Seorang pejabat kelompok al Qaidah di Sememanjung Arab, AQAP, mengatakan Washington telah berbuat "kebodohan" karena memilih mempergunakan militer daripada perundingan.
"Presiden Barack Obama dan pemerintahnya tahu keadilan tuntutan kami, dan mereka seharusnya bisa berunding mengenai hal itu atau bersikap tulus dalam masalah ini," ujar Nasser bin Ali al-Ansi dalam video yang diunggah ole kelompok Intelijen SITE yang memonitor militan Islam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luke Somers, wartawan AS, dan Pierre Korkie seorang guru dari Afrika Selatan ditembak oleh penculik ketika terjadi penyerangan di Wadi Abadan, Shabwa yang merupakan salah satu markas kuat al Qaeda.
Penduduk setempat mengatakan serorang perempuan, anak berusia 10 tahun dan seorang ketua al-Qaidah di daerah ini termasuk dalam 11 korban yang tewas dalam tembak-menembak pada Sabtu (6/12) tersebut.
AQAP dipandang Washington sebagai satu cabang kelompok militan global yang paling kejam dan berbahaya.
Upaya pembebasan ini merupakan langkah serupa kedua dalam 10 hari dan dilakukan setelah kelompok ini mengultimatum AS untuk memenuhi tuntutan mereka dalam waktu tiga hari.
Dalam rekaman video ini al-Ansi mengecam penahanan seorang ulama Mesir terkenal dan ahli syaraf Pakistan dengan dakwaan terorisme oleh AS, dan mengisyaratkan dia menuntut pembebasan keduanya sebagai imbalan pembebasan Somers.
Al-Ansi mengatakan perundingan pembebasan Korkie pun saat itu sedang berjalan, yang sebagian membenarkan pernyataan kelompok amal Afrika Selatan yang mengatakan sedang mencoba melakukan perundingan mewakili keluarganya.
Amerika Serikat mengatakan bahwa seorang sandera asing berada di lokasi yang sama dengan Somers tetapi tidak mengtahui identitasnya atau upaya pembebasan Korkie yang dilakukan diam-diam itu.
Presiden Obama bersikeras mendukung upaya pembebasan tersebut dengan mengatakan bahwa AS "tidak akan berhenti mempergunakan kemampuan militer, intelijen dan diplomatiknya untuk membawa pulang warga Amerika dengan selamat, di manapun mereka berada".