Pada Senin (16/2), ISIS merilis sebuah video yang memperlihatkan eksekusi pemenggalan kepala 21 warga Kristen Koptik Mesir yang ditangkap di Libya.
Rekaman video eksekusi tersebut memperlihatkan kemampuan kelompok ini untuk memanfaatkan situasi yang tidak stabil di negara-negara Afrika Utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkembang di Libya sejak musim gugur
Dilaporkan CNN, ISIS pertama kali mengumumkan keberadaan mereka di Libya pada bulan Oktober lalu. Sebuah video amatir memperlihatkan sejumlah militan berpakaian serba hitam berada di Derna, dan berafiliasi dengan Dewan Syura untuk Pemuda Islam.
Dalam video tersebut, terlihat para militan menyanyikan kesetiaan mereka kepada Baghdadi. Sumber mengatakan kepada CNN, ISIS memiliki hingga 800 pejuang di daerah tersebut dan memiliki fasilitas pelatihan di sekitar Green Mountains.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah, karena terdapat laporan bahwa sebanyak 300 anggota ISIS di Irak dan Suriah datang ke Libya.
Beberapa saat kemudian, Baghdadi memproklamirkan tiga provinsi di Libya, yaitu Provinsi Barqa (di timur), Tripolitania (barat) dan Fezzan (selatan) sebagai bagian dari "kekhalifahan".
Sejak itu, ISIS kerap meningkatkan kehadirannya di Libya. Akhir bulan lalu, serangan bom bunuh diri dan serangan senjata di sebuah hotel di ibukota, Tripoli, menewaskan 10 orang, termasuk satu orang warga AS.
ISIS juga aktif di Libya selatan, menyerang sebuah pos pemeriksaan militer Libya di Sokhna pada bulan Januari yang menewaskan 16 orang.
Sementara afiliasi ISIS terus tumbuh di Afrika Utara, pengamat menilai kemampuan mereka masih jauh di bawah kelompok ISIS di Suriah dan Irak, baik dari segi birokrasi maupun dari segi struktur.
"Bahkan dalam kubu jihad dari Derna, (ISIS) tidak memimpin simpatisannya yang meluncurkan serangan mirip, namun tetap berbeda dengan ISIS," kata Geoff Porter, konsultan bencana di Afrika Utara, dikutip dari CNN.
SIS pertama kali mengumumkan keberadaan mereka di Libya pada bulan Oktober lalu. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani) |
Namun, seperti halnya di Irak dan Suriah, ISIS telah meluncurkan kampanye media sosial yang efektif di Libya. Kampanye ini juga merupakan sebuah upaya untuk menarik pejuang berpengalaman dari kelompok lain, seperti Ansar al-Sharia.
Afiliasi ISIS di Libya juga mulai melaksanakan beberapa bentuk kontrol sosial di sejumlah daerah.
"Kelompok ini telah mempublikasikan kegiatan radikal, seperti membakar karton rokok, menghancurkan pipa air yang digunakan untuk merokok, menghancurkan patung-patung dan kuil," kata Andrew Engel dari Washington Institute.
"Terorisme menjadi masalah di timur Libya. Ancaman ini mulai menyebar ke bagian barat dan selatan. Dari bagian barat, mereka bisa pergi ke Tunisia dan Aljazair," kata Bernardino Leon, utusan PBB di Libya.
Diperkirakan, terdapat ratusan warga Tunisia yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak, dan pemerintah memperkirakan sejumlah militan radikal terdapat di Pegunungan Chaambi.
Pemberontakan ramai di Semenanjung Sinai
Meskipun Libya menjadi negara di Afrika Utara yang paling menonjol dalam ekspansi ISIS, simpatisan kelompok militan ini juga kerap menebarkan pemberontakan di Semenanjung Sinai, Mesir.
Kelompok pemberontak utama di Sinai merupakan sayap ISIS yang ditugaskan di provinsi tersebut, yaitu Ansar Beit al-Maqdis.
Akhir bulan Januari lalu, kelompok tersebut menewaskan sedikitnya 30 orang dalam serangkaian serangan terkoordinasi pada pos-pos keamanan. Akibat serangan tersebut, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengerahkan kekuatan militer di Sinai.
Dengan pemerintah yang didominasi militer di Kairo, simpatisan ISIS di Provinsi Sinai berpotensi menjadi semakin kuat.
"Jika pemerintah Mesir terus beroperasi militer, akan lebih banyak anggota militan lokal yang memperkuat ISIS di Sinai," kata pakar gerakan jihad, Aaron Zelin.
Nigeria, Afghanistan dan Pakistan
Sementara, perkembangan yang paling menarik dalam beberapa bulan terakhir adalah kelompok pemberontak Boko Haram yang terlihat ingin segera mengibarkan bendera ISIS di Nigeria.
Boko Haram telah menguasai beberapa daerah dan berencana untuk mendirikan kekalifahan sendiri di Nigeria utara. Selain itu, pemimpin kelompok Boko Haram, Abu Bakr Shekau, telah mengungkapkan kekagumannya pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.
Meskipun pergerakannya kecil, ISIS juga mengembangkan sayap hingga ke Pakistan dan Afghanistan, khususnya di Provinsi Khorasan. Salah satu simpatisan ISIS adalah mantan komandan Taliban, Mullah Abdul Rauf, yang tewas pekan lalu dalam serangan pesawat tak berawak di Provinsi Helmand.
Beberapa komandan Taliban Pakistan juga diduga telah berbaiat kepada Baghdadi, meskipun belum jelas apakah dukungan mereka terkait dengan pecahnya kedua kelompok militan tersebut dalam dua tahun terakhir.
Untuk saat ini setidaknya, Libya menjadi negara yang berpotensi kuat menjadi negara incaran ISIS, dengan kurangnya kendali dari pemerintah Libya dan longgarnya daerah perbatasan. (ama)
SIS pertama kali mengumumkan keberadaan mereka di Libya pada bulan Oktober lalu. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)