Dokumenter You Can See Everything jadi sensasi baru di box office Amerika Utara setelah mencetak angka pembukaan jauh di atas prediksi, yaitu US$15 juta atau setara dengan Rp270,5 miliar (US$1=Rp18.039).
Pendapatan tersebut pun hanya datang dari 855 bioskop, di mana seluruh penayangan film itu, dilaporkan A24 selaku studio, laris manis alias sold out dengan 70 persen penonton berusia di bawah 35 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan perolehan tersebut, seperti diberitakan Variety, ini jadi debut terbesar untuk film yang ditayangkan di kurang dari 1.000 layar sejak film Borat (2006) yang meraih US$26 juta dari 837 bioskop, belum disesuaikan dengan inflasi.
Selain itu, perolehan ini jadi pembukaan terbesar untuk sebuah film dokumenter dalam lebih dari 20 tahun, sejak Fahrenheit 9/11 (2004) yang mencatatkan debut US$24 juta dari 868 bioskop, belum disesuaikan dengan inflasi.
Penjualan tiket You Can See Everything juga tergolong luar biasa, bukan hanya untuk kategori film dokumenter, tetapi juga untuk film arthouse pada umumnya saat ini.
Pencapaian dokumenter garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim tentang kehidupan Elizabeth Holmes yang dibuat 'hanya' sebesar US$7 juta tersebut pun jauh di atas prediksi sebelumnya.
Variety mengatakan film ini semula dinilai hanya akan meraih pendapatan awal US$7-8 juta, yang sebenarnya sudah sangat impresif untuk sekelas film dokumenter apalagi bukan bertema musik, atau menampilkan artis populer, dan berdurasi tiga jam dengan minim promosi.
Namun penayangan film ini yang mengejutkan di Telluride Film Festival, didukung dengan testimoni penonton sebelumnya, serta berbagai pujian para kritikus, mendorong film yang diproduksi diam-diam ini jadi sensasi saat diumumkan dua bulan lalu.
A24 melaporkan lebih dari 2.000 penayangan tiketnya terjual habis. Penonton berbondong-bondong ke bioskop untuk menghindari bocoran cerita, yang dianggap Variety lebih janggal dibanding saat film fiksi tayang mengingat film ini adalah dokumenter.
You Can See Everything mengikuti kisah Elizabeth Holmes, pendiri perusahaan teknologi kesehatan Theranos yang kini telah tutup, bersama pasangannya, Billy Evans.
Keduanya mengundang tim produksi film untuk mendokumentasikan kehidupan mereka, dimulai dari beberapa minggu sebelum Holmes mulai menjalani hukuman penjara federal di Amerika Serikat akibat kasus penipuan terhadap para investor.
Variety mengatakan publik, terutama anak muda, tampak sangat terpikat dengan drama seputar Holmes, yang kisah kebangkitan hingga kejatuhannya yang dramatis pernah diangkat dalam serial Hulu, The Dropout, yang dibintangi oleh Amanda Seyfried.
Namun antusiasme terhadap You Can See Everything yang membuat film ini debut di posisi dua di tangga box office akhir pekan Amerika Utara juga menunjukkan daya tarik komersial dari Nathan Fielder.
Fielder dikenal piawai memadukan realitas dan fiksi melalui karya-karya seperti The Rehearsal yang tayang di HBO dan Nathan For You di Comedy Central.
"Ini adalah akhir pekan yang luar biasa bagi genre ini," ujar analis David A. Gross dari FranchiseRe. "Film dokumenter jarang mendapatkan perilisan luas-biasanya hanya muncul satu kali setiap dua tahun-dan rata-rata pendapatannya mencapai US$3 juta dalam tiga hari pertama penayangan."
Sementara itu, Street Fighter debut di peringkat pertama dengan perolehan US$31 juta. Menurut data Box Office Mojo, film ini juga mendapatkan US$20,1 juta di pasar internasional sehingga pendapatan global pertamanya jadi US$51,1 juta.
Posisi tiga ditempati oleh Other Mommy yang pekan lalu berada di posisi puncak. Kali ini, film yang dibintangi Jessica Chastain itu mendapatkan US$8,3 juta sehingga pendapatan domestiknya menjadi US$44,8 juta.
Whalefall debut di posisi empat dengan perolehan US$8 juta, sementara ia mendapatkan US$9,5 juta di pasar internasional, sehingga menggenapi perolehan globalnya menjadi US$17,5 juta. Sense and Sensibility debut di posisi lima dengan perolehan US$7,25 juta.
