Peneliti terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib menilai travel warning dari kedua negara itu harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum agar tidak sampai kecolongan.
"Jangan sampai kita disebut kecolongan oleh negara lain. Ini tanah air kita yang menjaga juga harus kita sendiri," kata Ridlwan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi ini kemudian disaring berdasarkan akurasi dan kredibilitasnya, berujung pada peringatan berkunjung.
"Jika diabaikan dan serangan benar-benar terjadi, negara kita akan dianggap gagal melindungi masyarakat oleh AS dan Australia," kata Ridlwan kepada CNN Indonesia, Rabu (7/1).
Ridlwan menjelaskan, intel dan informan Indonesia sebenarnya tidak kalah canggih dalam mengumpulkan informasi dengan data-data yang lebih detail dan lengkap ketimbang Amerika dan Australia. Namun pihak RI tentu saja tidak akan mengumumkan informasi ini dengan memberikan peringatan bagi warganya.
"Ketika misalnya intel kita punya data tentang kemungkinan adanya serangan atau eskalasi teror di Surabaya, Malang atau Sidoarjo, maka yang dilakukan adalah pencegahan secara diam-diam, bisa berarti penangkapan atau upaya netralisir," jelas Ridlwan.
Aksi sunyi ini, kata Ridlwan, dilakukan agar tidak muncul kepanikan di masyarakat.
"Harus seperti itu, karena jika tidak akan menimbulkan kepanikan. Informasi teror tidak bisa diumumkan secara terbuka, di tengah perekonomian yang sedang berjalan, investor bisa keluar dari Surabaya. Langkah polisi sudah tepat," lanjut Ridlwan.