Harga bahan makanan yang luar biasa mahal itu terdapat di kota Iqaluit di wilayah Nunavut yang terletak di bagian paling utara Kanada. Kota itu terpencil, diselimuti salju sepanjang tahun dan rumah warga tersebar berjauhan.
Seorang warga bernama Israel Mablick kepada CBC, Minggu lalu, memperlihatkan isi kulkasnya yang nyaris melompong. Ada beberapa kerat daging anjing laut, satu bungkus margarin dan dua lembar roti. Ada juga jus, sekantung susu, sekarton telur dan sebungkus keju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga makanan di kota itu selalu mahal, karena ongkos distribusi yang selangit. Tidak adanya jalur darat di kota itu membuat pengiriman makanan dilakukan dengan kapal, selain lama juga biayanya sangat tinggi.
Sebuah laman Facebook bernama Feeding My Family menggambarkan betapa harga-harga makanan di kota itu kian tidak terjangkau. Di akun tersebut, terpampang foto-foto makanan di toko dengan label harga yang tidak masuk akal dibanding harga di negara kita.
Contohnya, seorang warga mengunggah gambar satu buah kol seberat 2,1kg yang dihargai $C28,54 atau lebih dari Rp285 ribu. "Warga tidak mampu membelinya!!" tulis komentar di bawahnya.
Harga satu buah kol seberat 2kg mencapai Rp285 ribu di kota Nunavut, Kanada. (Facebook/Feeding My Family) |
Empat buah jeruk seberat 1kg yang dihargai $C16,16, setara Rp161 ribu. Satu bungkus anggur hijau dihargai $C18,99 atau lebih dari Rp189 ribu.
Sebenarnya pemerintah Kanada telah memiliki program subsidi untuk mengurangi harga makanan yang sudah dilakukan sejak tahun 1960an. Lalu program ini diperbarui pada 2011 dengan cara subsidi berdasarkan bobot makanan yang dikirimkan ke komunitas-komunitas Arktik.
Namun Auditor Umum Kanada Michael Ferguson mengatakan bahwa Departemen Urusan Masyarakat Pribumi Kanada tidak memiliki tujuan komunitas yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Program tersebut hanya melihat para penerima subsidi versi lama, sementara bagian utara dikesampingkan.
"Akibatnya, ada komunitas lainnya yang terpencil di utara tidak diuntungkan dengan subsidi ini. Di wilayah ini, makanan bernutrisi yang terjangkau menjadi masalah," kata Ferguson.
Empat buah jeruk seberat 1kg Rp161 ribu di wilayah Nunavut. (Facebook/Feeding My Family) |
Dia mengaku sudah tidak bekerja sejak Oktober. Mablick adalah seorang pemahat tradisional yang terpaksa berhenti bekerja karena cuaca terlalu dingin. Akhirnya, dia harus menjual satu per satu barangnya demi menghidupi keluarganya.
"Hampir semuanya kami jual, perhiasan atau pahatan, apa saja," kata Mablick.
Untuk mengatasi kelaparan, Koalisi Keamanan Pangan Nunavut yang terdiri dari organisasi Inuit, komunitas sosial dan industri, mendorong warga untuk berburu. Praktik ini adalah cara tradisional yang dilakukan oleh suku Inuit di masa lampau, yaitu berburu hewan seperti rusa kutub, anjing laut atau ikan paus untuk diambil dagingnya.
Harga satu buah kol seberat 2kg mencapai Rp285 ribu di kota Nunavut, Kanada. (Facebook/Feeding My Family)
Empat buah jeruk seberat 1kg Rp161 ribu di wilayah Nunavut. (Facebook/Feeding My Family)