Arie Kriting Kritik Nominasi FFI 2026
Komika sekaligus aktor Arie Kriting melayangkan kritik terbuka dan saran kepada penyelenggara Festival Film Indonesia (FFI) melalui unggahan di akun media sosial pribadinya.
Ia menyoroti bagaimana representasi karakter serta aktor berlatar belakang Indonesia Timur di industri perfilman nasional kerap dipandang sebelah mata dan terjebak dalam stereotip yang dangkal.
Lihat Juga : |
Arie mengungkapkan bahwa selama ini karakter dari Indonesia Timur sering kali hanya dilihat melalui "kaca mata orang kota" yang sempit.
Ia mempertanyakan standar yang kerap dilekatkan pada narasi tersebut, di mana karakter wilayah timur seolah-olah harus selalu digambarkan dalam kondisi tertindas agar diakui.
"Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap? Karena seperti itu definisi yang hadir di kepala banyak orang kota ini ketika bicara tentang Orang Timur," tulis Arie.
Dalam kesempatan yang sama, Arie memberikan sorotan khusus terhadap akting Irma Rihi sebagai Mak Marie film Na Willa.
Ia memuji karakter ibu yang dimainkan Irma tampil natural sebagai sosok ibu pada umumnya tanpa menghilangkan identitas khas ketimuran, hingga ia berharap sang aktris bisa dipertimbangkan sebagai nomine FFI tahun ini.
"Memangnya kenapa kalau berperan sebagai Ibu pada umumnya seperti yang dimainkan oleh Irma Rihi di film Na Willa itu?" tulisnya.
"Jadi dalam kesempatan ini saya sekadar menyarankan saja apa tidak sebaiknya teman-teman yang berkaitan dengan penjurian FFI ini menggali lagi perspektif mengenai karakter, terutama yang berkenaan dengan karakter daerah tertentu," kata Arie.
"Menggali lagi, biar sudut pandangnya tidak dangkal dan berputar di permukaan lalu luput mengenali bentuk-bentuk lain dari karakter yang hadir di layar lebar."
Selain masalah representasi peran, Arie menyentil adanya standar ganda dalam penilaian apresiasi dialek daerah.
Aktor asal kota besar disebut kerap menuai pujian melimpah saat menirukan logat Timur, padahal eksekusinya kerap campur aduk, seperti mengambil latar lokasi di Sumba tetapi justru menggunakan dialek Ambon atau Papua.
Meski memberikan catatan tajam, Arie menegaskan bahwa penentuan nomine merupakan hak penuh dewan juri dan ia tidak bermaksud menggugat penilaian tersebut.
Tujuannya mengunggah pernyataan tertulis tersebut semata-mata memberikan masukan konstruktif agar FFI ke depan bisa melihat dimensi karakter yang lebih luas dan beragam.
"Tentu saja ini cuma pendapat saya pribadi. Tapi saya yakin insan perfilman pasti terbuka dengan pendapat, masukan dan saran."
"Tapi di sini saya cuma mau saran saja. Mungkin butuh juga mendiskusikan hal semacam ini. Sehingga, ke depannya ada lebih banyak dimensi yang bisa dilihat dari kehadiran sebuah karakter di layar lebar," ia menekankan.
Ia menutup catatannya dengan mengutip pesan dari film Ratatouille bahwa seniman hebat bisa datang dari mana saja, demi mewujudkan FFI yang merepresentasikan wajah Indonesia yang majemuk dari Sabang sampai Merauke.
CNN Indonesia telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.
Saran dari Arie Kriting itu menuai banyak dukungan dan pujian dari para sutradara, penulis naskah, serta artis Indonesia lainnya.
Sutradara Kamila Andini melalui kolom komentar turut mencatat absennya nama Irma Rihi, Gina S Noer, serta Elisabeth Sisauta dalam daftar tahun ini.
Sementara Ernest Prakasa turut memberikan dukungan penuh dengan menyebut Irma Rihi "sungguh amat layak" menjadi nomine FFI.
Ryan Adriandhy selaku sutradara Na Willa yang juga tak masuk nominasi sutradara terbaik tahun ini turut berterima kasih atas pandangan yang disampaikan Arie Kriting, begitu pula dengan Bene Dion hingga Ibnu Jamil.
(chri)