Diberitakan Saudi Gazette, Minggu (15/3), pemimpin komunitas Rohingya di Arab Saudi Abu Al-Shamie Abdulmajeed mengatakan mimpi mereka jadi nyata untuk menjadi warga yang sah di negara itu. Hal ini berkat langkah kerajaan Saudi mengakui keberadaan Rohingya di negara itu.
Sementara Arab News memberitakan, sekitar 4 juta warga Rohingya di Saudi kini berhak untuk mendapatkan iqama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan iqama ini, kata Abdulmajeed, berbagai permasalahan yang menimpa Rohingya di Saudi akan sirna. Kini, warga Rohingya bisa bekerja, mendapatkan layanan medis dan menempuh pendidikan di sekolah pemerintah serta hak-hak warga negara lainnya.
"Kami sekarang bisa bergerak bebas dan bergabung dengan sistem pendidikan umum, tidak lagi belajar di sekolah sumbangan swasta," kata Abdulmajeed.
Sejak tahun 1968 pemerintah Saudi mendukung kaum Rohingya, ditandai dengan penerimaan imigran pertama dari Myanmar oleh Raja Abdul Aziz. Izin tinggal tetap dikeluarkan untuk Rohingya di Saudi tahun 1980 pada pemerintahan Raja Saud.
Saudi memasukkan Rohingya sebagai pendatang yang dilindungi. Artinya mereka kebal beberapa hukum dari peraturan kependudukan dan tidak ada yang boleh menyakitinya.
Mayoritas Rohingya tinggal di Mekkah, kebanyakan bekerja di sektor konstruksi atau mengajarkan hafalan al-Quran.
Abdulmajeed, seperti warga Rohingya lainnya, sudah mengubur harapan untuk kembali ke tanah kelahiran mereka di Myanmar. Menurut dia, impiannya untuk pulang sirna karena penganiayaan terhadap mereka masih terjadi di negara itu.
"Mimpi kembali ke Myanmar telah sirna dari hati komunitas Rohingya karena ketiadaan paspor, terutama karena duta besar Pakistan dan Bangladesh menolak memberikannya. Ketakutan akan pengadilan dan penyiksaan terhadap Muslim juga membuat mimpi ini mustahil diwujudkan saat ini," kata Majeed. (den)