Midday Meal, film arahan sutradara asal Iran Majid Majidi, sukses menyabet penghargaan tertinggi Best Film Award dalam ajang Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 pada Kamis (15/10) malam.
Kemenangan tersebut sekaligus membuat Midday Meal langsung mengantongi tiket otomatis untuk dipertimbangkan melaju ke ajang Academy Awards atau Piala Oscar mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat menerima piala di atas panggung, Majidi tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya kepada pihak festival. Ia mengungkapkan kehormatan besar bisa menerima penghargaan setinggi itu tepat pada kunjungan perdananya ke Busan.
Sutradara yang menggarap film Children of Heaven tersebut turut menyinggung bahwa seluruh energi untuk merampungkan karyanya ini mengakar dari cinta mendiang ibunya.
"Penghargaan ini sangat berarti bagi seluruh perjalanan hidup saya," kata Majidi dalam pidato kemenangannya seperti diberitakan Korea Times, Kamis (15/10).
Film Midday Meal menyoroti potret buram kehidupan Solan, satu-satunya sosok guru honorer bergaji miris di desa terisolasi dan gersang yang seolah berada di ujung dunia.
Di tengah keterbatasannya, Solan terus merawat satu mimpi sederhana, yakni diangkat menjadi guru tetap dan bisa tinggal di rumah yang layak bersama sang ibu.
Namun, roda nasib mulai menggilas asanya ketika donatur utama yang selama ini membiayai program makan siang di sekolah mendadak meninggal dunia.
Rantai dampaknya fatal. Jika jatah makan siang terhenti, murid-murid dipastikan bakal mogok sekolah dan penutupan institusi pendidikan kecil itu hanya tinggal menunggu waktu.
Terdesak oleh dinas pendidikan yang menolak memberi bantuan dan hanya bisa memaksa agar kelas tetap berjalan, Solan akhirnya mengambil langkah nekat. Ia mencairkan uang jaminan sewanya, pindah menetap di ruang kelas, dan mulai melakoni kehidupan ganda yang berbahaya.
Saat matahari terbit, ia adalah pahlawan pendidikan, tapi begitu malam tiba Solan berubah menjadi penyelundup minyak di perbatasan.
Presiden Dewan Juri BIFF 2026 Zhang Yimou melontarkan pujian setinggi langit untuk karya Majidi tersebut dan melabelinya sebagai film yang ideal.
Keputusan kemenangan Midday Meal bahkan disepakati secara bulat oleh ketujuh anggota dewan juri tanpa perdebatan berarti.
Sutradara Iran Majid Majidi saat menjelaskan soal Midday Meal di Busan International Film Festival 2026. Foto: (Arsip BIFF) |
Mulai pergelaran tahun ini, peraih penghargaan utama di seksi kompetisi Busan Award secara otomatis mendapatkan kualifikasi untuk mendaftarkan diri di kategori Best International Feature Film pada ajang Oscar.
Selain jaminan kualifikasi tersebut, gelar Best Film Award turut membawa pulang hadiah uang tunai sebesar 50 juta won atau sekitar Rp570 juta.
Pengumuman gelar paling prestisius tersebut dibacakan di pengujung upacara penutupan yang digelar di teater luar ruang Busan Cinema Center, Korea Selatan yang dipandu Yim Si-wan.
Sepanjang kompetisi, juri mengevaluasi 13 judul film undangan dari berbagai kawasan Asia, mencakup Korea, Jepang, China, Iran, Uzbekistan, hingga Indonesia.
Menariknya, sineas Indonesia juga tak pulang dengan tangan hampa. Sutradara Indonesia Eddie Cahyono berhasil mengamankan Special Jury Award berkat film garapannya yang bertajuk My Mother.
Sementara itu, sutradara Taiwan Lee Yun Chan berhak membawa pulang piala Best Director Award atas karyanya, To Be Ordinary.
Secara keseluruhan, BIFF tahun ini menorehkan pencapaian angka pengunjung yang impresif dengan total 200.043 penonton.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi pertama sejak 2015 di mana festival tersebut sukses menembus kembali ambang batas 200 ribu pengunjung.
Pihak penyelenggara menilai lonjakan antusiasme penonton ini dipicu dua siasat utama, yakni memajukan jadwal hari pembukaan dari yang biasanya Rabu menjadi Selasa, serta menambah kuota pemutaran film harian dari empat menjadi lima sesi.
(chri/chri/chri)


