Diperkirakan, lebih dari 170 warga dinyatakan tewas dalam bencana banjir terbesar di negara yang terletak di sebelah tenggara benua Afrika ini.
Gift of the Givers, sebuah organisasi non-pemerintah Afrika yang mengkhususkan diri dalam penanganan bencana menyatakan hingga saat ini, setidaknya 100 ribu rumah hancur, dan 173 orang dikonfirmasi tewas akibat bencana banjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ladang pertanian, jalan, jembatan dan infrastruktur umum termasuk fasilitas listrik rusak parah. Listrik telah lama padam," lanjut pernyataan tersebut.
Presiden Malawi, Peter Mutharika, menyatakan jumlah korban tewas hingga Rabu (14/1) mencapai 48 orang.
Mutharika menyatakan Malawi dalam keadaan darurat bencana. Hingga Rabu (14/1) saja, 70 ribu orang telah mengungsi dan terpaksa meninggalkan rumah mereka.
"Tenda dan makanan sangat ini sangat dibutuhkan. Operasi penyelamatan juga menjadi prioritas," kata Mutharika.
Dokter Lintas Batas menyatakan kemungkinan penyebaran wabah penyakit dapat terjadi utamanya di tempat pengungsian, karena pasokan obat sangat terbatas.
Ancaman badai tropis
Gift of the Givers menyatakan banjir yang terjadi pada pekan ini merupakan akibat dari hujan deras tanpa henti yang diperburuk oleh badai tropis Bansi. Namun, badai tropis Chedza, juga diperkirakan akan menerjang Malawi pada Minggu (18/1) ini.
Badai Chedza diperkirakan mempunyai daya yang lebih merusak daripada badai Bansi. Badai Chedza juga diperkirakan akan menyebabkan hujan lebat dan banjir yang lebih besar," kata juru bicara Gift of the Giver.
Untuk menanggapi ancaman badai, pihak militer Malawi menyatakan telah menyelamatkan lebih dari 4.000 orang. Namun, diperkirakan banyak warga yang terjebak dalam wilayah yang tidak terjangkau tim penyelamat.
Program Pangan Dunia PBB menyatakan akan mengirimkan bahan makanan dan obat-obatan ke sejulah daerah, yang diperkirakan dapat membantu memberika makan sekitar 77.000 orang.
Malawi, dengan populasi penduduk mencapai 13 juta, adalah salah satu negara termiskin di dunia. Lebih dari 40 persen anak-anak diperkirakan menderita kurang gizi. (ama)