Upin dan Ipin Aktif Kritisi Bahaya Jerebu sejak 13 Tahun Lalu

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 05:00 WIB
Upin dan Ipin sudah aktif mengingatkan bahaya jerebu atau kabut asap sejak 2013. (Les' Copaque)
Jakarta, CNN Indonesia --

Upin dan Ipin kembali menjadi sorotan setelah menyuarakan keresahan terkait polusi dan kabut asap kebakaran hutan di Indonesia yang masih menyelimuti Malaysia.

Kritik yang disampaikan melalui unggahan media sosial dalam beberapa waktu terakhir ternyata bukan kali pertama serial asal Malaysia itu mengangkat persoalan jerebu atau kabut asap.

Upin dan Ipin pernah membahas persoalan tersebut melalui episode bertajuk Bahaya Jerebu yang tayang di YouTube pada 14 September 2015. Namun, episode tersebut sesungguhnya bagian dari season 7 yang pertama kali rilis Oktober 2013.

Episode itu menyoroti penyebab munculnya jerebu, dampaknya terhadap kesehatan, hingga gangguan yang ditimbulkan terhadap aktivitas warga Kampung Durian Runtuh.

Sejumlah tokoh, mulai dari Tok Dalang, Kak Ros, hingga Cikgu Melati, turut memberikan penjelasan dan edukasi mengenai bahaya jerebu.

Dalam episode tersebut, Tok Dalang menjelaskan bahaya jerebu bagi kesehatan hingga dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari.

Ia juga menjelaskan bahwa jerebu dapat muncul akibat kebakaran lahan yang dipicu oleh tindakan manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah di ruang terbuka.

[Gambas:Video CNN]

Dalam episode itu, jerebu juga digambarkan membatasi aktivitas warga Kampung Durian Runtuh. Mereka harus mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, para bocah tidak bisa leluasa bermain di luar rumah karena khawatir jatuh sakit.

Episode tersebut juga memperlihatkan kegiatan belajar-mengajar yang terdampak jerebu. Guru dan murid Tadika Mesra digambarkan harus menggunakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap.

Dalam kelas, Cikgu Melati menjelaskan bahwa jerebu dapat berasal dari asap pembakaran terbuka, kebakaran hutan, pembakaran sampah, hingga asap kendaraan. Kondisi cuaca panas juga dapat memperburuk keadaan.

Ia menjelaskan paparan jerebu dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, seperti batuk, demam, dan iritasi mata. Karena itu, para murid diingatkan menjaga lingkungan sekitar agar kualitas udara tetap terjaga.

Melalui Bahaya Jerebu, Upin dan Ipin mengingatkan penonton tentang pentingnya menjaga alam sekaligus memahami dampak pencemaran udara terhadap kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Upin dan Ipin tak berhenti menyindir kabut asap dari Indonesia yang masih terus menyelubungi negara-negara tetangga, terutama Malaysia. Kabut asap tersebut merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan yang tak berhenti-henti.

Sejak September 2026, Upin dan Ipin sedikitnya lima kali posting soal kabut asap, baik mengenai konten edukasi hingga sindiran karena kabut asap yang tak kunjung membaik.

Si kembar dari Desa Kampung Durian Runtuh itu juga pernah memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat di tengah kepungan bencana kabut asap (jerebu) yang tengah melanda kawasan Asia Tenggara, khususnya wilayah Malaysia.

Unggahan tersebut memuat panduan praktis bertajuk "Cara Lindungi Diri dari Jerebu" guna mengimbau masyarakat agar tetap siaga menjaga kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara.

Dalam unggahan itu, Upin dan Ipin membagikan lima langkah utama untuk melindungi diri dari bahaya polusi asap.

Kelima panduan tersebut meliputi imbauan untuk menghindari paparan sinar matahari secara langsung, rutin mengonsumsi air putih dalam jumlah cukup, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, selalu mengenakan masker saat beraktivitas, serta menjaga kebersihan diri.

Sementara itu, dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia ini, pemerintah telah menerapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) berbasis dry ice untuk mengurai penumpukan kabut asap dan meningkatkan jarak pandang.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 1.481 hektare lahan masih terbakar di berbagai wilayah Indonesia hingga Rabu (21/10).

Luas tersebut mencakup area di enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun wilayah lainnya.

Enam provinsi prioritas karhutla ini meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.

Di luar enam provinsi prioritas, karhutla tercatat terjadi dengan luas lebih dari 1.044 hektare. Sebanyak 44 hektare telah dipadamkan, sedangkan sekitar 1.000 hektare masih belum padam.

(van/chri)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK