Cakatinding Siap Digalakkan Jadi Ikon Budaya dan Wisata NTT
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud) siap menggalakkan musik tradisional bambu Cakatinding sebagai ikon budaya Nusa Tenggara Timur.
Langkah tersebut diambil juga guna meningkatkan daya tarik wisata unggulan di NTT dan memperkuat identitas lokal di tengah pesatnya industri pariwisata Labuan Bajo.
Lihat Juga : |
Maestro musik tradisional Manggarai, Felix Edon, menyambut hangat inisiatif pemerintah daerah dalam menggemakan kembali seni pertunjukan asli daerah tersebut agar tidak tergerus zaman.
"Ini upaya yang sangat baik, untuk bisa menghidupkan kembali identitas budaya lokal kita di tengah industri pariwisata yang semakin pesat," ujar Felix saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (11/10).
Seni musik Cakatinding sendiri memiliki rekam jejak historis yang panjang.
Para petani Manggarai dulu memainkan alat musik berbahan bambu ini di area ladang dan sawah sekadar untuk melepas penat sekaligus mengusir hewan pengganggu, seperti kera dan babi hutan.
Seiring berjalannya waktu, instrumen Cakatinding bertransformasi dari tradisi agraris menjadi seni pertunjukan yang adaptif.
Alat musik tersebut kini mampu tampil mandiri maupun berkolaborasi harmonis dengan instrumen musik modern lainnya.
"Cakatinding sudah bisa berkolaborasi dengan suling, juk, gendang, gong, biola, bahkan bass gitar, gitar akustik, dan kajon. Alat ini sudah masuk dalam kelompok alat musik pertunjukan," jelas Felix.
Perjalanan panjang Cakatinding di panggung seni di mulai saat dimainkan oleh Sanggar Lawe Lenggong pada dekade 1990-an, hingga puncaknya dipagelarkan oleh 646 siswa se-Kecamatan Langke Rembong pada HUT RI 2004.
Setelah tampil di Festival Musik Bambu se-NTT 2013, Cakatinding akhirnya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 21 Oktober 2022.
Sementara itu, Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Manggarai Barat Fransiskus Selmas menegaskan pengembangan Cakatinding bukan sebatas ajang nostalgia masa lalu, melainkan strategi menyajikan pengalaman budaya otentik bagi para pelancong.
"Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga ingin merasakan pengalaman budaya yang khas. Musik bambu Manggarai adalah salah satu aset yang bisa kami tawarkan," kata Fransiskus, Senin (12/10).
Ia menilai penguatan basis kebudayaan menjadi elemen krusial bagi keberlanjutan industri pariwisata daerah.
"Melestarikan budaya Manggarai itu bukan soal menjaga masa lalu, tapi soal mempersiapkan identitas di masa yang akan datang. Membangun pariwisata tanpa budaya adalah sebuah industri tanpa jiwa," tegasnya.
Pemkab Manggarai Barat juga menggelar pelatihan Cakatinding bagi perwakilan siswa SMA se-Kabupaten Manggarai Barat sebagai langkah konkret merealisasikan rencana tersebut.
Para pelajar dibekali teknik pembuatan Cakatinding mulai dari pemilahan jenis bambu Pering tua, pemotongan pada fase bulan mati, hingga penyetelan nada pentatonik khas Manggarai (do, re, mi, sol, la).
Melalui pembinaan generasi muda ini, Pemkab Manggarai Barat menargetkan Cakatinding kelak rutin mengisi ruang-ruang publik, kawasan destinasi wisata, serta menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah yang mampu menghidupkan perekonomian masyarakat lokal.
(lou/chri)