Diberitakan Reuters, Rabu (28/1), keluhan ini dikemukakan oleh komandan Kamp Seven, blok rahasia di Guantanamo yang menahan tahanan CIA dalam sesi dengar pendapat di pengadilan untuk menentukan apakah larangan itu akan tetap diberlakukan atau tidak.
Komandan yang dirahasiakan namanya itu mengatakan larangan tersebut dikeluarkan pengadilan pada November terhadap para sipir wanita atas permintaan Abd al Hadi al-Iraqi, anggota senior al-Qaidah yang terancam dakwaan kejahatan perang. Iraqi mengatakan, sentuhan wanita merupakan pelanggaran atas nilai-nilai agama yang dia anut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mempunyai slogan 'Satu tim, satu pertempuran'. Sekarang saya punya tim pria dan tim wanita yang terpisah," kata komandan dari Garda Militer Nasional tersebut.
Dalam pemeriksaan silang, pengacara pembela Letnan Kolonel Angkatan Laut Thomas Jasper Jr. mengatakan bahwa pemenuhan permintaan Iraqi hanya menyebabkan perubahan kecil dalam sistem penjagaan di Guantanamo.
Jasper menekankan bahwa di kemiliteran AS perbedaan aturan antara pria dan wanita sudah jamak dilakukan.
Di antaranya adalah standar latihan fisik wanita yang berbeda dengan pria, atau unit tentara wanita yang bertugas memeriksa kaum perempuan di Irak dan Afghanistan. Lagipula kemungkinan sipir wanita berinteraksi dengan Iraqi sangat kecil.
Masalah ini muncul pada Oktober lalu saat seorang tentara sipir wanita mencoba memborgol Iraqi untuk pertama kalinya sejak dia tiba di Guantanamo sejak 2007. Saat itu, Iraqi menolak dan baru mau diborgol oleh tentara pria.
Pengadilan kali ini diselenggarakan setelah para sipir wanita mengajukan gugatan diskriminasi gender terhadap Waits melalui Kementerian Perthaanan. (stu)