Sejumlah selebritas Indonesia mengaku malu saat berada di Malaysia ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berdampak ke negara tetangga tersebut.
Eks anggota JKT 48 Cesen, Acha Sinaga, hingga Pevita Pearce turut menyoroti kondisi tersebut melalui media sosial.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cesen yang tampak mendatangi kawasan Genting Highlands bersama keluarganya mengaku malu hingga canggung dengan situasi kabut asap karhutla di Malaysia.
"Malu dikit. Baru kali ini jalan-jalan rasa canggungnya ada banget," cerita Cesen di akun Instagram Story pribadinya, seperti diberitakan detikHot pada Minggu (18/10).
Hal senada juga diungkapkan Acha Sinaga saat berkunjung ke Malaysia. Ia bahkan mengaku meminta maaf kepada supir taksi online atas kondisi asap tersebut.
"Jujur selama di Kuala Lumpur aku ngerasa malu sebagai warga negara Indonesia. Kirim asap ke negara mereka, ibaratnya kita bertetangga terus buang sampah ke rumah sebelah," ungkap Acha Sinaga.
"Setiap naik Grab pasti aku bilang I'm sorry, our country sent you haze like this. Kemarin keponakanku sekolahnya sampe diliburin loh karena asapnya semakin parah," ungkapnya.
Pevita Pearce yang kini tinggal di Malaysia bersama suaminya juga menyoroti kondisi Kuala Lumpur yang terdampak kabut asap karhutla. Pada 21 September 2026, ia membagikan kondisi ibu kota Malaysia melalui media sosial.
"Get well soon, Indonesia...," tulis Pevita Pearce. "Malu," lanjutnya dalam unggahan lainnya.
Pevita menuliskan kondisi Kuala Lumpur semakin tertutup asap karena karhutla.
"Kuala Lumpur masih tenggelam di dalam asap karhutla dan semakin parah setiap harinya."
Sementara itu, asap karhutla dari Indonesia juga masih terdeteksi di wilayah negara tetangga.
Berdasarkan pantauan BMKG melalui citra satelit Himawari pukul 08.00 WIB pada Senin (19/10), indikasi sebaran asap kini bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.
Transboundary haze atau pencemaran asap lintas batas dari Sumatera terdeteksi di Semenanjung Malaysia dan Singapura. Semenanjung Malaysia dan Singapura juga tercatat terpengaruh asap karhutla dari Kalimantan. Sama halnya dengan wilayah Sarawak.
BMKG juga melaporkan adanya transboundary haze dari Papua Nugini ke Papua Selatan.
Sementara itu, merujuk pantauan BMKG di wilayah Indonesia, sebaran kabut asap akibat karhutla masih berada di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.
Asap juga terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Asap imbas karhutla juga terlihat bergerak di wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih adanya 5.499 titik panas (hotspot) dan 247 titik api (firespot) pada enam provinsi prioritas karhutla di Indonesia. Data ini didasari dari Dashboard Informasi Penanganan Karhutla per Minggu (18/10).
Sementara itu, kualitas udara di empat daerah di Indonesia masuk dalam kategori berbahaya atau hitam. Keempat daerah ini adalah Pangkalan Bun dan Palangkaraya di Provinsi Kalimantan Tengah, serta Muaro Jambi dan Kota Jambi di Provinsi Jambi. Data kualitas udara ini diperoleh dari pantauan BMKG per Senin (19/10) pukul 08.00 WIB.
(van/chri)

