"Kepada semua anggota ISIS, Kenji (Goto) bukan musuh ISIS. Tolong lepaskan dia. Hanya sedikit waktu yang tersisa sampai tenggat waktu," ujar Ishido dalam sebuah pernyataan seperti dikutip CNN (23/1).
Ancaman yang dilontarkan ISIS melalui sebuah video pada Selasa (20/1) tersebut akan jatuh tempo pukul 14.50 waktu Tokyo hari ini, Jumat (23/1). Jika pemerintah Jepang tidak memberikan uang tebusan sebesar US$200 juta, kedua warganya, Goto dan Haruna Yukawa, akan dibunuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa ancaman tersebut juga merepotkan pemerintah Jepang, Ishido memanjatkan permohonan maaf. "Saya meminta maaf kepada pemerintah Jepang dan semua negara yang peduli atas masalah yang disebabkan anak saya," katanya.
Pemerintah Jepang telah melakukan segala upaya untuk berkomunikasi dengan ISIS. Namun, Kepala Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, menyatakan bahwa usaha tersebut tak berbuah hasil dan hingga Kamis (22/1) mereka belum mengetahui kondisi kedua sandera.
Kendati demikian, Jepang mengaku tidak menyerah dan akan terus mencoba berkomunikasi melalui orang ketiga seperti pemerintah setempat atau pemimpin suku-suku di Suriah.
"Kami akan menyelamatkan mereka secepatnya," kata Suga.
Namun, Suga kembali menekankan bahwa upaya penyelamatan ini dilakukan atas nama kemanusiaan, bukan alasan militer.
Secara konstitusional, Jepang dilarang mengambil aksi internasional kecuali untuk pertahanan negara. Oleh karena itu, Jepang tidak ikut campur dalam serangan udara internasional yang bersinergi untuk melawan ISIS.
Kendati demikian, tak menutup kemungkinan negara lain dapat membantu Jepang. Menurut Suga, Yordania akan membantu pengmanan pembebasan Goto dan Yukawa.
Laporan sebelumnya, permintaan tebusan lebih kecil
Salah satu media terpercaya Jepang mengabarkan, istri Goto pernah menerima surat elektronik yang berisi permintaan tebusan sebesar US$8 hingga 16 juta untuk pembebasan suaminya pada Desember lalu.
Pemerintah mencoba mencari konfirmasi apakah pengirim surat tersebut adalah ISIS. Jika ya, ada indikasi ISIS mau menerima tebusan lebih kecil. Namun, seperti dilansir CNN, pertanyaan yang tersisa sekarang adalah apakah pemerintah Jepang mau menggelontorkan dana untuk pembebasan para sandera.
ISIS terkenal dengan rekam jejak yang sangat kejam. Mereka tak segan merilis video pembunuhan para sandera sejak Agustus tahun lalu.
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, sendiri telah meluncurkan ultimatum atas penyanderaan kedua warga negaranya. Abe menganggap penyekapan tersebut tidak dapat diterima.
Namun, hingga kini pemerintah Jepang belum menyatakan dengan jelas apakah mereka mau membayar tebusan itu.