Survei: Venezuela Negara Paling Terdampak Resesi Ekonomi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 07/03/2015 10:59 WIB
Survei: Venezuela Negara Paling Terdampak Resesi Ekonomi Warga Venezuela mengantri untuk beli kertas toilet dan popok bayi di sebuah supermarket di Caracas, 19 Januari 2015. (Reuters/ Jason Reed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Venezuela, Argentina, Afrika Selatan, Ukraina dan Yunani menempati posisi lima teratas dalam daftar negara paling terimbas dari buruknya perekonomian global menurut Misery Index 2015, seperti dilansir dari Bloomberg, Sabtu (7/3).

Merujuk pada data keluaran Bloomberg News Survey tersebut, angka pengangguran yang melejit ditambah dengan tingkat inflasi tinggi ditengarai menghantam parah negara-negara di dunia.

Menempati posisi puncak, Venezuela baru saja memasuki masa resesi dan perekonomiannya diperkirakan bakal merosot 7 persen tahun ini, merujuk data International Monetary Fund (IMF).


Di antara seluruh negara di Amerika, Venezuela memiliki tingkat inflasi tahunan paling tinggi, yaitu 63,3 persen.

Venezuela adalah pemegang cadangan minyak terbesar di dunia. Ketika harga minyak dunia jatuh, Venezuela kekurangan uang untuk mengimpor barang-barang kebutuhan dasar.

Akibatnya, rakyat harus membentuk antrean mengular selama berjam-jam di luar supermarket demi mendapatkan sekantong detergen, tisu toilet atau minyak masak. Saking parahnya kekurangan di Venezuela, sampai-sampai Trinidad dan Tobago menawarkan pertukaran kertas tisu untuk minyak.

Di belakang Venezuela, Argentina menyusul dengan tingkat perekonomian yang disinyalir akan menyusut 1,4 persen dari tahun lalu sebelum diperkirakan tumbuh 2,6 persen pada 2016. Kejatuhan ekonomi kedua terbesar di Amerika Selatan ini adalah kegagalan pada Juli lalu, setelah bertahun-tahun Argentina berperang melawan utang.

Berusaha untuk mempertahankan cadangan internasional yang jatuh ke level terendah sejak delapan tahun pada April lalu, pemerintah Argentina akhirnya meningkatkan batas impor. Hal ini, menurut Bloomberg, menyulitkan produsen mendapatkan pasokan.

Di posisi ketiga, Afrika Selatan masih berusaha pulih dari resesi yang menghantam negara tersebut pada 2009 lalu. Afrika Selatan baru saja menurunkan target peningkatan ekonomi dari 2,5 persen pada Oktober lalu menjadi 2 persen di tahun 2015. Pemadaman listrik yang kini sudah lumrah di Afrika Selatan diprediksi masih akan berlanjut hingga tiga tahun ke depan.

Meskipun gencatan senjata sudah dilakukan, namun ketegangan dengan pemberontak Rusia membuat pengangguran di Ukraina terus meningkat dan menyebabkan negara ini duduk di posisi keempat. Menurut Bloomberg, tingkat pengangguran akan menanjak dari 8,9 persen pada kuartal ketiga 2014 menjadi 9,5 persen. Tak hanya pengangguran, tingkat inflasi di Ukraina juga akan meningkat hingga 17,5 persen pada 2015 dari angka 24,9 persen pada Desember lalu.

Kendati demikian, Ukraina mengalami peningkatan jika dilihat hasil survei tahun lalu yang menunjukkan bahwa negara ini bertengger di posisi kedua dalam 2015 Misery Index.

Peringkat lima diisi oleh Yunani. Di negara ini, utang publik setara 177 persen dari GDP, tingkat tertinggi di Eurozone. Tingkat pengangguran di negara ini disebut Bloomberg sangat menyedihkan, yaitu 25,8 persen. Lebih dari separuh warga Yunani yang berusia 15 hingga 24 tahun tidak memiliki pekerjaan.

Yunani sedang berada di ambang meninggalkan Eurozone dan pemerintah harus membayar 1,5 miliar Euro kepada IMF dalam beberapa tahap bulan ini, dimulai dengan 300 juta Euro setidaknya pada Jumat (6/3).

Sementara itu, Indonesia menempati posisi bontot dalam daftar 15 negara paling sengsara menurut indeks Bloomberg ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren perlambatan ekonomi di Indonesia telah berlangsung sejak 2013. Tercatat pada kuartal I 2013, laju PDB Indonesia sebesar 5,99 persen dan kemudian menyusut pada tiga kuartal berikutnya, masing-masing menjadi 5,85 persen, 5,76 persen dan 5,73 persen.

Perlambatan semakin terjadi pada 2014, di mana pada kuartal I tercatat hanya tumbuh 5,16 persen. Penurunan pertumbuhan paling dalam terjadi pada kuartal IV 2014, dengan hanya tumbuh 5,06 persen. (utd/utd)


ARTIKEL TERKAIT