Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, hingga Beoga, yang memilih mengundurkan diri secara sukarela sebagai bentuk solidaritas.
Merespons memanasnya penolakan publik, Ed Sheeran sempat angkat bicara secara terbuka saat tampil solo di panggung Philadelphia pada Sabtu (21/9).
Ia mengaku situasi yang dialami dalam sepekan terakhir menjadi waktu terburuk dalam hidupnya, dan melanjutkan dengan menyinggung peristiwa 7 Oktober 2023.
Penyanyi asal Inggris itu menyampaikan permohonan maaf atas kekusutan situasi dan mengaku berada dalam posisi serba salah di tengah perdebatan sengit mengenai kebebasan berpendapat.
"Saya sangat khawatir dengan gagasan tentang pihak pengelola venue yang menyaring terlebih dahulu materi dari para penampil," tutur Sheeran, menyindir polemik pembatasan ekspresi yang menyeret nama Robert Kraft.
(end)