Menurut juru bicara Angkatan Laut Chris Haley, dikutip dari Business Insider, Jumat (13/3), militer AS saat ini memiliki 85 lumba-lumba dan 50 anjing laut terlatih untuk berjaga di perairan sekitar Kitsap. Tugas para mamalia laut ini adalah menjaga pelabuhan dan perairan sekitar dari penyusup dari dasar laut.
Mereka dilatih beberapa hal untuk merespon jika ada penyusup yang masuk. Salah satunya adalah memberitahu titik pertemuan mereka dengan penyusup, atau hewan ini bisa dilengkapi penembak yang meluncurkan alat pelacak pada penyusup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menjadikan Bangor sebagai gudang senjata nuklir terbesar di Amerika Serikat, bahkan mungkin di seluruh dunia," tulis Seattle Times pada 2006.
Lumba-lumba yang dilatih untuk keperluan militer bukan sesuatu yang baru. Tahun 1960an, lumba-lumba telah dilatih untuk mempelajari soal hidrodinamika. AL Amerika bersikeras bahwa hewan ini tidak dilatih untuk melukai manusia.
Namun pada saat perang di Vietnam dan Teluk Persia, lumba-lumba digunakan untuk berjaga jika ada kapal atau penyelam yang mendekat. Biasanya pada tubuh mereka dilekatkan bahan peledak.
Uni Soviet juga sempat mengembangkan program lumba-lumba militer. Program ini kemudian ditransfer ke Ukraina usai Soviet runtuh. Setelah krisis di Crimea terjadi tahun 2014, program ini ditransfer lagi ke Rusia, seperti diberitakan Sputnik. (den)