Star Trek Berduka Patrick Stewart Meninggal: Rest in Heaven, Captain

CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 08:00 WIB
Patrick Stewart dalam serial Star Trek: Picard (2020)
Ucapan duka dan penghormatan terakhir mengalir deras dari keluarga besar waralaba Star Trek menyusul kabar kepergian Patrick Stewart. (TM &2022 CBS Studios Inc.)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ucapan duka dan penghormatan terakhir mengalir deras dari keluarga besar waralaba Star Trek menyusul kabar kepergian Patrick Stewart.

Aktor legendaris yang dikenal lewat perannya sebagai Captain Jean-Luc Picard ini meninggal dunia pada Rabu (28/10) saat berusia 86 tahun akibat Alzheimer dan demensia Lewy body.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

William Shatner sebagai sesama kapten kapal USS Enterprise, mencurahkan rasa kehilangannya lewat unggahan di Facebook.

"Sungguh pekan yang sangat mematahkan hati. Sir Patrick Stewart adalah seorang sahabat, rekan kerja, dan aktor yang luar biasa. Dari atas panggung hingga anjungan Enterprise, ia membawa kecerdasan, keanggunan, dan rasa kemanusiaan yang mendalam," tulisnya.

"Captain Picard mewakili sisi terbaik dari kita, begitu pula pria yang memerankannya. Hati saya tertuju untuk Sunny dan keluarganya. Ia akan sangat dirindukan," kenangnya.

Kesedihan serupa disuarakan George Takei yang merupakan lawan main Shatner di Star Trek: The Original Series. Lewat platform Bluesky, Takei menyebut Stewart sukses menginspirasi generasi pencinta bintang dan membawa Enterprise ke tempat yang belum pernah dijamah sebelumnya.

"Hati kami sungguh berat. Rest in heavens, Captain," tulisnya.

[Gambas:Video CNN]

Jejak Stewart sebagai Captain Jean-Luc Picard memang merentang amat panjang, dimulai dari serial Star Trek: The Next Generation pada 1987, melintasi empat film layar lebar rentang 1994 hingga 2002, sampai akhirnya kembali mengenakan seragam kebesarannya di tiga musim serial Star Trek: Picard pada 2020.

Bagi LeVar Burton yang setia mendampinginya sebagai Geordi La Forge di berbagai proyek tersebut, sosok Stewart jauh lebih besar dari sekadar rekan kerja.

"Dia adalah keluarga. Tidak ada konteks lain yang masuk akal untuk menempatkannya. Dari semua sosok bergelar kebangsawanan yang saya kenal, jauh di lubuk hatinya, dia adalah yang paling konyol," seloroh Burton yang mengaku beruntung bisa mengenal kemurahan hati Stewart.

Di balik layar, para kreator juga tak bisa menyembunyikan kepedihan mereka. Alex Kurtzman, salah satu kreator serial, mengenang betapa Stewart selalu menuntut kebenaran dalam karakternya demi menyuguhkan nostalgia sekaligus mendobrak ekspektasi penggemar lama.

"Lebih dari segalanya, dia ingin bangga dengan karyanya karena dia tahu Jean-Luc Picard akan menjadi warisannya," urai Kurtzman.

"Sebuah warisan yang juga mencakup keberaniannya untuk bersuara tentang hal-hal yang ia yakini, caranya mencintai sang istri, dan caranya memeluk anjing pitbull mana pun yang ia temui. Dia adalah keajaiban. Dia adalah rekan saya. Dia sahabat saya. Pada akhirnya, dia adalah dan akan selalu menjadi kapten saya."

Patrick Stewart dalam episode Q Who Star Trek: The Next Generation (1987).Patrick Stewart dalam episode Q Who Star Trek: The Next Generation (1987). Foto: (Paramount Pictures via IMDb)
Star Trek: PicardPatrick Stewart dalam serial Star Trek: Picard (2020). (CBS Television Studios via IMDb)

Pujian setinggi langit turut dilontarkan oleh co-creator Akiva Goldsman yang melabeli Stewart sebagai alkemis langka yang mampu menyulap kata-kata tertulis dari naskah menjadi darah dan daging.

Ia menyebut pemeran ikonis tersebut sebagai sosok yang baik, tangguh, sangat cerdas, rapuh, sekaligus bijaksana.

Sebagai penutup ikatan duka tersebut, produser eksekutif Terry Matalas merangkum kehilangan ini dengan kalimat yang mewakili perasaan seluruh kerabat.

"Patrick Stewart adalah bakat yang singular, seniman yang penuh gairah dengan selera humor yang menular. Dunia terasa sedikit kurang benderang tanpanya."

(chri)
LIHAT SELENGKAPNYA