Tunisia Tangkap 100 Simpatisan ISIS

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Selasa, 24/02/2015 19:58 WIB
Tunisia Tangkap 100 Simpatisan ISIS Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Habib Essid, Tunisia tengah melancarkan kampanye melawan kelompok militan yang muncul di negara itu selama masa transisi menuju demokrasi setelah pemberontakan terhadap otokrat Zine El Abidine Ben Ali pada tahun 2011. (Reuters/Zoubeir Souissi)
Tunis, CNN Indonesia -- Dalam tiga hari terakhir, pasukan keamanan Tunisia menangkap sekitar 100 orang yang diduga simpatisan kelompok militan ISIS.

Diwartakan Reuters, beberapa orang yang ditahan tertangkap ketika tengah menyiapkan serangan. Pejabat keamanan juga menerbitkan rekaman video yang menunjukkan bukti pengaruh ISIS kepada beberapa dari mereka yang ditahan.

"Dalam tiga hari terakhir kami menggagalkan operasi teroris dan menangkap sekitar 100 elemen jihad," kata Mohamed Ali Aroui, juru bicara Kementerian Dalam Negeri, dikutip dari Reuters, Selasa (24/2).


Aroui menyatakan pasukan keamanan telah menangkap sebuah sel militan di kota Hammam Ghzaz yang sedang mempersiapkan bahan peledak yang akan digunakan untuk menyerang berbagai gedung keamanan di kota itu.

Sebuah video yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri Tunisia di Facebook menunjukkan bahwa sel militan tersebut memiliki instruksi untuk membuat bahan peledak dan gambar pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.

Berita penangkapan simpatisan ISIS tersebut menyusul insiden pembunuhan empat polisi Tunisia oleh anggota kelompok militan di wilayah tengah Kasserine, dekat perbatasan Aljazair.

Kelompok militan ISIS telah memperluas sayapnya hingga Libya, dengan memanfaatkan ketiadaan hukum dan konflik sejumlah faksi yang mengklaim pemerintahan Libya.

Para pakar menilai kehadiran ISIS di Libya dapat membuka jalan bagi kelompok militan tersebut untuk mengusai Afrika utara dan bahkan menyebrang ke Eropa.

Tunisia juga disinyalir menjadi sumber utama pejuang asing ISIS yang kemudian ikut berperang ke Suriah sejak 2011.

Diperkirakan, sebanyak 3.000 warga Tunisia telah bergabung dan berperang bersama ISIS di Suriah. Ratusan di antaranya diduga telah kembali ke Tunisia, meskipun banyak militan yang telah dilacak dan ditangkap.

Pemerintah Tunisia tengah melancarkan kampanye melawan kelompok militan yang muncul di negara itu selama masa transisi menuju demokrasi setelah pemberontakan terhadap otokrat Zine El Abidine Ben Ali pada tahun 2011.

Salah satu kelompok militan di Tunisia yang muncul setelah pemberontakan tersebut adalah Ansar al-Sharia, kelompok yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh AS dan pejabat Eropa.

Diduga, sarang utama dari kegiatan militan adalah pegunungan Chaambi yang berbatasan dengan Aljazair. Daerah tersebut dinilai sebagai tempat anggota militan berlindung setelah melarikan diri dari serangan militer Perancis di Mali pada tahun lalu.

Pemerintah Tunisia mengklaim telah mengerahkan ribuan tentara ke daerah tersebut. (ama/ama)


ARTIKEL TERKAIT