Kronologi Kontroversi Film The Assassin(s) hingga Dipolisikan

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 11:40 WIB
Film Korea The Assassin(s) (2026)
Berikut kronologi kontroversi film Korea The Assassin(s) yang buat tim produksi dilaporkan ke polisi. (Hive Media Corp)
Jakarta, CNN Indonesia --

The Assassin(s) sesungguhnya menjadi salah satu film yang menguasai box office Korea tahun ini. Namun, dominasi film dibintangi Yoo Hae-jin, Lee Min-ho, dan Park Hae-il ini mendadak terhenti imbas dugaan distorsi sejarah.

Film yang mengangkat kisah nyata upaya pembunuhan mantan Presiden Park Chung-hee pada 1974 itu tak hanya dihujani kritik tajam, tetapi juga berbuntut pada pelaporan ke pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang protes bermula dari premis film arahan sutradara Hur Jin-ho tersebut yang seolah menyiratkan adanya konspirasi tingkat tinggi di balik tragedi mematikan itu.

Insiden penembakan yang pada akhirnya menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo secara historis didalangi oleh Mun Se-gwang.

Namun, seperti diberitakan Korea JoongAng Daily pada Selasa (29/9) itu, judul film tersebut menggunakan bentuk jamak "Assassin(s)."

Tak hanya itu, sejumlah adegan protagonis juga mengisyaratkan keterlibatan lembaga negara atau kantor kepresidenan sehingga memicu kemarahan dari Yayasan Presiden Park Chung-hee.

[Gambas:Video CNN]

Yayasan tersebut merilis pernyataan resmi pada Senin (28/9) yang menuntut permintaan maaf secara publik sekaligus mendesak penghentian total penayangan film ini.

Situasi kian memanas keesokan harinya setelah Lee Jong-bae, mantan anggota dewan dari People Power Party (PPP), resmi melaporkan sang sutradara beserta tim produksi ke Kepolisian Metropolitan Seoul.

"Film ini menyajikan rangkaian adegan yang memunculkan kecurigaan mengenai keterlibatan aparat kekuasaan negara pada masa itu," kata Lee Jong-bae.

"Akibatnya, penonton pun beranggapan bahwa mantan Presiden Park Chung Hee mungkin berada di balik insiden tersebut atau terlibat dalam kejahatan itu," ia menegaskan.

Film ini sendiri menggandeng deretan bintang papan atas untuk menghidupkan ceritanya, termasuk Yoo Hae-jin sebagai detektif, Park Hae-il sebagai jurnalis veteran, Lee Min-ho sebagai reporter, dan Park Jung-min sebagai Mun Se-gwang.

Menanggapi eskalasi dan tekanan politik yang terjadi, Hive Media Corp selaku rumah produksi sekaligus distributor akhirnya buka suara.

Mereka menegaskan bahwa The Assassin(s) adalah karya fiksi yang meminjam motif peristiwa 1974 yang kemudian direkonstruksi dengan bumbu imajinasi sinematik, bukan untuk merevisi sejarah.

"Film ini sama sekali tidak menyebutkan sosok tertentu sebagai pihak di balik insiden tersebut, serta tidak menyajikan hipotesis maupun latar dramatisnya sebagai fakta sejarah," pernyataan rumah produksi.

Lebih lanjut, pihak studio turut membantah keras rumor liar di komunitas daring yang menuduh masuknya aliran dana dari investor China, memastikan bahwa seluruh pembiayaan proyek ini murni berasal dari modal kreator Korea Selatan.

Di tengah gempuran kontroversi tersebut, laju komersial The Assassin(s) mulai goyah.

Setelah sempat memimpin selama periode libur panjang Chuseok, data dari Dewan Film Korea mencatat film ini anjlok ke posisi kedua pada Senin dengan raihan 67.406 penonton.

Posisi puncaknya direbut seri penutup waralaba kriminal Tazza: Beelzebub's Song yang berhasil meraup 68.913 penonton.

Tren pelambatan ini tampaknya masih berlanjut, mengingat angka presale tiket The Assassin(s) tertahan di kisaran 11,3 persen dan mengekor di bawah film animasi Jepang, Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island.

(chri)