Opas Charnsuksai, 67 tahun, ditangkap pada bulan Oktober dan didakwa dengan kejahatan kenegaraan karena grafiti yang dia tulis dalam bilik toilet sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok dinilai menghina raja.
Dalam sistem hukum Thailand, tindakan apapun yang dinilai menghina raja terangkum dalam kerangka hukum lese majeste, dianggap tindakan kriminal dan dapat dipidanakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulan Februari lalu, Pengadilan Thailand menjatuhkan hukuman dua tahun enam bulan kepada dua mahasiswa yang mengaku bersalah karena menghina Raja Bhumibol Adulyadej dalam sebuah pertunjukkan drama kampus.
Keputusan ini menuai aksi protes yang diluncurkan oleh puluhan aktivis di luar gedung pengadilan. Sekitar 40 mahasiswa berkumpul di luar pengadilan mengenakan kemeja putih dengan kata-kata "Kami adalah teman" dalam bahasa Thailand dan Inggris.
Pemerintahan junta militer Thailand dimulai pada Mei tahun lalu, setelah Prayuth Chan-ocha meluncurkan kudeta dan kini menjabat sebagai Perdana Menteri.
Sejak dinyatakan dalam keadaan darurat militer, pemerintah Thailand berjanji akan menumpas pelaku penghinaan kerajaan dan pengkritik monarki.
Pemerintahan junta militer, yang dikenal dengan nama Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban menetapkan bahwa semua kejahatan kenegaraan dan kasus keamanan nasional akan diadili di pengadilan militer.
Sementara, Raja Bhumibol Adulyadej, 87 tahun, sangat dihormati oleh banyak warga Thailand. Raja yang paling lama memerintah di dunia ini telah lama dipandang sebagai sosok persatuan di atas keributan politik.
Kondisi kesehatan Raja Bhumibol, yang semakin lama semakin menurun telah melahirkan persaingan politik dan kekuasaan dari pendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra dan royalis militer.
Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn bahkan dinilai belum mempunyai popularitas dan dukungan rakyat seperti yang dimiliki ayahnya. (ama)