Laporan Senat AS mengenai praktek interogasi brutal yang dilakukan CIA mempertanyakan kualifikasi kedua ahli psikologi tersebut dan menuduh mereka melanggar kode etik profesional karena menjadi arsitek praktek penyiksaan para tahanan CIA.
Laporan ini menyebut kedua ahli psikologis ini sebagai "Dunbar" dan "Swigert" tetapi disebut oleh sumber-sumber intelijen AS sebagai James Mitchell dan Bruce Jessen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CIA juga membayar US$ 1 juta untuk melindungi perusahaan itu dan pegawainya tidak bisa dituntut secara hukum.
"Tidak satupun dari ahli psikologi ini yang memiliki pengalaman sebagai interogator atau memiliki pengetahuan khusus mengenai al Qaidah, latar belakang di bidang kontra-terorisme, atau pengalaman terkait budaya atau bahasa," tulis laporan yang dirilis pada Senin (9/10).
Salah satu pengalaman penyiksaan dialami oleh Abd al-Rahim al-Nashiri yang ditangkap pada 2002 karena diduga menjadi dalang pengeboman kapal USS Cole di Aden pada 2000.
Saya tidak bisa membenarkan atau menyangkal bahkan jika saya terlibat. Tanyakan pada CIA.James Mitchell, mantan psikolog yang dikontrak CIA |
Sejumlah personel CIA yang terlibat dalam episode ini memutuskan bahwa Nashiri tidak memegang informasi penting terkait rencana terorisme.
Bahkan setelah itu, seorang ahli psikologi yang hadir mendesak agar Nashiri terus menjalani metode penyiksaan lain untuk menciptakan "perasaan kalah."
Kepala interogasi CIA juga merasa terganggu ketima menerima usul interogasi sehingga mengirim surat elektronik ke rekan-rekannya yang menyatakan bahwa program itu "kecelakaan kereta" yang tinggal menunggu waktu, dan dia tidak mau lagi terlibat di dalamnya.
"Mengapa kamu terus mengganggu saya?" tanya Mitchell, yang sudah pensiun di Florida, ketika dikontak melalui sambungan telpon oleh kantor berita Reuters.
"Saya tidak bisa membenarkan atau menyangkal jika saya pun terlibat. Tanya ke CIA."
Dia dikutip mengatakan kepada harian Guardian pada April bahwa dia tidak merasa harus minta maaf, dan bahwa "saya melakukan yang terbaik sesuai kemampuan saya."
Nilai Tinggi
Laporan ini menyebut bahwa kedua ahli psikologi ini diijinkan menilai hasil kerja mereka sendiri, dan mereka memberi nilai tinggi.
"Para kontraktor membuat evaluasi resmi apakah keadaan psikologi para tahanan masih bisa menjalani teknik-teknik interogasi, bahkan penilaian bagi tahanan yang mereka interogasi sendiri," ujar Dianne Feinstein, ketua Komite Intelijen Senat.
Dalam kata pengantar laporan ini, Feinstein menulis bahwa "kesimpulan pribadinya" sejumlah tahanan CIA telah disiksa.
Di depan Senat, dia mengatakan kesepakatan dimana para pakar psikologi ini menilai sendiri hasil kerja mereka merupakan "konflik kepentingan dan pelanggaran dari panduan profesional."
Mitchell dan Jessen, yang disewa oleh CIA membantu mendapatkan informasi dari tersangka setelah serangan 11 September 2001, menyebut pengalaman mereka dalam program era Perang Dingin yang mengajarkan tentara AU Amerika Serikat melawan interogasi keras jika ditangkap.
Pada 2002 keduanya membuat satu pendekatan yang pada dasarnya "rekayasa terbalik" dari program Ketahanan, Penolakan, Perlawanan, Melarikan Diri, SERE, milik Angkatan Udara AS.
"Saya hanya orang yang diminta berbuat sesuatu bagi negara oleh orang-orang yang duduk di pemerintah, dan saya berbuat semampu saya," ujarnya dalam wawancara dengan koran Guardian pada April.
Al-Nashiri tersangka teroris terakhir yang menjalani teknik interogasi kejam CIA kini berada di penjara Guantanamo. (Getty Images/Petty Officer 1st class Shane T. McCoy/U.S. Navy) |
Laporan Senat menyebutkan bahwa pada Oktober 2004, 21 bulan setelah Nashiri menjadi tahanan terakhir yang menjalani teknik interogasi tersebut, satu penilaian oleh salah satu ahli psikologi ini dan seorang interogatir CIA menyimpulkan bahwa tahanan tidak memiliki "informasi penting."
Keputusan ini menggambarkan kesimpulan umum laporan Senat itu bawha interogasi di penjara-penjara rahasia CIA tidak efektif.
Senat melaporkan bahwa selama beberapa tahun, Nashiri yang sekarang berada di penjara Teluk Guantanamo setelah ditahan di sejumlah penjara rahasia CIA, menudup personel AS memberi obat atau meracuninya dan menjalani aksi mogok makan.
Al-Nashiri tersangka teroris terakhir yang menjalani teknik interogasi kejam CIA kini berada di penjara Guantanamo. (Getty Images/Petty Officer 1st class Shane T. McCoy/U.S. Navy)