Insiden yang terjadi di pusat kota Kopenhagen itu adalah mimpi terburuk Vilk yang menjadi nyata. Pasalnya sejak delapan tahun lalu kartunis berusia 68 tahun itu memang menjadi incaran pembunuhan karena menggambar sosok yang disebutnya Nabi Muhammad.
Seperti editor Charlie Hebdo Stephane "Charb" Charbonnier yang tewas dalam penembakan 7 Januari lalu di Paris, Perancis, nama Vilk juga masuk dalam sembilan orang yang menjadi "buronan paling dicari" al-Qaidah yang dirilis di majalah Inspire atas "kejahatan terhadap Islam".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya kita bisa menghina semua agama dengan cara yang demokratis. Jika kau menghina satu agama, maka kau harus menghina agama yang lain," kata Vilks dalam sebuah wawancara dengan CNN.
Karya Vilks menuai kecaman dari Muslim di seluruh dunia, termasuk perwakilan negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Yordania, Afghanistan dan Mesir.
Tahun 2010, tujuh warga negara Irlandia ditahan karena berencana membunuh Vilks. Saat itu, pelaku menyerbu pemutaran film penghina Nabi Muhammad yang dihadiri Vilks.
Tahun 2011, tiga warga Swedia juga ditahan karena berencana membunuh Vilks. Di tahun ini juga, seorang warga Amerika Serikat Colleen LaRose atau yang dikenal dengan nama "Jihad Jane" dinyatakan bersalah atas upaya pembunuhan Vilks. Tahun 2014, LaRose dijatuhi vonis penjara 10 tahun.
Sejak membanjirnya ancaman pembunuhan terhadap Vilks, dia dilindungi polisi 24 jam. Helle Merete Brix, pendiri komite solidaritas terhadap Vilks, mengatakan kehidupan pria kelahiran tahun 1946 itu berubah drastis.
"Dia tidak bisa menjalani kehidupan normal lagi selama bertahun-tahun," kata Brix.
Dalam penembakan di Kopenhagen, Vilks dan Brix ditemukan polisi tengah bergandengan tangan bersembunyi ketakutan di sebuah gudang.
"Apa yang kami takutkan bisa terjadi," ujar Brix. (den)