Ancaman Teror

Pengamat: Jangan Sepelekan Travel Warning Amerika

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Rabu, 07/01/2015 19:46 WIB
Pengamat: Jangan Sepelekan Travel Warning Amerika Amerika Serikat mengeluarkan peringatan berkunjung di Surabaya, seluruh aset AS di kota itu diperketat keamanannya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dan Australia mengeluarkan peringatan berkunjung ke Surabaya terkait ancaman terorisme yang diduga akan meningkat. Peringatan ini dikeluarkan setelah Kedutaan Besar kedua negara mendapatkan informasi yang dinilai kredibel soal pergerakan terorisme.

Peneliti terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib menilai travel warning dari kedua negara itu harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum agar tidak sampai kecolongan.

"Jangan sampai kita disebut kecolongan oleh negara lain. Ini tanah air kita yang menjaga juga harus kita sendiri," kata Ridlwan.


Menurut Ridlwan, AS dan Australia tidak sembarangan mengeluarkan peringatan tanpa informasi yang jelas. Kedua negara, lanjut dia, memiliki aset berupa informan dan intelijen, bisa dari anggota kelompok radikal garis keras, penegak hukum atau teroris yang dibina sebagai jaringan mereka.

Informasi ini kemudian disaring berdasarkan akurasi dan kredibilitasnya, berujung pada peringatan berkunjung.

"Jika diabaikan dan serangan benar-benar terjadi, negara kita akan dianggap gagal melindungi masyarakat oleh AS dan Australia," kata Ridlwan kepada CNN Indonesia, Rabu (7/1).

Ridlwan menjelaskan, intel dan informan Indonesia sebenarnya tidak kalah canggih dalam mengumpulkan informasi dengan data-data yang lebih detail dan lengkap ketimbang Amerika dan Australia. Namun pihak RI tentu saja tidak akan mengumumkan informasi ini dengan memberikan peringatan bagi warganya.

"Ketika misalnya intel kita punya data tentang kemungkinan adanya serangan atau eskalasi teror di Surabaya, Malang atau Sidoarjo, maka yang dilakukan adalah pencegahan secara diam-diam, bisa berarti penangkapan atau upaya netralisir," jelas Ridlwan.

Aksi sunyi ini, kata Ridlwan, dilakukan agar tidak muncul kepanikan di masyarakat.

"Harus seperti itu, karena jika tidak akan menimbulkan kepanikan. Informasi teror tidak bisa diumumkan secara terbuka, di tengah perekonomian yang sedang berjalan, investor bisa keluar dari Surabaya. Langkah polisi sudah tepat," lanjut Ridlwan. (den)