Dalam sebuah wawancara awal Februari lalu dengan Christiane Amanpour dari CNN, Didier Francois, menceritakan pengalaman mengerikannya selama disekap ISIS.
Francois menceritakan penyiksaan yang ia alami sekaligus yang ia saksikan dilakukan ISIS terhadap warga lokal yang menyetujui paham keras kelompok itu.
Ketika disekap, Francois juga mengatakan ia mengenal Jihadi John, yang terkenal dengan aksen Inggrisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda bisa lihat di video—anda tak mau berurusan dengan dia.”
Para jihadi asal Inggris, dijuluki "The Beatles" oleh para sandera, “lebih kejam dalam kekerasan mereka," katanya.
Mereka, katanya, lebih ekstrim. Mereka memberi para tawanan makanan yang lebih baik, namun juga memukul dengan lebih keras.
Jihadi dari bekas koloni Perancis di Afrika Utara, yang dikenal sebagai Maghreb, juga relatif lebih keras dalam memperlakukan tawanan Perancis, kata Francois.
Francois dibebaskan sebelum ISIS menyapu bersih Irak, menguasai sejumlah besar wilayah di negara itu pada musim panas tahun lalu.
Melihat kondisi belakangan, menurutnya, ia percaya ia bersama tiga rekannya tidak akan dibebaskan jika mereka masih berada di tangan ISIS, “terutama dengan keterlibatan Perancis dalam koalisi dan pengeboman di Irak."
“Kami beruntung.”
Ketika ia pergi ke Suriah, katanya kepada Amanpour, penangkapan wartawan atau pekerja LSM tidak dilaporkan, sehingga sulit untuk mengetahui betapa berbahaya kondisi saat itu. (stu)